KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (22/3) mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ancaman ini menandai eskalasi signifikan, hanya sehari setelah Trump menyatakan niatnya untuk “mengurangi” intensitas perang. Dalam unggahan di media sosial, Trump menegaskan: "Jika Iran tidak MEMBUKA SEPENUHNYA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!"
Ancaman ini akan memperluas target serangan AS ke infrastruktur yang berdampak langsung pada kehidupan sipil di Iran, termasuk jaringan listrik yang menopang aktivitas harian masyarakat.
Baca Juga: Iran Serang Dekat Fasilitas Nuklir Israel, Tembakkan Rudal Jarak Jauh Penutupan Selat Hormuz yang hampir total telah menahan sebagian besar kapal dari melintas, mengancam pasokan minyak dan gas global sekitar 20%, sehingga memicu lonjakan harga energi di Eropa hingga 35% pekan lalu.
Balasan Iran terhadap Ancaman AS
Kepala komando militer Iran, Khatam al-Anbiya, menyatakan bahwa jika AS menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi Iran, negara itu akan menargetkan semua fasilitas energi, teknologi informasi, dan instalasi desalinasi milik AS di kawasan. Sebelumnya, harga energi meningkat tajam setelah Iran membalas serangan Israel di ladang gas utama mereka dengan menyerang Ras Laffan Industrial City di Qatar, yang memproses sekitar seperlima pasokan gas alam cair dunia. Kerusakan fasilitas ini diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Rudal Jarak Jauh Iran
Pejabat militer Israel melaporkan bahwa untuk pertama kalinya, Iran menembakkan rudal balistik jarak jauh. Dua rudal dengan jangkauan 4.000 km diluncurkan ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, menandai perluasan risiko serangan ke luar Timur Tengah. Kepala militer Israel Eyal Zamir menegaskan rudal tersebut tidak ditujukan ke Israel, tetapi jangkauannya mencakup ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma. Konflik ini telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran, sementara di Israel sedikitnya 15 orang tewas akibat serangan Iran.
Ancaman dan Dampak terhadap Infrastruktur
Trump sebelumnya juga mengisyaratkan kemungkinan menghancurkan jaringan listrik Iran, meskipun pada awal bulan ini ia menekankan bahwa itu bukan rencana utama. Beberapa pembangkit listrik utama Iran termasuk Damavand dekat Teheran (2.868 MW), Kerman di tenggara Iran (1.910 MW), dan Ramin di provinsi Khuzestan (1.890 MW). Pembangkit nuklir Bushehr menghasilkan sekitar 1.000 MW.
Baca Juga: Tiga Pekan Berjalan, Perang Iran Kian Memanas dan Lepas dari Kendali Trump Sementara itu, harga energi global tetap menjadi perhatian utama, karena lonjakan harga bahan bakar memicu inflasi yang membebani konsumen dan bisnis. Kondisi ini menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu pada November, saat kontrol Kongres dipertaruhkan.
Serangan Rudal Iran di Selatan Israel
Selain itu, rudal Iran menyerang kota Dimona dan Arad di selatan Israel, melukai puluhan orang termasuk anak-anak. Garda Revolusi Iran menyatakan target serangan adalah “instalasi militer” dan pusat keamanan di wilayah selatan. Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan sistem pertahanan udara berfungsi tetapi tidak berhasil mencegat seluruh serangan. Kota Dimona berada sekitar 13 km dari reaktor nuklir rahasia Israel, dan kedua kota ini dekat dengan beberapa instalasi militer penting, termasuk Nevatim Air Base. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut malam itu sebagai “malam yang sangat sulit dalam pertempuran untuk masa depan kami” dan menegaskan bahwa Israel akan terus menyerang musuh di semua front. Konflik yang semakin memanas ini menimbulkan risiko signifikan terhadap stabilitas energi dan keamanan regional, dengan potensi dampak global yang belum bisa diprediksi sepenuhnya.