KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Energi Pangan (SEP), perusahaan di bawah Triputra Group, memperluas program pendampingan budidaya jagung melalui penambahan delapan
Crop Edu Center(CEC) sepanjang Mei hingga Juni 2026. Penambahan pusat edukasi tersebut dilakukan di Kabupaten Dompu dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Boalemo di Provinsi Gorontalo. Dengan ekspansi tersebut, SEP kini memiliki 13 CEC sejak program tersebut diluncurkan pada akhir 2024. Secara kumulatif, sekitar 2.800 petani telah mengikuti program dengan cakupan lahan terdampak mencapai 4.000 hektare hingga 5.000 hektare.
Khusus delapan CEC yang dibentuk sepanjang Mei-Juni tahun ini, perusahaan melibatkan 323 petani dengan luas lahan pendampingan sekitar 500 hektare. Sustainability & Partnership Department Head PT Sumber Energi Pangan, Wesly Altie Hasibuan mengatakan, peningkatan produktivitas jagung tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan sarana produksi. Petani juga membutuhkan pendampingan hingga akses terhadap pasar. "Peningkatan produktivitas tidak dapat dicapai hanya melalui penyediaan sarana produksi. Dibutuhkan ekosistem yang mampu mendampingi petani dari belajar, praktik, hingga kepastian pemasaran," kata Wesly dalam keterangannya, Selasa (28/2026).
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Mengerek Harga Pupuk Urea Global, Ini Kata Petani Jagung Program tersebut mencakup penerapan
Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP), demonstrasi plot atau demplot, serta pemantauan dan evaluasi lahan. Pendampingan juga dilakukan mulai dari persiapan lahan, penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga proses panen dan pascapanen. Menurut perusahaan, program tersebut telah mendorong peningkatan pemahaman teknis budidaya petani sebesar 46% setelah mengikuti pelatihan GAP dan GHP yang disertai pendampingan lapangan. SEP juga mengembangkan model
inclusive closed-loop system yang menghubungkan petani dengan pemerintah, penyuluh, perusahaan, lembaga pembiayaan hingga offtaker. Model tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus memberikan akses pasar kepada hasil produksi petani. "Melalui Crop Edu Center, kami membangun model kemitraan yang memungkinkan seluruh rantai nilai pertanian bekerja secara terintegrasi sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani," ujar Wesly. Dalam pelaksanaannya, SEP menggandeng sejumlah perusahaan dan organisasi untuk transfer teknologi serta peningkatan kapasitas petani, di antaranya Saprotan Utama, Syngenta, Bayer, Cargill, Save the Children, dan Cis Timor. Sales Executive PT Syngenta Indonesia Teguh Maynurrobi menilai program tersebut dapat menjadi sarana untuk mempercepat penerapan teknologi dan penggunaan benih berkualitas di tingkat petani. "Melalui edukasi, demonstrasi teknologi, dan pendampingan lapangan, petani bisa menerapkan budidaya dengan benih berkualitas," kata Teguh.
Selain peningkatan produktivitas, perusahaan melihat model pendampingan tersebut dapat memperkuat kepastian pasokan jagung bagi
offtaker. Dari sisi petani, akses terhadap input pertanian, pembiayaan, teknologi dan pemasaran juga diharapkan semakin terbuka. SEP berencana melanjutkan penambahan CEC di sejumlah wilayah. Perusahaan menargetkan perluasan pusat pembelajaran tersebut dapat mempercepat adopsi teknologi budidaya sekaligus mendukung peningkatan produktivitas jagung nasional.
Baca Juga: Harga Jagung Naik, Petani Nikmati Panen Raya Terbaik Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News