KONTAN.CO.ID -Â WASHINGTON/DUBAI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan mengancam negara mana pun yang memberikan dukungan ekonomi kepada Teheran. Trump menyatakan negara yang membuka akses bagi lembaga keuangan, pelaku usaha, bandara, atau institusi pemerintah untuk membantu Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat berat. "Setiap negara yang memberi Iran jalan keluar ekonomi akan menghadapi konsekuensi besar," tulis Trump melalui media sosial, Rabu (20/8).
Trump juga menjanjikan perang ekonomi dan isolasi terhadap Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, dia tidak merinci bentuk sanksi yang akan dijatuhkan maupun negara mana yang menjadi sasaran.
Baca Juga: Donald Trump Siapkan Perang Ekonomi, Negara Pendukung Iran Jadi Target Ancaman tersebut muncul di tengah konflik Iran dan Israel yang telah berlangsung hampir enam bulan dan melibatkan Amerika Serikat. Perang tersebut telah menewaskan ribuan orang serta mengganggu pasar global, terutama setelah Iran menunjukkan kemampuan membatasi pelayaran di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global melewati jalur tersebut. Amerika Serikat dan Iran sebelumnya dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada April dan Juni. Namun, kedua kesepakatan itu dengan cepat runtuh, meski Israel telah banyak mengurangi keterlibatannya dalam pertempuran. Ancaman Trump juga berpotensi menyasar negara yang selama ini menjadi mitra Amerika Serikat. Uni Emirat Arab (UEA), misalnya, pada Selasa mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan.
Baca Juga: AS dan Iran Teken Kesepakatan Damai, Trump Ancam Serang Lagi jika Dilanggar UEA merupakan salah satu negara yang menjadi tempat berlangsungnya upaya mediasi dan bahkan menjadi lokasi pangkalan militer utama Amerika Serikat. Di sisi lain, China menjadi salah satu titik penting dalam hubungan ekonomi Iran. Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler, China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim sepanjang 2025. Jika Amerika Serikat memperluas tekanan ekonomi terhadap negara yang tetap membeli minyak Iran, China berpotensi menjadi salah satu pihak yang terdampak. Langkah tersebut juga dapat memicu pembalasan karena China merupakan pemasok penting bagi Amerika Serikat, termasuk untuk mineral tanah jarang yang dibutuhkan industri strategis. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai ancaman Trump justru dapat memperburuk kondisi ekonomi global. Ia menuduh Washington berusaha mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi domestik Amerika Serikat, termasuk utang yang membengkak dan kenaikan suku bunga.
Iran sendiri menyatakan masih membuka ruang untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Namun, Teheran menegaskan negosiasi tidak berarti menyerah terhadap tekanan Washington.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif 50% untuk Negara yang Memasok Senjata ke Iran, Sasar China-Rusia? Trump diketahui ingin mengambil alih persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran dan mendorong kesepakatan baru yang lebih ketat terhadap program nuklir serta riset Iran. Amerika Serikat sebelumnya secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018. Sementara itu, Iran selama bertahun-tahun menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan menegaskan komitmennya sebagai negara penandatangan perjanjian nonproliferasi nuklir.