KONTAN.CO.ID - Presiden AS Donald Trump tertarik meminta negara-negara Arab untuk menanggung biaya perang Iran. Hal tersebut diungkapkan oleh sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari Senin (30/3/2026). Mengutip
Reuters, Leavitt, ketika ditanya dalam konferensi pers apakah negara-negara Arab akan membantu membiayai perang tersebut, mengatakan bahwa ia tidak akan mendahului presiden dari Partai Republik tersebut. Akan tetapi, dia menyebut hal itu adalah ide yang dimiliki Trump. "Saya pikir itu adalah sesuatu yang akan sangat diminati Presiden untuk meminta mereka melakukannya," kata Leavitt.
Dia menambahkan, "Itu adalah ide yang saya tahu dia miliki dan sesuatu yang saya pikir Anda akan mendengar lebih banyak darinya." Trump mengancam Iran dengan serangan terhadap infrastruktur energi dan air Trump mengatakan, dia siap memerintahkan serangan militer AS terhadap sumur minyak dan pembangkit listrik Iran untuk memaksa pembukaan Selat Hormuz dan mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Iran menolak pembicaraan dan menyebut syarat perdamaian AS yang diusulkan 'tidak realistis,' sementara risiko eskalasi meningkat. Leavitt mengatakan bahwa apa yang dikatakan Teheran secara publik berbeda dari apa yang dikatakannya kepada pejabat AS secara pribadi dan bahwa Iran secara pribadi telah menyetujui beberapa poin Washington.
Baca Juga: Perekonomian Global: Alarm Baru dari Lonjakan Harga Energi dan Logam "Terlepas dari semua retorika publik yang Anda dengar dari rezim dan pemberitaan palsu, pembicaraan terus berlanjut dan berjalan dengan baik. Apa yang dikatakan secara publik, tentu saja, sangat berbeda dengan apa yang dikomunikasikan kepada kami secara pribadi," kata Leavitt. Sebelumnya pada hari Senin, Trump memperingatkan bahwa pembangkit energi dan sumur minyak Iran akan hancur jika tidak membuka Selat Hormuz, setelah Teheran menggambarkan proposal perdamaian AS sebagai "tidak realistis" dan menembakkan gelombang rudal ke Israel.
Perubahan rezim
Trump mengatakan bahwa negosiasi dengan Teheran berjalan dengan baik dan mengisyaratkan bahwa "perubahan rezim" di Iran telah selesai.
"Kita sudah mengalami perubahan rezim, jika Anda perhatikan, karena rezim yang pertama telah hancur, musnah, mereka semua sudah mati. Rezim berikutnya sebagian besar sudah mati. Dan rezim ketiga, kita berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari siapa pun yang pernah berurusan sebelumnya. Ini adalah kelompok orang yang sama sekali berbeda," kata Trump kepada wartawan pada hari Minggu. "Jadi saya akan menganggap itu sebagai perubahan rezim, dan terus terang, mereka sangat masuk akal."
Tonton: USS Tripoli Tiba! AS Siap Invasi Darat Iran? Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan di acara Good Morning America pada hari Senin bahwa meskipun akan menjadi kabar baik jika Iran memiliki kepemimpinan baru dan orang-orang yang bertanggung jawab yang memiliki visi masa depan yang lebih masuk akal, AS juga harus bersiap untuk kemungkinan, bahkan mungkin probabilitas, bahwa hal itu tidak terjadi.