Trump Bantah Ada Negosiasi dengan Iran, Ketegangan Selat Hormuz Memanas



KONTAN.CO.ID - DUBAI/WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah adanya pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran terkait upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan. Pernyataan tersebut berseberangan dengan klaim Iran yang menyebut Selat Hormuz masih ditutup bagi pelayaran.

Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan beroperasi, meski aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut masih terganggu di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Prospek kesepakatan damai yang semakin surut kembali mendorong harga minyak naik pada Selasa (18/8/2026). Di sisi lain, pasar saham melemah dan biaya pinjaman sejumlah negara ekonomi utama, termasuk AS, meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade.


Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak inflasi dan beban fiskal dalam jangka panjang akibat konflik yang berkepanjangan.

Gencatan senjata sementara antara kedua pihak berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran kepada Reuters mengatakan negaranya mulai beralih ke posisi militer yang "sepenuhnya ofensif" akibat kebuntuan diplomatik. Namun, hingga Selasa belum terdapat laporan mengenai serangan baru dari kedua belah pihak.

Baca Juga: 15 Perusahaan Paling Menguntungkan di Dunia 2026, Didominasi Teknologi

Trump Bantah Ada Pembicaraan dengan Iran

Trump melalui unggahan di Truth Social mengatakan tidak ada pembicaraan maupun negosiasi yang dijadwalkan dengan Iran.

"Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, atau yang dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran," kata Trump.

Ia juga menegaskan bahwa blokade laut masih diberlakukan dan Selat Hormuz tetap terbuka.

"Blokade Angkatan Laut tetap berlaku sepenuhnya. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan," ujar Trump.

Pernyataan Trump tersebut bertolak belakang dengan komentar Jared Kushner, menantu Trump sekaligus utusan khusus AS, sehari sebelumnya. Kushner menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan bahkan menggambarkannya sebagai proses yang "mungkin lebih kuat" dibandingkan sebelumnya.

Konflik yang berlangsung hampir enam bulan itu bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Situasi kemudian berkembang menjadi kebuntuan, dengan Iran tetap mengancam pelayaran di Selat Hormuz, sementara Washington menyatakan dapat kembali melancarkan serangan apabila perundingan gagal menghasilkan penyelesaian jangka panjang.

Salah satu tujuan utama AS adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Namun, para pakar menilai tujuan tersebut sulit dicapai tanpa mengeluarkan uranium yang telah diperkaya dan diyakini masih tersimpan di fasilitas-fasilitas Iran yang sebelumnya menjadi sasaran serangan militer AS.

Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Terganggu

Di tengah pernyataan Trump bahwa kondisi di Teluk membaik, sejumlah negara masih melaporkan gangguan terhadap aktivitas pelayaran.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan telah mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. Insiden tersebut menjadi laporan pertama sejak serangan pada 4 Mei terhadap pelabuhan Fujairah.

Kementerian tersebut kemudian menyatakan berdasarkan penilaiannya, kedua rudal itu menargetkan "lalu lintas maritim". Kedua rudal dilaporkan jatuh ke laut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah pernyataan tersebut. Ia menyebut "tuduhan" UEA sebagai "tidak berdasar".

Baca Juga: Trump Tunda Tarif 50% Kanada, AS Klaim Telah Capai Kesepakatan

Kementerian Luar Negeri UEA kemudian mengatakan telah menangguhkan seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran, dan transaksi keuangan dengan Iran sampai pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan itu diambil dengan alasan eskalasi konflik di kawasan dinilai mengancam perdamaian dan keamanan regional maupun internasional.

Pelayaran kargo langsung antara UEA dan Iran sendiri baru kembali berjalan pada akhir Juni melalui Pelabuhan Jebel Ali di Dubai. Sebelumnya, UEA menghentikan pelayaran langsung pada awal Maret, beberapa hari setelah perang dimulai.

Gangguan juga dilaporkan oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Lembaga tersebut menerima laporan pada Selasa bahwa sebuah kapal terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya ketika berlayar keluar melalui Selat Hormuz.

Insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan satu anggota awak menjadi korban. Penjaga Pantai Oman kemudian membantu awak kapal yang tersisa. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada komentar langsung dari pemerintah Iran.

Data awal pelayaran pada Selasa juga menunjukkan jumlah kapal yang melintas melalui Selat Hormuz masih berada pada angka satu digit pada Senin.

Iran Sebut Selat Hormuz Tetap Ditutup

Ketegangan mengenai status Selat Hormuz semakin terlihat dari pernyataan pejabat Iran.

Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan dalam pernyataan yang dipublikasikan media pemerintah bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua negara pada Juni.

Persyaratan tersebut mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian ancaman dan operasi militer di seluruh front.

Baca Juga: Pasar Obligasi Global Bergejolak, Saham Asia Ikut Tertekan

Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni memberikan waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan lebih luas mengenai program nuklir Iran dan sanksi AS. Tenggat waktu tersebut berakhir pada Senin.

Trump mengatakan tidak memiliki rencana untuk memperpanjang periode tersebut.

Kesepakatan itu sebelumnya menyatakan adanya "penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front". Namun, kesepakatan tersebut dengan cepat menghadapi masalah akibat perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global mengalir melalui jalur tersebut.

Iran Masih Buka Ruang Negosiasi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran menyatakan masih membuka ruang untuk melakukan dialog dengan AS.

Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, mengatakan Iran tetap terbuka terhadap pembicaraan dengan Washington. Namun, menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars, Iran tidak menganggap negosiasi sebagai bentuk menyerah.

Mokhber mengatakan tekanan militer dan sanksi tidak akan mematahkan tekad Iran. Ia menegaskan negaranya akan mempertahankan keamanan, martabat, dan sekutunya, meskipun tidak mencari perang.

Di sisi lain, para pemimpin Iran disebut mengkhawatirkan dampak tekanan ekonomi yang lebih besar. Menurut tiga pejabat Iran, sanksi tambahan dapat memperburuk kondisi ekonomi, memicu kembali gejolak domestik, serta semakin mengikis legitimasi pemerintah Iran.

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Iran juga telah menyerang pangkalan militer AS dan sejumlah infrastruktur di negara-negara seperti Oman, Yordania, Kuwait, Israel, UEA, dan Arab Saudi.

Baca Juga: Won Korea Selatan Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Rabu (19/8) Pagi, Rupiah Melemah

Harga Minyak Kembali Naik

Ketidakpastian terkait konflik Iran dan status Selat Hormuz turut memberikan tekanan terhadap pasar minyak global.

Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$126 per barel selama konflik berlangsung. Level tersebut sekitar 75% lebih tinggi dibandingkan posisi sebelum perang.

Pada perdagangan Selasa, kontrak berjangka Brent ditutup naik 20 sen menjadi sedikit di atas US$91 per barel.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya energi bagi konsumen dan dunia usaha, sekaligus memperberat tekanan fiskal bagi sejumlah negara.

Seorang pejabat pemerintahan AS kembali memperingatkan bahwa Washington masih dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Iran melalui sanksi.

"Ada banyak instrumen yang dapat digunakan presiden dengan tekanan yang lebih besar dalam beberapa pekan dan bulan mendatang," kata pejabat tersebut.

Dengan belum adanya kesepakatan jangka panjang antara AS dan Iran, perkembangan di Selat Hormuz akan tetap menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar energi global. Setiap gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan LNG dunia serta meningkatkan volatilitas harga komoditas energi.