Trump Ancam Lakukan Intervensi, Iran Klaim Jalur Komunasi dengan AS Tetap Terbuka



KONTAN.CO.ID -  DUBAI. Iran menyatakan tetap membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump yang tengah mempertimbangkan respons atas tindakan keras aparat Iran terhadap gelombang demonstrasi mematikan di negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan ketika unjuk rasa di Iran berkembang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi rezim ulama sejak Revolusi Islam 1979. Demonstrasi yang awalnya dipicu lonjakan harga kini berubah menjadi tuntutan terbuka untuk menjatuhkan pemerintahan.

Trump mengatakan AS kemungkinan akan bertemu pejabat Iran dan mengklaim telah menjalin kontak dengan kelompok oposisi. Ia juga mengisyaratkan opsi tindakan keras, termasuk kemungkinan aksi militer, sebagai respons atas kekerasan terhadap demonstran.


Baca Juga: Donald Trump Ancam Serang Negara yang Menyelundupkan Narkoba ke AS

Kelompok HAM berbasis di AS, HRANA, melaporkan sedikitnya 490 demonstran dan 48 personel keamanan tewas, serta lebih dari 10.600 orang ditangkap sejak aksi protes merebak pada 28 Desember. 

Reuters belum dapat memverifikasi data tersebut secara independen, terutama karena pemadaman internet yang diberlakukan Iran sejak pekan lalu.

Rekaman video terverifikasi menunjukkan warga berkumpul di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran, di hadapan deretan kantong jenazah. Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis angka resmi korban tewas dan menyalahkan kekerasan pada campur tangan AS serta kelompok yang disebutnya didukung AS dan Israel.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan jalur komunikasi antara Menlu Abbas Araqchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff tetap terbuka.

Baca Juga: Trump Ancam Berlakukan Darurat Nasional di Ibu Kota AS, Ini Pemicunya

Kontak juga dilakukan melalui Swiss sebagai mediator tradisional. Namun, Baghaei menilai pesan Washington kerap kontradiktif dan kurang meyakinkan.

Araqchi menyatakan Iran siap menghadapi perang, tetapi tetap terbuka untuk dialog. Sementara itu, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menuding negaranya tengah menghadapi “perang di empat front”, mulai dari ekonomi hingga militer melawan AS dan Israel.

Trump, di sisi lain, mengklaim Iran telah menghubungi AS untuk bernegosiasi terkait program nuklir. Ia menyebut pertemuan sedang disiapkan, meski AS mungkin perlu bertindak lebih dulu. Media AS melaporkan opsi Washington mencakup serangan militer, senjata siber, perluasan sanksi, hingga dukungan daring bagi oposisi Iran.

Qalibaf memperingatkan AS agar tidak salah langkah. Ia menegaskan setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menjadikan Israel serta pangkalan dan kapal AS sebagai target sah.

Baca Juga: Usai Maduro Ditangkap AS, Trump Ancam Kolombia, Kuba, dan Meksiko

Meski demikian, posisi regional Iran saat ini melemah pascaperang tahun lalu dan terpukulnya sekutu-sekutu utama seperti Hizbullah. Araqchi menyatakan situasi keamanan kini “sepenuhnya terkendali” dan berjanji layanan internet akan dipulihkan secara bertahap.

Pemerintah Iran juga menggelar aksi unjuk rasa nasional untuk mengecam apa yang mereka sebut sebagai aksi terorisme yang dipimpin AS dan Israel, diiringi prosesi pemakaman anggota pasukan keamanan yang tewas dalam kerusuhan.

Selanjutnya: IHSG Bergejolak di Area 9.000, Aksi Ambil Untung Bikin Indeks Sempat Anjlok 2%

Menarik Dibaca: Wisatawan Mancanegara yang Gunakan Layanan KA Jarak Jauh Sepanjang 2025 Naik 3,7%