Triputra Agro Persada Perkuat Antisipasi Karhutla di Tengah Ancaman El Nino 2026



KONTAN.CO.ID - KALIMANTAN TENGAH. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat meningkat seiring kondisi iklim lebih kering akibat fenomena El Niño pada paruh kedua 2026.

Langkah tersebut dilakukan melalui anak usahanya, PT Gawi Bahandep Sawit Mekar (GBSM), yang mengelola salah satu site perseroan di Kalimantan Tengah.

Kesiapsiagaan karhutla di GBSM didukung oleh 585 personel satgas pengendalian karhutla yang terdiri dari satgas estate, regu inti, dan regu pendukung.


Japatar Banjarnahor, General Manager Region Kalteng dan Sumatera TAPG mengatakan, penguatan kapasitas personel dilakukan melalui pelatihan, simulasi, dan drill penanggulangan karhutla secara berkala.

GBSM juga memiliki pengalaman panjang dalam penguatan kompetensi penanganan karhutla melalui kerja sama pelatihan dengan Manggala Agni sejak 2016 hingga saat ini.

Dalam materi perusahaan, tercatat sekitar 79 personel telah mendapatkan pelatihan Manggala Agni sejak 2016.

Baca Juga: Tak Sekadar Ekstraksi, Inilah Babak Baru Peta Jalan Industri Pertambangan Indonesia

Melalui pelatihan tersebut, personel tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai prosedur penanganan kebakaran, tetapi juga praktik penggunaan peralatan serta koordinasi dan respons dalam penanganan kondisi darurat di lapangan.

“Kesiapsiagaan tersebut juga diperkuat melalui patroli gabungan bersama pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat di sekitar wilayah operasional,” ujarnya saat ditemui KONTAN, Kamis (27/8/2026).

GBSM menerapkan Early Warning System (EWS) hotspot yang memanfaatkan deteksi satelit. Informasi mengenai titik panas disampaikan secara real-time yang dilengkapi status kewaspadaan dan peta koordinat.

Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pemeriksaan langsung atau ground check oleh petugas lapangan untuk memastikan kondisi aktual di lokasi.

Patroli juga dilakukan berdasarkan tingkat kerawanan atau Fire Danger Rating (FDR), dengan frekuensi patroli yang disesuaikan dari kondisi rendah hingga ekstrem.

Sistem deteksi tersebut didukung berbagai sarana pengendalian karhutla di GBSM, antara lain 146 papan FDR, 89 embung air, 45 menara pantau api, dan 9 unit drone.

“Keberadaan sarana tersebut membantu memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan di wilayah operasional,” ungkapnya.

Lebih lanjut, peran masyarakat dalam pencegahan karhutla diwujudkan melalui Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) dan Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

KTPA dibentuk bersama Dinas Perkebunan setempat dan mendapatkan pelatihan dari Manggala Agni. Program ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan pencegahan karhutla, mulai dari pemantauan kondisi wilayah, patroli, edukasi, hingga kesiapsiagaan apabila ditemukan potensi kebakaran.

Sementara itu, DMPA dikembangkan dengan pendekatan yang menghubungkan pencegahan karhutla dengan penguatan ekonomi masyarakat desa.

Melalui DMPA, masyarakat dan BUMDes didampingi untuk mengembangkan unit usaha produktif seperti pertanian, peternakan, perikanan, usaha kecil, dan kegiatan ekonomi lainnya.

 
TAPG Chart by TradingView

Program tersebut dilengkapi dengan Reward Desa Bebas Kebakaran sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi masyarakat dalam menjaga wilayahnya dari risiko kebakaran.

“Pendekatan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara beriringan,” paparnya.

Melansir dokumen di laman resmi TAPG, total luasan lahan tertanam, baik inti maupun plasma, milik perseroan mencapai 159,7 ribu hektar per Juni 2026. Luasan tersebut juga termasuk lahan tertanam untuk perusahaan terafiliasi.

Rinciannya, lahan inti seluas 132,8 ribu hektar dan plasma 26,9 ribu hektar. Rata-rata usia tanaman milik TAPG adalah 14,6 tahun. Wilayah perkebunan milik perseroan tersebar di wilayah Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Pada semester I 2026, produksi tandan buah segar (TBS) turun 1% year on year (YoY), sedangkan produksi minyak kelapa sawit (CPO) naik 3% YoY.

Manajemen TAPG meyakini tren pertumbuhan produksi meningkat sepanjang semester II 2026.

“Dampak El Niño yang menyebabkan iklim yang lebih kering di paruh kedua 2026 baru akan tampak pada hasil produksi di tahun 2027,” tulis manajemen dalam laporan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News