KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Amerika Serikat dan Korea Selatan akan “mencari jalan keluar bersama” menyusul ancamannya untuk menaikkan tarif impor produk asal Korea Selatan menjadi 25%. “Kami akan mencari solusi dengan Korea Selatan,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri acara di Iowa, Selasa (27/1/2026). Trump tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Baca Juga: Diplomasi Xi Menggoda Eropa, Akankah AS Kehilangan Sekutu Penting? Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump secara mengejutkan mengumumkan rencana kenaikan tarif terhadap impor Korea Selatan, termasuk produk otomotif, yang mengguncang pejabat di Seoul. Kepala negosiator perdagangan AS, Jamieson Greer, mengatakan ia telah berbicara dengan pejabat Korea Selatan pada Selasa pagi dan dijadwalkan bertemu langsung dengan pejabat perdagangan negara itu di Washington akhir pekan ini. “Saya pikir mereka mulai menangkap pesannya,” ujar Greer dalam wawancara dengan Fox Business Network. “Kami tidak punya masalah khusus dengan Korea. Mereka adalah sekutu. Tetapi dari sisi ekonomi, semuanya harus seimbang.” Greer menyoroti defisit perdagangan AS dengan Korea Selatan yang membengkak hingga US$65 miliar pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Menurutnya, kondisi tersebut tidak berkelanjutan dan harus diubah.
Baca Juga: Dunia Dagang Bergeser: AS Terpinggirkan dari Mega Kesepakatan Baru? Sebelumnya, melalui unggahan di media sosial pada Senin (26/1), Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor karena parlemen Korea Selatan dinilai belum menepati kesepakatan yang dicapai Trump dengan Presiden Korea Selatan tahun lalu. Pengumuman tersebut mengejutkan pemerintah Korea Selatan, yang mengaku tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya dan kini harus menyusun respons cepat terhadap potensi dampak serius bagi perekonomian yang sangat bergantung pada ekspor. Greer menjelaskan bahwa AS sebelumnya memangkas rencana tarif dari 25% menjadi 15% setelah Korea Selatan berjanji menginvestasikan US$350 miliar di AS, membuka pasar lebih luas bagi mobil buatan AS, serta menghapus sejumlah hambatan non-tarif di sektor pertanian. “Namun hingga saat ini, mereka belum berhasil meloloskan undang-undang yang diperlukan untuk investasi tersebut,” kata Greer. Ia juga menambahkan bahwa komitmen di sektor pertanian dan industri belum sepenuhnya dipenuhi. “Sangat sulit bagi kami untuk terus memegang komitmen, sementara pihak lain belum bergerak cukup cepat,” ujarnya.
Baca Juga: 7 Pimpinan Baru Goldman Sachs, Semua dari Divisi Ini? Ada Apa? Parlemen Korea Selatan baru dijadwalkan menggelar sidang pleno pada Februari mendatang. Saat ini, terdapat lima rancangan undang-undang terkait paket investasi AS yang masih menunggu persetujuan. Partai Demokrat yang berkuasa menyatakan optimistis RUU tersebut bisa disahkan pada Februari. Sebelumnya, Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah berencana mengeksekusi paket investasi tersebut secepat mungkin.
Namun, ia mengakui ketidakpastian putusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif Trump dapat memengaruhi proses tersebut. Koo juga menyebut investasi senilai US$350 miliar itu kecil kemungkinan terealisasi pada paruh pertama 2026, seiring melemahnya nilai tukar won Korea Selatan.