Tripatra, Pemerintah & Pelaku Industri Percepat Transisi Energi & Hilirisasi Mineral



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tripatra Engineers and Constructors  mendukung pemerintah mempercepat  transisi energi dan hilirisasi mineral nasional. Salah satu upayanya,  berkolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). 

Presiden Direktur & CEO PT Tripatra Engineers and Constructors Raymond Naldi Rasfuldi, mengatakan, perusahaan yang bergerak di bidang rekayasa teknik, pengadaan, dan konstruksi (EPC) serta operations & maintenance (O&M) itu mendorong perubahan transformasional dan berkelanjutan.

"Kami ikut berkontribusi dalam membangun kapabilitas nasional dan memajukan sektor ini bersama-sama dengan pemerintah dan pelaku industri lainnya," jelas Raymond, dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Jumat (24/3). 


Baca Juga: Kucuran Kredit Hijau Perbankan Mengalir Semakin Deras

Transisi energi menjadi salah satu upaya menjaga ketahanan energi dan mewujudkan ekonomi hijau di Indonesia guna mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 dan pengurangan 32% emisi pada 2030.

Pemerintah telah meningkatkan target komposisi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam bauran energi menjadi sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Hendra Iswahyudi menyatakan pihaknya mempercepat transisi energi dengan membentuk ekosistem yang sinergis dan terintegrasi antara pemerintah, media, akademik, industri dan masyarakat.

“Diharapkan melalui sinergitas ini dapat bersama-sama mengambil peran dalam mendorong percepatan transisi energi yang berkelanjutan di Indonesia,” ujar Hendra.

Baca Juga: Gas Jadi Sumber Alternatif Transisi Energi, Begini Cadangan dan Prospeknya

Selain transisi energi, hilirisasi mineral juga tidak kalah penting. Hilirisasi merupakan strategi meningkatkan nilai tambah komoditas suatu negara. Dengan hilirisasi, komoditas yang diekspor tidak lagi berwujud bahan baku mentah tetapi sudah menjadi barang setengah jadi.

Salah satunya kebijakan hilirisasi dan pelarangan ekspor nikel mentah (bijih nikel) yang berhasil mendongkrak nilai tambah ekspor produk nikel Indonesia. Harga nikel yang telah diolah di smelter dapat memiliki nilai tambah hingga lebih 300 kali dibandingkan bijih nikel.

Adanya hilirisasi diharapkan dapat memperkuat struktur industri, serta meningkatkan peluang usaha dalam negeri dengan tersedianya lapangan pekerjaan baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Ahmad Febrian