KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada pertengahan Mei 2026 dalam kunjungan pertamanya ke Beijing dalam delapan tahun terakhir. Agenda ini sempat tertunda akibat konflik Iran yang masih berlangsung. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mengungkapkan bahwa kunjungan ke China akan berlangsung pada 14–15 Mei. Ia juga menyebut akan mengundang Xi untuk melakukan kunjungan balasan ke Washington pada akhir tahun ini. “Our Representatives are finalizing preparations for these Historic Visits,” tulis Trump. “I look very much forward to spending time with President Xi in what will be, I am sure, a Monumental Event.”
Upaya Jaga Hubungan di Tengah Ketegangan Global
Kunjungan ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah situasi geopolitik yang kompleks, termasuk perang Iran serta hubungan dagang yang masih tegang antara dua ekonomi terbesar dunia. Langkah Trump untuk menjadwalkan ulang perjalanan ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara fokus pada konflik Timur Tengah dan kebutuhan memperbaiki hubungan dengan Beijing.
Baca Juga: Futures Saham AS Melemah, Prospek Meredanya Konflik Timur Tengah Masih Buram Kunjungan terakhir Trump ke China terjadi pada 2017, dan pertemuan Mei mendatang akan menjadi tatap muka pertama kedua pemimpin sejak pertemuan di Korea Selatan pada Oktober lalu, di mana keduanya menyepakati gencatan sementara dalam konflik perdagangan.
Isu Perdagangan hingga Taiwan
Pertemuan di Beijing diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari kerja sama perdagangan seperti sektor pertanian dan komponen pesawat, hingga isu sensitif seperti Taiwan. Ketegangan terkait Taiwan meningkat setelah Trump memperbesar penjualan senjata AS ke pulau tersebut selama masa jabatan keduanya. Kebijakan ini memicu reaksi keras dari Beijing yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Kementerian Pertahanan China bahkan meminta Washington untuk menangani isu Taiwan dengan “sangat hati-hati” mengingat sensitivitasnya yang tinggi.
Dampak Konflik Iran dan Energi Global
Pertemuan ini juga dibayangi konflik Iran yang mengguncang ekonomi global, terutama melalui gangguan di Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Trump sebelumnya meminta dukungan negara-negara konsumen energi utama, termasuk China, untuk membantu menjaga jalur tersebut tetap terbuka. Namun, permintaan ini belum mendapat respons langsung dari Beijing.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi Sebagai importir minyak terbesar dunia dengan konsumsi sekitar 12 juta barel per hari pada awal 2026, posisi China menjadi krusial dalam dinamika energi global saat ini.
Sinyal Campuran dari Gedung Putih
Juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Xi memahami alasan penundaan kunjungan, terutama karena Trump perlu tetap fokus pada operasi militer yang sedang berlangsung. Namun, belum ada kepastian apakah konflik Iran akan mereda sebelum pertemuan berlangsung. Pemerintah AS memperkirakan konflik dapat berlangsung sekitar empat hingga enam minggu, meskipun situasi di lapangan terus berubah. Kunjungan Trump ke Beijing ini diperkirakan menjadi momentum penting dalam menentukan arah hubungan AS-China ke depan, sekaligus mencerminkan dinamika geopolitik global yang semakin kompleks di tengah ketegangan energi dan konflik regional.