Trump Ancam Tinggalkan Netanyahu, Ketegangan AS-Israel Menghangat



KONTAN.CO.ID - Iran dan Israel pada hari Senin (8/6/2026) resmi mengumumkan penghentian sementara (halted) aksi saling serang udara yang sempat memanas dalam 24 jam terakhir.

Langkah de-eskalasi darurat ini diambil setelah adanya seruan dan tekanan langsung dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Baca Juga: Era Baru Pasar Saham: 3 Raksasa Teknologi Siap Cetak Sejarah IPO Terbesar di Wall St


Kendati demikian, Teheran memberikan peringatan keras bahwa mereka akan kembali meluncurkan rudal jika Israel tidak menghentikan serangannya terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

Konfrontasi langsung paling sengit sejak gencatan senjata bulan April ini sempat mengancam draf perjanjian damai yang tengah disusun Washington bersama Teheran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan.

Merespons redanya situasi di lapangan, harga minyak mentah dunia yang sempat melesat hingga 5% langsung mendingin sesaat setelah militer Iran mengumumkan bahwa gelombang pertama serangan mereka ke Israel telah selesai.

Di sisi lain, mata uang dolar AS juga terpantau mundur dari level tertingginya dalam dua bulan terakhir.

Baca Juga: Bidik Valuasi setara 5 Kali Lipat APBN RI, OpenAI Resmi Mendaftar IPO di AS

Kronologi Saling Balas di Jantung Industri Militer

Sebelum kesepakatan jeda ini tercapai, kedua belah pihak sempat terlibat dalam aksi saling hantam yang menargetkan sektor strategis:

Serangan Iran: Pada hari Minggu malam, Teheran melepaskan salvo rudal ke wilayah Israel sebagai aksi balasan atas bombardir Israel terhadap markas Hezbollah di pinggiran kota Beirut.

Balasan Israel: Jet tempur Israel membalas dengan menghancurkan sistem pertahanan udara Iran serta sebuah pabrik petrokimia yang dituduh menjadi tempat produksi rudal balistik.

Serangan Fase Dua Iran: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran membalas kembali dengan menargetkan kompleks pabrik industri militer serupa milik Israel di kota Haifa.

Otoritas keamanan dari kedua belah negara melaporkan tidak ada korban jiwa dalam insiden saling serang tersebut.

Seiring meredanya situasi, operasional penerbangan di Bandara Imam Khomeini Teheran dilaporkan telah kembali dibuka pada hari Selasa setelah sempat ditutup selama 24 jam.

Baca Juga: Survei Reuters/Ipsos: Kepuasan Publik Terhadap Trump Anjlok ke 35% Akibat Perang Iran

Manuver Politik Trump: "Bibi, Anda Bisa Berjuang Sendiri"

Di balik layar diplomasi, Presiden Trump bergerak agresif demi menyelamatkan reputasi politiknya dalam mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari lalu tersebut.

Trump mengeklaim lewat media sosialnya bahwa baik Israel maupun Iran sebenarnya menghendaki gencatan senjata segera.

"Negosiasi akhir menuju 'Perdamaian' sedang berlangsung, selama tidak dihalangi oleh kebodohan atau ketidaktahuan," tulis Trump.

Namun, ketegangan diplomasi antara AS dan Israel tidak dapat ditutupi.

Dalam wawancaranya bersama Axios yang dirilis Senin, Trump mengaku memberikan peringatan yang sangat keras kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu (Bibi) agar tidak kembali memicu perang dengan Iran.

"Saya katakan, 'Bibi, Anda harus berhati-hati, atau Anda akan berjuang sendirian dalam waktu dekat,'" ungkap Trump.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Bertahan di US$ 4.334 Senin (8/6), Meski Data Tenaga Kerja AS Kuat

Pembelaan Duta Besar Israel

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, langsung menepis narasi bahwa Trump memberikan tekanan kepada Netanyahu.

Berbicara kepada Fox News, Leiter menyebut hubungan kedua pemimpin sangat kooperatif dan media terlalu membesar-besarkan masalah.

"Mereka memiliki ikatan persahabatan mendalam selama 40 tahun. Layaknya hubungan dekat, terkadang ada perdebatan, dan ketegangan di dalam ruang diskusi bisa menjadi sedikit memanas," ujar Leiter.

Ancaman Baru dari Yaman dan Blokade Jalur Energi

Meskipun situasi di Teheran dan Tel Aviv mereda, potensi perluasan perang justru muncul dari Laut Merah.

Kelompok Houthis di Yaman yang bersekutu dengan Iran menegaskan komitmennya untuk memblokir seluruh pelayaran kapal Israel di Laut Merah dan mengklaim telah menembakkan rudal ke arah kota Eilat.

Sirene peringatan sempat berbunyi di Israel sebelum militer (IDF) berhasil mencegat objek terbang mencurigakan tersebut.

Keterlibatan Houthi diantisipasi secara ketat oleh pasar energi dunia. Pasalnya, wilayah yang dikontrol Houthi merupakan jalur alternatif krusial bagi jutaan barel minyak mentah per hari, di tengah aksi Iran yang masih memblokade Selat Hormuz (jalur bagi seperlima pasokan minyak dan LNG dunia).

Baca Juga: Trump Klaim Iran dan Israel Tengah Upayakan Gencatan Senjata Kembali

Hambatan Perundingan Damai Jangka Panjang

Meskipun perwakilan AS untuk Lebanon, Michel Issa, menyatakan bahwa perundingan antara Lebanon dan Israel dijadwalkan akan segera dimulai kembali di Washington, jurang pemisah antara tuntutan AS-Israel dan Iran masih sangat lebar:

Pihak Tuntutan dan Posisi Politik dalam Perundingan
Amerika Serikat & Israel • Perang di Lebanon melawan Hezbollah harus diselesaikan terpisah dari draf damai Iran.

  • Perjanjian damai wajib menjamin Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir.

Republik Islam Iran • Perjanjian damai hanya akan diteken jika Israel mundur dan menyetop serangan di Lebanon.

 
• Menuntut pencabutan total sanksi internasional.

  • Menuntut pencairan miliaran dolar aset keuangan mereka yang dibekukan AS.

  • Meminta pengakuan internasional atas kendali mereka di Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui bahwa pertukaran pesan diplomatik antara Teheran dan Washington saat ini masih berlangsung dalam atmosfer "kecurigaan yang sangat ekstrem" (extreme suspicion).