KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran mengenai kemungkinan eskalasi konflik jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Di sisi lain, upaya diplomasi terus berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa (22/9/2026), Trump mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait langkah AS terhadap Iran.
Ia menyatakan terdapat pilihan untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya atau melakukan tindakan militer yang lebih jauh. "Saya harus mengambil keputusan besar," kata Trump dalam pidatonya.
Baca Juga: Korsel Bakal Kurangi Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah Jadi 50% pada 2035 Trump juga mengatakan kesepakatan dengan Iran masih mungkin tercapai. Dalam perkembangan terpisah, ia menyebut kesepakatan dapat terjadi setelah pemilu sela AS pada November mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan ketika jalur diplomasi antara Washington dan Tehran kembali menjadi perhatian. Utusan AS Steve Witkoff mengatakan AS dan Iran melakukan pembicaraan panjang melalui mediator di sela-sela Sidang Umum PBB pada Selasa. Menurut Witkoff, para mediator akan melanjutkan pembicaraan tersebut dengan harapan diskusi yang berlangsung dapat menghasilkan perkembangan konstruktif. Di sisi lain, Angkatan Bersenjata Iran menolak pernyataan Trump dan menyebutnya sebagai propaganda. Iran juga menyatakan kesiapan untuk memberikan respons jika terjadi serangan lebih lanjut.
Baca Juga: Pidato di PBB, Trump Sebut Kuba Negara Gagal Selat Hormuz Jadi Sorotan Selain risiko geopolitik, perkembangan hubungan AS-Iran menjadi perhatian pasar energi karena gangguan terhadap Selat Hormuz berpengaruh terhadap arus perdagangan minyak dan gas global. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Tehran dapat membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran negara-negara Teluk dalam waktu tujuh hari apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Pejabat tersebut mengatakan proposal terbaru Iran telah disampaikan kepada Washington melalui mediator pada pekan lalu.
Baca Juga: Zelenskiy Klaim Rusia Kembali Berencana Lakukan Serangan Besar Baru ke Ukraina Sebelum konflik, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Namun, lalu lintas kapal komoditas di jalur tersebut telah turun tajam. Data awal menunjukkan hanya dua kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada Senin, dibandingkan sekitar 125 kapal komersial besar per hari sebelum konflik. Perkembangan tersebut membuat setiap sinyal terkait pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi perhatian pasar minyak. Harga minyak juga mendapat sentimen positif dari perkembangan pasokan alternatif Arab Saudi. Saudi Arabia telah mengaktifkan kembali East-West Pipeline dan bersiap melanjutkan ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, meski dengan volume yang masih terbatas. Pada perdagangan Selasa, harga Brent untuk kontrak November ditutup turun US$1,09 atau 1,09% menjadi US$99,25 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober turun US$1,19 atau 1,24% menjadi US$94,99 per barel.
Baca Juga: Harga Bahan Bakar Capai Rekor Tertinggi: Trump Dukung Larangan Ekspor Diesel AS Konflik Meluas di Kawasan Teluk Perkembangan diplomasi AS-Iran juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Trump bertemu dengan para pemimpin enam negara Teluk yang memiliki kepentingan untuk memulihkan kembali kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, negara-negara tersebut juga memiliki hubungan keamanan yang erat dengan AS dan kepentingan untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan Iran. Qatar juga mengusulkan kerangka keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Arab di kawasan Teluk. Proposal tersebut mencakup jaminan keamanan bagi negara-negara Teluk serta peningkatan hubungan ekonomi dengan Iran. Sementara itu, Arab Saudi menghadapi tekanan tambahan akibat konflik di Yaman. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan yang didukung Saudi dan mengancam jalur ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah.
Baca Juga: Donald Trump Ternyata Beli dan Lalu Jual Saham SpaceX pada Juli, Nilainya Segini Saudi Arabia kini kembali mengoperasikan East-West Pipeline yang menjadi jalur alternatif untuk menghindari gangguan di Selat Hormuz. Namun, Reuters melaporkan kapasitas penuh pipa tersebut membutuhkan waktu untuk dipulihkan setelah sejumlah stasiun pompa mengalami kerusakan akibat serangan. Dengan demikian, perkembangan diplomasi AS-Iran tidak hanya menentukan arah konflik di Timur Tengah, tetapi juga menjadi perhatian bagi pasar energi global, khususnya terkait keamanan jalur pelayaran dan keberlanjutan pasokan minyak.