KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan mengumumkan calon ketua Federal Reserve (The Fed) pada Jumat (30/1/2026), di tengah meningkatnya spekulasi mengenai siapa yang akan memimpin bank sentral AS setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang. “Saya akan mengumumkan ketua The Fed besok pagi,” ujar Trump saat menghadiri acara di Kennedy Center, Kamis (29/1). Sebelumnya pada hari yang sama, dalam rapat kabinet pertamanya di 2026, Trump sempat mengatakan pengumuman tersebut akan dilakukan pekan depan, sembari kembali menegaskan dorongannya agar The Fed memangkas suku bunga secara agresif.
Baca Juga: Presiden Meksiko Minta Korea Selatan Tambah Konser BTS, Ini Alasannya Masa jabatan Powell sebagai ketua The Fed akan berakhir pada Mei. Namun, tekanan yang belakangan datang dari pemerintahan Trump termasuk penyelidikan Departemen Kehakiman terkait pembengkakan biaya renovasi gedung The Fed di Washington memunculkan spekulasi bahwa Powell bisa bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur hingga masa jabatannya berakhir pada 2028. The Fed, yang memangkas suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025, pada Rabu lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75% usai rapat kebijakan dua hari. Trump berulang kali menyatakan suku bunga seharusnya berada 2–3 poin persentase lebih rendah, level yang secara historis biasanya mencerminkan kondisi ekonomi yang melemah. Padahal, perekonomian AS tumbuh 4,4% secara tahunan pada kuartal ketiga, menurut data Departemen Perdagangan.
Baca Juga: Dunia 2026: Ini 10 Risiko Global Terbesar yang Ancam Kehidupan Manusia Dalam proses pencarian pengganti Powell yang telah berlangsung selama beberapa bulan, Trump terlihat berganti-ganti kandidat favorit, seiring upayanya meningkatkan pengaruh terhadap The Fed. Independensi bank sentral dari tekanan politik selama ini dipandang krusial untuk menjaga stabilitas inflasi. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump juga berupaya memberhentikan seorang gubernur The Fed dalam kasus yang kini berada di Mahkamah Agung. Selain itu, Departemen Kehakiman membuka penyelidikan pidana terhadap Powell terkait pernyataannya mengenai renovasi gedung The Fed langkah yang oleh Powell disebut sebagai “dalih” untuk menekannya dalam kebijakan moneter.
Baca Juga: Iran di Posisi 'Jari di Pelatuk', Armada AS Tiba di Timur Tengah Empat Kandidat Masuk Daftar Pendek Trump kini dikabarkan mengerucutkan pilihannya pada empat kandidat. Seluruh calon tersebut sejalan dengan pandangan Trump bahwa suku bunga perlu diturunkan bahkan hal itu disebut sebagai salah satu kriteria utama presiden dalam memilih ketua The Fed berikutnya. Rick Rieder, Chief Investment Officer pendapatan tetap global BlackRock, belakangan disebut sebagai kandidat terkuat. Rieder tidak memiliki pengalaman bekerja di pemerintahan maupun di The Fed, dan dipandang Trump sebagai sosok baru yang dapat membawa perubahan di institusi yang ia tuding memiliki bias politik.
Baca Juga: Konflik Global Jadi Berkah, Jet Tempur F-35 dan Rudal Patriot Lockheed Martin Laris Nama lain yang mencuat adalah mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh. Ia menyerukan perubahan besar di bank sentral, termasuk mengecilkan neraca The Fed, pandangan yang berpotensi bertentangan dengan preferensi Trump terhadap kebijakan moneter longgar. Trump hampir menunjuk Warsh sebagai ketua The Fed pada 2018, sebelum akhirnya memilih Powell, keputusan yang kerap ia sesali secara terbuka. Gubernur The Fed Christopher Waller juga masuk dalam bursa calon. Ia menjadi salah satu pembuat kebijakan pertama yang mengemukakan alasan ekonomi untuk penurunan suku bunga. Dengan menyatakan bahwa tarif tidak akan memicu inflasi dan ekonomi membutuhkan dukungan tambahan—pandangan yang kemudian mendapatkan dukungan lebih luas dan berkontribusi pada pemangkasan suku bunga tahun lalu.
Sementara itu, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, yang sempat menjadi kandidat awal terkuat, kini dipandang kecil kemungkinannya dipilih setelah Trump menyatakan lebih memilih mempertahankannya di posisinya saat ini. Hassett dikenal sebagai ekonom yang mendukung berbagai kebijakan Trump yang tidak lazim, termasuk tarif tinggi dan pengetatan imigrasi.