KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Serangan tersebut memperluas eskalasi perang ke jalur pelayaran energi strategis kedua setelah Selat Hormuz dan memicu lonjakan tajam harga minyak dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (23/7/2026) memperingatkan Iran akan menghadapi "hukuman militer besar" apabila kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut. Meningkatnya risiko gangguan terhadap jalur distribusi energi global langsung mendorong harga minyak melonjak. Minyak mentah Brent naik lebih dari 6% dan kembali menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Ketegangan terjadi dua pekan setelah gencatan senjata sementara yang sebelumnya diharapkan mengakhiri konflik secara efektif runtuh. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada malam hari, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap negara-negara Arab tetangga yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Situasi semakin memanas setelah Houthi mengumumkan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi. Trump menegaskan Iran akan bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan yang dilakukan kelompok tersebut.
Baca Juga: ECB Tahan Suku Bunga, Peluang Kenaikan pada September Masih Terbuka Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah utara dan barat Yaman, sebelumnya menyatakan telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Kebijakan itu berpotensi mengganggu pengiriman jutaan barel minyak per hari melalui Laut Merah, jalur yang selama ini dimanfaatkan Arab Saudi untuk menghindari blokade Iran di Selat Hormuz. "Jika mereka melakukan ini lagi, Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran karena Houthi merupakan pihak yang bertindak sebagai perpanjangan tangan dan/atau proksi Iran. Hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, kepada Houthi sendiri," tulis Trump melalui platform Truth Social. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga menegaskan tekanan terhadap Iran akan terus meningkat hingga Teheran bersedia menyepakati dan mematuhi perjanjian damai. "Harga yang harus dibayar Iran akan semakin mahal setiap malam sampai Teheran siap mencapai kesepakatan damai yang benar-benar mereka patuhi," katanya. Rubio menambahkan bahwa Iran terus berupaya mencapai kesepakatan, namun kerap melanggar atau ingin mengubah isi perjanjian yang telah disepakati. "Iran setiap hari memohon untuk mencapai kesepakatan. Masalahnya, setiap kali mereka membuat kesepakatan, mereka selalu melanggarnya atau ingin mengubahnya. Mungkin dalam beberapa hari ke depan mereka akan berubah pikiran seiring terus mengalami kerugian besar," ujarnya.
Houthi Serang Dua Kapal Tanker Saudi
Kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, yakni Encelia dan Layla. Sumber keamanan maritim menyebut kapal Encelia mengirim sinyal darurat setelah terkena rudal di dekat Pelabuhan Jizan, Arab Saudi, di Laut Merah, tepat di utara Yaman, pada Rabu malam. Kantor berita pemerintah Arab Saudi SPA melaporkan serangan tersebut memicu kebakaran di bagian haluan kapal. Sementara itu, Reuters belum dapat mengonfirmasi secara independen serangan terhadap kapal Layla, meski Trump menyebut terjadi dua serangan terhadap kapal tanker Saudi. Serangan Houthi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan Selat Bab el-Mandeb atau "Gerbang Air Mata", jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Jalur tersebut merupakan rute pengiriman energi terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Tajam, Pasar Tenaga Kerja Solid Jelang Rapat The Fed Iran Serang Target AS di Yordania dan Kuwait
Di sisi lain, Iran mengumumkan telah menyerang sistem rudal, gudang senjata, fasilitas penyimpanan bahan bakar, serta pos militer Amerika Serikat di Yordania dan Kuwait. Militer Yordania menyatakan telah menghadang empat rudal dan enam drone Iran dalam 24 jam terakhir. Seluruh serangan berhasil dicegat kecuali satu rudal yang jatuh di wilayah tak berpenghuni. Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengatakan negaranya akan terus melakukan serangan balasan selama Amerika Serikat masih menyerang infrastruktur dan wilayah pesisir Iran. Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada Februari lalu, Teheran menunjukkan kemampuannya menyerang berbagai target milik AS di kawasan. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan klaim Trump pada awal konflik yang menyebut kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan. Sejumlah sumber intelijen AS juga mengungkapkan serangan Iran terhadap target yang berkaitan dengan CIA pada awal perang mendorong penyelidikan mengenai kemungkinan adanya bantuan Rusia berupa informasi penargetan maupun teknologi drone kepada Iran.
Harga Minyak Melonjak, Risiko Inflasi Meningkat
Lonjakan harga minyak dunia diperkirakan akan memperburuk tekanan inflasi global. Kondisi tersebut juga meningkatkan tekanan politik terhadap Partai Republik menjelang pemilu Kongres Amerika Serikat pada November mendatang. Sejak Houthi mengumumkan blokade di Laut Merah, sejumlah kapal tanker mulai mengubah rute pelayaran untuk menghindari Selat Bab el-Mandeb. Sebagian kapal memilih berlayar melalui Terusan Suez atau bahkan memutar mengelilingi Afrika, yang membuat waktu pengiriman lebih lama dan biaya logistik meningkat.
Baca Juga: Freeport-McMoRan Lampaui Estimasi Laba Kuartal II Berkat Lonjakan Harga Tembaga Data pelayaran menunjukkan dua kapal supertanker asal China yang membawa total sekitar 4 juta barel minyak berupaya keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb pada Kamis. Sejumlah pejabat Amerika Serikat, baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun, menilai ancaman Houthi untuk memblokade jalur laut menuju Arab Saudi berpotensi memperluas konflik secara signifikan sekaligus menambah beban operasi militer AS di kawasan.
Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran
Runtuhnya kesepakatan sementara bulan lalu dipicu sengketa di Selat Hormuz. Iran berupaya memperkuat kontrol atas ekspor energi Teluk dengan mewajibkan kapal-kapal melintas lebih dekat ke wilayah pesisirnya dan pada akhirnya berencana mengenakan biaya transit. Iran juga disebut menembaki kapal-kapal yang menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh dari garis pantainya dan didukung oleh Washington. Trump sebelumnya berjanji akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz. Sebagai balasan, Komando Gabungan Militer Iran memperingatkan akan menyerang infrastruktur minyak, gas, listrik, serta fasilitas ekonomi di kawasan, sekaligus mencegah ekspor "bahkan setetes minyak pun" dari wilayah tersebut.