KONTAN.CO.ID – JAKARTA. SBN ritel diproyeksikan memiliki prospek yang positif pada semester II-2026. Salah satunya karena potensi kupon yang ditawarkan di tengah tren suku bunga tinggi. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, prospek kupon SBN ritel pada semester II-2026 cenderung lebih tinggi atau setidaknya tetap kompetitif karena tekanan yield belum mereda kuat. Pasar pendapatan tetap masih menunjukkan biaya modal mahal, dengan BI Rate berada di 5,75%, yield obligasi pemerintah tenor pendek-menengah tinggi, dan risiko sovereign belum turun merata.
“Ini berarti pemerintah perlu menawarkan kupon yang cukup menarik agar SBN ritel tetap terserap, khususnya jika investor punya alternatif deposito, obligasi korporasi, reksa dana pendapatan tetap, atau SBN seri sebelumnya,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Jumat (3/7/2026). Faktor lain yang menopang kupon tinggi ialah rupiah yang masih rentan, defisit perdagangan Mei sebesar US$ 1,61 miliar, ekspor yang turun, impor yang naik, serta inflasi Juni 3,34%. Selama kombinasi ini belum membaik, pasar akan meminta kompensasi risiko lebih besar.
Baca Juga: Berbagai Instrumen Investasi Tertekan, Analis Sarankan Akumulasi Aset Ini “Karena itu, kupon SBN ritel semester II-2026 kemungkinan tetap berada pada level menarik, terutama untuk seri fixed rate baru, selama pemerintah ingin menjaga minat investor ritel dan memperluas basis pembiayaan domestik,” kata Syafruddin. Syafruddin menyebut, SBN ritel masih menarik sebagai salah satu portofolio investasi di tengah tren suku bunga naik, tetapi daya tariknya harus dibaca lebih selektif. Ketika yield SBN naik, investor ritel memperoleh peluang membeli instrumen negara dengan kupon lebih tinggi, risiko gagal bayar relatif rendah, dan arus kas kupon yang lebih pasti. Data pasar terbaru menunjukkan biaya dana negara masih mahal. Berdasarkan data PHEI, yield SBN tenor 3 tahun sebesar 7,14%, tenor 5 tahun sebesar 7,13%, dan tenor 10 tahun sebesar 7,10%. Menurut Syafruddin, angka ini menunjukkan bahwa SBN ritel yang diterbitkan saat yield pasar tinggi berpotensi menawarkan kupon lebih kompetitif. Meski begitu, investor tidak boleh melihat SBN ritel sebagai instrumen tanpa risiko pasar. Untuk SBN ritel yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder, harga bisa turun jika yield naik lagi. Untuk seri yang tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder, investor perlu siap memegang hingga jatuh tempo atau memanfaatkan fasilitas early redemption. “Jadi, SBN ritel tetap menarik bagi investor yang mencari pendapatan tetap, stabilitas, dan diversifikasi, tetapi pembelian perlu disesuaikan dengan tenor, kebutuhan likuiditas, dan ekspektasi arah suku bunga,” terang Syafruddin.
Baca Juga: Pasar Keuangan Indonesia Semester II 2026 Masih Diselimuti Tantangan, Ini Kata Analis Direktur Pembiayaan Syariah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Deni Ridwan mengatakan bahwa pemerintah bersama para mitra distribusi dan stakeholder terkait akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan dalam setiap penerbitan SBN ritel, baik dari sisi desain produk, strategi pemasaran, edukasi investor, maupun penguatan kanal distribusi digital. Pemerintah juga akan terus mencermati perkembangan pasar dan kebutuhan pembiayaan APBN agar penerbitan SBN ritel berikutnya tetap relevan dan kompetitif. “Kami optimistis SBN ritel masih akan menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi masyarakat dalam rangka diversifikasi portofolio instrumen investasinya,” ucap Deni. Sebab, lanjut Deni, selain memberikan manfaat finansial bagi investor, SBN ritel juga membuka ruang partisipasi masyarakat dalam mendukung pembiayaan APBN dan pembangunan nasional. Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William menilai SBN ritel mempunyai prospek positif bagi investor secara umum maupun yang memiliki preferensi syariah. Sebab, instrumen ini dapat menjadi alternatif investasi jangka menengah yang menjanjikan passive income setiap bulan dan 100% dijamin negara. Hal ini juga dapat dilihat dari minat investasi pada SBN ritel sebelumnya, yakni ST016. “Animo dan kepercayaan masyarakat terhadap SBN ritel sangat tinggi,” kata William. Seperti diketahui, masih terdapat empat penerbitan SBN ritel pada tahun 2026. Antara lain yang terdekat adalah Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang akan ditawarkan pada 6 Juli–30 Juli 2026. Sukuk Ritel (SR) seri SR025 akan ditawarkan pada 21 Agustus–16 September 2026.
Baca Juga: IHSG Turun 0,35% dalam Sepekan, Ini Sentimen Penyebabnya Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 akan ditawarkan pada 28 September–22 Oktober 2026. Serta Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 yang akan ditawarkan pada 6 November–2 Desember 2026. Dari empat seri tersebut, ORI dan SR memiliki karakteristik kupon tetap (fixed rate) dan bisa diperjualbelikan di pasar sekunder. Sementara SBR dan ST memiliki karakteristik floating with floor (kupon bisa naik jika suku bunga naik, tetapi tidak akan turun) dan tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder. Namun, investor dapat mengajukan pencairan sebelum jatuh tempo hingga maksimal 50% melalui fasilitas early redemption. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News