Trump Bertemu CEO Anthropic, Tetap Tolak Perlambatan Pengembangan AI



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi rencana pertemuan makan malam dengan CEO Anthropic Dario Amodei pada Minggu (27/9/2026) malam.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya desakan agar pemerintah AS memperketat regulasi dan pengawasan terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Meski akan bertemu Amodei, Trump kembali menegaskan penolakannya terhadap upaya memperlambat pengembangan AI.


Baca Juga: Iran Tegaskan Diplomasi Jadi Jalan Keluar, Trump Tolak Proposal Damai

Menurut Trump, AS perlu mempertahankan keunggulan teknologi atas China dan tidak boleh mengambil langkah yang berpotensi menghambat perkembangan industri AI domestik.

"Kami mungkin unggul sekitar satu setengah tahun dari China," kata Trump kepada Fox News saat menghadiri turnamen golf Presidents Cup di Illinois, Minggu dilansir dari Reuters.

Trump mengatakan AS saat ini berada di posisi terdepan dalam pengembangan AI dan tengah membangun infrastruktur teknologi dengan nilai investasi mencapai triliunan dollar AS.

"Kami memimpin, dan kami membangun tempat-tempat senilai triliunan dollar. Mengapa kami harus menyerahkan itu?" ujar Trump.

Trump juga mengakui bahwa Amodei memiliki kekhawatiran terkait risiko pengembangan AI yang terlalu cepat.

Namun, Trump menilai mempertahankan keunggulan teknologi AS atas China lebih penting dibandingkan memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut.

Rencana pertemuan Trump dengan Amodei sebelumnya dilaporkan Axios dan Reuters. Pertemuan ini terjadi ketika sejumlah pimpinan perusahaan teknologi besar juga mulai mendorong pembahasan mengenai batasan dan pengawasan terhadap pengembangan AI yang semakin canggih.

Baca Juga: 5 Pria Ditangkap Dekat Pangkalan AS di Inggris, Trump: Ingin Lakukan Kerusakan Besar

Perusahaan seperti OpenAI, Google DeepMind, Microsoft dan xAI termasuk di antara perusahaan yang terlibat dalam perdebatan mengenai perlunya pengamanan lebih ketat terhadap teknologi AI.

Desakan terhadap intervensi pemerintah federal menguat setelah OpenAI pada Juli lalu mengungkapkan bahwa sebuah agen AI otonom bertindak di luar kendali dalam uji keamanan dan meretas perusahaan lain.

Namun, Trump mengatakan insiden terkait agen AI yang bertindak secara tidak terkendali tidak perlu menjadi alasan untuk mengkhawatirkan perkembangan teknologi tersebut.

"Saya tidak mengkhawatirkannya," kata Trump, seraya menegaskan keyakinannya terhadap teknologi AI dan potensinya.

Baca Juga: Harga Solar Melonjak, Truk Listrik Lebih Murah di 6 Pasar Utama Eropa

Bill Gates ikut dorong regulasi AI

Amodei bukan satu-satunya tokoh teknologi yang berupaya mendorong Trump untuk mempertimbangkan regulasi AI.

Salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, dalam wawancara dengan NBC yang ditayangkan pada Minggu, mengatakan dirinya berharap dapat bertemu dengan Trump untuk membahas perkembangan AI dan risiko yang menyertainya.

"Saya berharap, mengingat pekerjaan saya selama hidup di bidang ini, dengan mengatakan betapa unik dan berbedanya teknologi ini serta betapa khawatirnya saya, akan menambah apa yang dia dengar dari orang lain," kata Gates.

Gates juga menilai pemerintah perlu terlibat dalam menentukan bentuk pengamanan dan pemantauan terhadap AI. Menurut dia, langkah tersebut perlu menjadi persyaratan dalam pengembangan teknologi.

Baca Juga: Anak Jepang 11 Tahun Ini Pecah Rekor Juara Asian Games 2026, Simak Rincian Olahraga!

"Anda membutuhkan penegak hukum dan politisi untuk masuk ke dalam diskusi mengenai seperti apa pengamanan dan pemantauan itu. Dan itu harus menjadi sesuatu yang diwajibkan," ujar Gates.

Trump sebelumnya menyebut berbagai kekhawatiran mengenai AI sebagai sebuah "hoaks".

Sebaliknya, Gates menilai risiko tersebut nyata dan penerapan pengamanan tidak akan secara drastis menghambat perkembangan industri.

"Ini sama sekali bukan hoaks," kata Gates kepada NBC.

Kekhawatiran mengenai risiko AI sebenarnya bukan isu baru. Namun, perdebatan kembali menguat setelah sejumlah peneliti di perusahaan AI terkemuka mulai memberikan perkiraan waktu dan probabilitas terkait potensi risiko ekstrem dari teknologi tersebut.

Mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon memperingatkan bahwa AI berpotensi menyebabkan kehancuran manusia pada akhir dekade ini.

Pernyataan tersebut kemudian mendorong sejumlah anggota parlemen AS menyerukan aturan baru untuk mengatur perkembangan teknologi AI.

Baca Juga: Yunani Kejutkan Jerman 1-0, Debut Kandang Klopp Berakhir dengan Kekalahan

Evan Hubinger, pemimpin bidang alignment science di Anthropic, juga menyampaikan peringatan serupa.

Ia menyebut terdapat kemungkinan lebih dari 10% terjadinya skenario tersebut dalam satu dekade mendatang.