Trump Ancam Iran Usai Serang Pangkalan AS, Harga Minyak Langsung Melonjak



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran akan membayar harga setelah Teheran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. 

Eskalasi terbaru ini memperbesar risiko pecahnya kembali konflik terbuka antara kedua negara dan mengguncang pasar global.

Serangan Iran menyasar pangkalan AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait sebagai balasan atas operasi militer AS yang sebelumnya menghantam sejumlah target Iran di sekitar Selat Hormuz. 


Aksi saling serang tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar sejak Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada April lalu.

Baca Juga: Pasar Minyak Bergejolak, Harga Brent Naik Hampir 2% Usai Serangan Militer AS di Iran

"Iran hanya banyak bicara dan tidak bertindak. Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk sebuah kesepakatan yang sebenarnya menguntungkan mereka. Sekarang mereka harus membayar harganya," kata Trump melalui media sosial.

Militer AS menyebut serangan ke Iran dilakukan sebagai respons proporsional atas jatuhnya helikopter Apache AS di dekat Selat Hormuz. Washington mengklaim telah menyerang hampir 20 target, termasuk sistem pertahanan udara, pusat kendali, dan radar pengawasan Iran.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. 

IRGC mengklaim rudal jarak jauh mereka menghantam beberapa lokasi di Pangkalan Al-Azraq, Yordania, termasuk hanggar jet tempur F-35 dan pusat komando.

Namun, pejabat AS mengatakan hampir seluruh rudal dan drone Iran berhasil dicegat. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan signifikan di pangkalan-pangkalan yang menjadi sasaran.

Militer Yordania menyatakan telah mencegat lima rudal yang mengarah ke Al-Azraq. Sementara itu, Kuwait dan Bahrain juga mengonfirmasi sistem pertahanan udara mereka berhasil menahan serangan dari Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 2% Lebih Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Ketegangan terbaru dipicu insiden jatuhnya helikopter Apache AS di perairan dekat Oman saat melakukan patroli. Seorang pejabat AS menyebut helikopter tersebut ditembak jatuh oleh drone serang Iran, meski kedua awaknya berhasil diselamatkan dan tidak mengalami cedera.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran mulai mempertimbangkan ulang jalur diplomasi dengan Washington. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan proses diplomatik sulit berjalan jika pelanggaran gencatan senjata terus terjadi.

"Setiap proses diplomatik membutuhkan lingkungan yang stabil," ujarnya.

Pernyataan keras Trump langsung mengguncang pasar. Harga minyak dunia melonjak sekitar 2%, sementara bursa saham global melemah karena kekhawatiran konflik akan mengganggu pasokan energi dari kawasan Teluk.

Menurut laporan Fox News, Trump bahkan membuka kemungkinan memerintahkan serangan baru terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negosiasi terus berlarut-larut.

Meski demikian, upaya diplomatik belum sepenuhnya berhenti. Seorang sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan negosiator Qatar telah bertolak ke Teheran setelah berkonsultasi dengan pemerintah AS untuk mencoba merampungkan kesepakatan damai.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Mereda, Harga Minyak Langsung Anjlok 5%

Prospek perdamaian sendiri masih terlihat jauh. Meski gencatan senjata diumumkan pada April bersamaan dengan rencana perundingan damai, kedua pihak masih berselisih soal program nuklir Iran, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, hingga status Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, juga memperingatkan bahwa keberadaan pasukan asing di kawasan meningkatkan risiko insiden militer yang tidak terkendali.

"Untuk mengurangi risiko, solusi terbaik adalah mereka pergi," tulisnya di media sosial.