KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah upaya Washington untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir enam bulan bersama Israel. Trump memperingatkan negara mana pun yang memberikan dukungan ekonomi kepada Iran akan menghadapi konsekuensi besar. Perang tersebut telah menewaskan ribuan orang dan dengan cepat melibatkan sejumlah negara di kawasan Teluk. Konflik juga mengguncang pasar global setelah Iran menunjukkan kemampuannya mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelum Februari, sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan di dunia melewati jalur strategis tersebut. AS dan Iran sebelumnya telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, yakni pada April dan Juni. Kesepakatan tersebut dirancang untuk memulihkan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.
Baca Juga: Pangeran Harry dan Meghan Dikabarkan Kembali ke Inggris, Bawa Anak-anaknya Namun, kedua kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh, meskipun Israel sebagian besar telah menarik diri dari pertempuran.
Trump Ancam Sanksi Ekonomi
Dalam pesan yang diunggah melalui media sosial pada Rabu (19/8) malam, Trump menjanjikan "Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap pihak-pihak yang membantu Iran. Trump menegaskan ancaman tersebut dengan memperingatkan negara mana pun yang memberikan dukungan kepada Iran. "SETIAP negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi KONSEKUENSI Ekonomi yang SANGAT BESAR," tulis Trump. Namun, Trump tidak menjelaskan secara rinci langkah spesifik yang akan diambil AS terhadap negara-negara yang membantu Iran. Ancaman tersebut berpotensi mencakup sejumlah sekutu AS yang selama ini turut berperan dalam memediasi pembicaraan damai. Trump juga tidak menyebut negara tertentu dalam pernyataannya. Pernyataan dan ancaman yang disampaikan Trump melalui media sosial tidak selalu diterjemahkan menjadi kebijakan atau tindakan konkret seperti yang dituliskan. Iran sendiri telah menghadapi sanksi ekonomi berat selama hampir 50 tahun, sejak Revolusi Islam pada 1979.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Dipicu Aksi Ambil Untung Investor Uni Emirat Arab Hentikan Aktivitas Perdagangan dengan Iran
Pada Selasa (18/8), Uni Emirat Arab (UEA), yang menjadi lokasi salah satu pangkalan militer utama AS, mengumumkan penghentian seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial, serta transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan tersebut diumumkan setelah Kementerian Pertahanan UEA menyatakan telah mendeteksi dua rudal yang diluncurkan dari Iran dan kemudian jatuh ke laut. Iran membantah laporan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. Di sisi lain, China menjadi salah satu faktor penting dalam upaya AS menekan Iran. Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler pada 2025, China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut. Namun, peningkatan tekanan ekonomi AS terhadap China berisiko memicu tindakan balasan. China merupakan salah satu eksportir utama ke AS, termasuk memasok berbagai mineral tanah jarang yang penting bagi industri Amerika.
Iran Tegaskan Negosiasi Bukan Menyerah
Iran menyatakan tetap terbuka terhadap dialog dengan AS, tetapi menegaskan bahwa pembicaraan tidak boleh diartikan sebagai bentuk penyerahan diri. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber mengatakan Iran tetap terbuka terhadap dialog dengan AS, tetapi tidak mencampuradukkan negosiasi dengan menyerah. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa menurut kantor berita semi-resmi Fars. Mokhber juga menegaskan bahwa tekanan militer dan sanksi ekonomi tidak akan mematahkan tekad Iran. Sementara itu, Trump pada Selasa mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran. Pernyataan tersebut berbeda dengan pernyataan menantu Trump sekaligus utusan khususnya, Jared Kushner, sehari sebelumnya.
Baca Juga: Utang AS Tembus US$40 Triliun untuk Pertama Kalinya, Risiko Krisis Fiskal Menguat Kushner mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan bahkan "mungkin lebih kuat" dibandingkan sebelumnya.
Trump Ingin Ambil Uranium Iran
Salah satu isu utama dalam konflik tersebut adalah program nuklir Iran. Trump disebut ingin mengambil persediaan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi milik Iran. Selain itu, Trump juga menginginkan kesepakatan baru yang lebih ketat untuk membatasi program energi nuklir dan penelitian Iran. Kesepakatan tersebut diharapkan menggantikan perjanjian nuklir yang secara sepihak ditinggalkan AS pada 2018. Iran merupakan negara penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Selama beberapa dekade, Teheran berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai.