Trump Bertemu Pimpinan NATO di Tengah Ketegangan Aliansi Imbas Konflik Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menerima Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih pada Rabu (8/4). Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan hubungan antara AS dan sekutu Eropa akibat konflik dengan Iran.

Perang Iran yang kini memasuki fase krusial telah mendorong hubungan transatlantik ke titik yang disebut analis sebagai “berbahaya”. Trump bahkan mengancam akan menarik AS dari aliansi militer tersebut, sembari mengkritik negara-negara Eropa karena dinilai tidak memberikan dukungan yang memadai terhadap kampanye militer AS-Israel di Iran.

Meski demikian, Trump pada Selasa menyatakan bahwa serangan akan dihentikan sementara setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.

Selat Hormuz Jadi Titik Tekan


Trump juga mendesak negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk untuk membantu membuka Selat Hormuz, yang saat ini terancam ditutup oleh Iran. Namun, diplomat Eropa menyebut negara-negara Uni Eropa enggan terlibat dalam operasi militer seperti pembersihan ranjau selama konflik masih berlangsung.

Baca Juga: Wapres AS Sebut Trump “Tak Sabar”, Dorong Kemajuan Negosiasi dengan Iran

Iran sendiri telah menyatakan akan terus menghambat jalur strategis tersebut hingga perang berakhir. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

NATO di Titik Kritis

Ketegangan akibat konflik Iran turut memperburuk hubungan antara AS dan sekutunya, di tengah isu lain seperti perang di Ukraina, ambisi AS terhadap Greenland, serta perdebatan mengenai pembagian beban anggaran pertahanan.

Oana Lungescu, mantan juru bicara NATO, menyebut situasi ini sebagai momen berbahaya bagi aliansi transatlantik. “Ini adalah titik berbahaya bagi aliansi,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Rutte diperkirakan akan mendorong pemulihan perdagangan maritim global serta mencoba meredakan kritik Trump terhadap NATO. Ia juga akan menyoroti peningkatan belanja pertahanan oleh negara-negara Eropa.

Seorang pejabat NATO menyebut pembahasan juga akan mencakup kerja sama industri pertahanan serta perkembangan konflik di Iran dan Ukraina.

Peran NATO di Timur Tengah Dipertanyakan

Meski demikian, belum jelas apakah NATO akan memainkan peran signifikan dalam konflik Timur Tengah. Aliansi ini pada dasarnya berfokus pada pertahanan kawasan Amerika Utara dan Eropa.

Baca Juga: Zelensky Dukung Gencatan Senjata AS-Iran, Desak Rusia Hentikan Serangan ke Ukraina

Diplomat Eropa menyebut Rutte tidak memiliki mandat untuk menjanjikan keterlibatan NATO dalam operasi di Selat Hormuz. Namun, ia diperkirakan akan tetap mendorong dialog mengenai kontribusi anggota NATO, terutama setelah tercapainya gencatan senjata.

Trump Kritik NATO

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali menyebut NATO sebagai “macan kertas” yang tidak efektif saat dibutuhkan. Bahkan, ketika ditanya mengenai kemungkinan keluar dari NATO, Trump menjawab, “Bukankah Anda akan melakukannya jika berada di posisi saya?”

Fokus Trump pada konflik Timur Tengah juga memicu kekhawatiran bahwa dukungan militer AS untuk Ukraina akan berkurang. Hal ini menimbulkan kecemasan di kalangan sekutu Eropa, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa Trump kecewa terhadap minimnya dukungan sekutu dalam operasi militer terhadap Iran. “Seperti yang ia katakan, Amerika Serikat akan mengingat hal ini,” ujarnya.