KONTAN.CO.ID – DUBAI. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menjatuhkan "hukuman militer berat" terhadap Iran dan kelompok Houthi di Yaman setelah dua kapal tanker minyak Arab Saudi diserang di Laut Merah. Serangan tersebut memperluas konflik Timur Tengah ke jalur pelayaran strategis kedua setelah Selat Hormuz. Kekhawatiran bahwa gangguan terhadap jalur perdagangan energi akan semakin meluas mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia. Harga minyak Brent melonjak lebih dari 6% dan menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Konflik juga terus meningkat setelah gencatan senjata sementara yang sebelumnya diharapkan mengakhiri perang efektif runtuh sekitar dua pekan lalu. Militer AS kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, menandai malam ke-13 berturut-turut operasi militer tersebut.
Sebagai balasan, Iran kembali melancarkan serangan ke sejumlah negara Arab tetangga yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Media pemerintah Iran melaporkan rudal menghantam Pulau Qeshm di Selat Hormuz pada Kamis dan Jumat malam. Jalur perairan yang kini hampir sepenuhnya tertutup tersebut menjadi pusat konflik yang telah memasuki bulan kelima dan menimbulkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Baca Juga: AS Berlakukan Tarif Baru terhadap 60 Negara, Indonesia Kena Bea Masuk 10% Stasiun televisi pemerintah Iran IRIB melaporkan sedikitnya empat orang tewas dan lima lainnya terluka akibat serangan rudal AS di Kota Ahvaz.
Trump: Iran Belum Merasakan Penderitaan yang Cukup
Setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi pada Kamis, Trump menegaskan Iran akan bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan yang dilakukan kelompok tersebut. Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah utara dan barat Yaman, menyatakan telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Selama ini, Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui jaringan pipa menuju Laut Merah untuk menghindari blokade Iran di Selat Hormuz. "Jika mereka melakukan ini lagi, Amerika Serikat akan meminta Iran bertanggung jawab karena Houthi merupakan kelompok proksi Iran. Hukuman militer berat akan dijatuhkan kepada Iran dan tentu saja kepada Houthi sendiri," tulis Trump melalui media sosialnya. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan untuk kembali meluncurkan operasi tempur besar di Iran dan menyebut keputusan tersebut sudah semakin dekat. "Mereka belum merasakan penderitaan yang cukup," kata Trump, seperti dikutip Axios. Trump juga menulis bahwa "seluruh kerugian yang ditimbulkan terhadap kapal-kapal kargo akan dibayar menggunakan uang milik Iran," merujuk pada aset-aset Iran yang dibekukan oleh pemerintah AS. Namun, ia tidak menjelaskan mekanisme pelaksanaannya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi merespons dengan keras melalui platform X. "Menyita aset negara lain untuk membayar klaim di masa depan yang tidak berkaitan merupakan preseden yang sangat berbahaya," tulis Araqchi. Ia menambahkan bahwa tidak ada lagi aset negara mana pun yang akan aman apabila praktik penyitaan seperti itu dinormalisasi oleh pemerintah. "Kekacauan yang akan terjadi tidak akan indah maupun damai," ujarnya pada Jumat.
Iran Disebut Kirim Peralatan Militer ke Yaman
Sejumlah sumber di Iran dan Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa Iran telah menerbangkan komandan Garda Revolusi, penasihat militer, serta peralatan rudal dan drone ke Yaman beberapa hari sebelum Houthi mengumumkan blokade laut tersebut. Namun, Houthi membantah laporan tersebut.
Baca Juga: Lelang Seni Bangkit, Kolektor Muda Jadi Penggerak Baru Pasar Kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, yakni Encelia dan Layla. Sumber keamanan maritim menyebut kapal Encelia mengirimkan sinyal darurat setelah dihantam rudal di dekat Pelabuhan Jizan, Arab Saudi, di Laut Merah, tepat di utara Yaman. Kantor berita pemerintah Arab Saudi, SPA, melaporkan serangan tersebut memicu kebakaran di bagian haluan kapal. Reuters belum dapat memverifikasi secara independen serangan terhadap kapal Layla maupun laporan pertempuran lainnya. Namun, Trump juga menyebut adanya dua serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi. Akibat meningkatnya risiko keamanan, biaya asuransi pelayaran melalui Laut Merah bagian selatan dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat bagi sebagian perusahaan pelayaran.
Ancaman terhadap Jalur Pelayaran Energi Dunia
Serangan Houthi berpotensi menutup Selat Bab el-Mandeb atau dikenal sebagai "Gerbang Air Mata", jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Jalur ini merupakan rute pengiriman energi terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz. Sejak Houthi mengumumkan blokade di Laut Merah, sejumlah kapal tanker mengubah rute pelayarannya untuk menghindari Bab el-Mandeb. Sebagian kapal memilih berlayar ke utara melalui Terusan Suez atau menempuh rute yang jauh lebih panjang mengelilingi Benua Afrika guna mencapai pasar Asia. Sementara itu, data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis turun menjadi hanya satu kapal, level terendah sejak 7 Mei.
Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS
Iran menyatakan telah menyerang sistem rudal, gudang senjata, serta fasilitas penyimpanan bahan bakar milik AS di Yordania, termasuk sejumlah pos militer AS di Kuwait. Militer Yordania mengatakan berhasil mencegat empat rudal Iran dan enam drone dalam sehari terakhir. Hanya satu rudal yang lolos dan jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni. Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menghantam satuan perang elektronik AS di Pangkalan Al-Adiri, Kuwait, sebagai balasan atas serangan terhadap wilayah perbatasan Shalamcheh di Iran. Namun hingga kini, baik pemerintah AS maupun Kuwait belum melaporkan adanya korban di pangkalan tersebut. Juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan Iran akan terus melakukan serangan balasan selama AS masih menyerang infrastruktur dan wilayah pesisir negara tersebut.
Baca Juga: Resmi! Juergen Klopp Pimpin Timnas Jerman, Kontrak Berdurasi Empat Tahun Sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari, Teheran telah menunjukkan kemampuannya menyerang berbagai target milik AS di kawasan, meski Trump sebelumnya mengklaim kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan. Empat sumber yang mengetahui informasi intelijen AS mengatakan serangan Iran terhadap target CIA di kawasan Teluk sebelumnya juga mendorong penyelidikan mengenai dugaan keterlibatan Rusia dalam membantu Iran melalui informasi penargetan maupun teknologi drone.
Kongres AS Desak Penghentian Operasi Militer
Lonjakan harga minyak dunia turut meningkatkan tekanan inflasi global dan menjadi tantangan politik bagi Partai Republik menjelang pemilu Kongres AS pada November mendatang. Di tengah situasi tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) yang dikuasai Partai Republik pada Kamis menyetujui rancangan undang-undang yang mengarahkan Presiden Trump menghentikan aksi militer AS terhadap Iran. Langkah tersebut menjadi teguran terbaru dari Kongres, yang berdasarkan Konstitusi AS memiliki kewenangan eksklusif untuk "menyatakan perang." Meski demikian, berbagai resolusi serupa yang telah disahkan dalam beberapa bulan terakhir belum berhasil menghentikan perang. Beberapa jam kemudian, Senat AS justru memblokir rancangan resolusi lain yang memiliki tujuan serupa.