KONTAN.CO.ID - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan tanda-tanda belum akan segera berakhir. Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer harus dilanjutkan hingga tujuan tercapai, sementara Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel. Ketegangan meningkat setelah serangan terhadap kapal tanker di perairan Irak serta kapal-kapal lain di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak global.
Baca Juga: AS Buka Investigasi Dagang Baru, Trump Siapkan Tarif ke China hingga Indonesia Perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS dan Israel hampir dua pekan lalu telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar warga Iran dan Lebanon, serta meluas hingga wilayah Lebanon. Konflik tersebut juga mengguncang pasar energi global dan sistem transportasi internasional. Menurut UNICEF, lebih dari 1.100 anak dilaporkan tewas atau terluka akibat konflik tersebut. Dalam sebuah rapat umum di negara bagian Kentucky menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang, Trump menyatakan Amerika Serikat telah memenangkan perang, tetapi tetap perlu menuntaskan operasi militer. “Kita tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan? Kita harus menyelesaikan tugas ini,” kata Trump.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Jatuh Kamis (12/3), Harga Minyak Naik di Tengah Konflik Timteng Harga minyak yang sebelumnya melonjak hingga mendekati US$120 per barel sempat turun ke sekitar US$90, namun kembali naik hampir 5% pada Rabu (11/3) dan terus menguat pada perdagangan Asia Kamis (12/3) akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Serangan terbaru menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas meskipun Pentagon menyebut operasi udara yang dilakukan merupakan yang paling intens sejak awal konflik. Perahu bermuatan bahan peledak yang diduga milik Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak hingga terbakar dan menewaskan satu awak kapal. Sebelumnya, tiga kapal juga dilaporkan terkena proyektil di perairan Teluk. Analis pasar dari IG Tony Sycamore menilai, serangan tersebut kemungkinan merupakan respons Iran terhadap langkah negara-negara konsumen energi untuk menurunkan harga minyak. “Ini tampaknya merupakan respons langsung dan tegas dari Iran terhadap pengumuman IEA mengenai pelepasan besar-besaran cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga,” ujarnya.
Baca Juga: Bursa Asia Terkoreksi Kamis (12/3), Harga Minyak Naik, Iran Serang Kapal di Teluk Jalur Minyak Dunia Terancam International Energy Agency (IEA) sebelumnya merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global guna meredam salah satu guncangan harga energi terbesar sejak 1970-an. Trump mengatakan langkah tersebut akan membantu menekan harga energi. “Keputusan IEA ini akan secara signifikan menurunkan harga minyak seiring kami mengakhiri ancaman terhadap Amerika dan dunia,” ujarnya.
Baca Juga: Bursa Asia Terkoreksi Kamis (12/3), Harga Minyak Naik, Iran Serang Kapal di Teluk Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, Trump telah mengizinkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve mulai pekan depan. Namun hingga kini belum ada kepastian kapal dapat berlayar dengan aman melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi rute sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Seorang juru bicara militer Iran bahkan menyatakan selat tersebut kini berada di bawah kendali negaranya. Negara-negara G7 yang terdiri dari AS, Kanada, Jepang, Italia, Inggris, Jerman, dan Prancis tengah mempertimbangkan opsi pengawalan kapal untuk menjaga kebebasan navigasi di kawasan Teluk. Trump mengklaim militer AS telah menghancurkan 58 kapal angkatan laut Iran dan menyebut kemampuan militer Teheran semakin melemah.
Baca Juga: Kontribusi ke IEA: AS Bakal Lepas 172 Juta Barel dari Cadangan Minyak Di sisi lain, Iran memperingatkan konflik dapat memicu guncangan ekonomi global yang lebih besar. “Bersiaplah menghadapi harga minyak US$200 per barel, karena harga minyak sangat bergantung pada keamanan kawasan yang kini telah Anda destabilkan,” kata juru bicara militer Iran. Iran juga memperingatkan bahwa pusat-pusat ekonomi dan perdagangan di kawasan dapat menjadi target sah jika fasilitas pelabuhan negaranya diserang. Konflik ini semakin memperbesar risiko lonjakan harga energi global dan menambah ketidakpastian bagi perekonomian dunia.