Trump dan Xi Bertemu di Gedung Putih, Belum Ada Terobosan Dagang dan AI



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Gedung Putih, Kamis (24/9/2026), dalam pertemuan yang sarat simbolisme.

Namun, belum terlihat terobosan baru dalam sejumlah isu ekonomi dan strategis, mulai dari perdagangan, teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga Taiwan.

Pertemuan tersebut menjadi pertemuan kedua Trump dan Xi sepanjang tahun ini sekaligus kunjungan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade.


Dalam jamuan makan malam kenegaraan, Trump menekankan hubungan personalnya dengan Xi dan mengatakan hubungan kedua negara telah mengalami kemajuan dalam perdagangan sejak kunjungannya ke China pada Mei lalu.

Baca Juga: FCGF 2026 Hari Kedua: Ini Pandangan Business China tentang Politik Dunia

Xi mengatakan kedua negara telah melakukan pembicaraan mendalam dan mencapai "pemahaman bersama mengenai banyak isu" yang memberikan panduan strategis baru bagi hubungan China-AS. Namun, ia tidak merinci kesepakatan yang dimaksud.

Xi juga menekankan bahwa kepentingan ekonomi China dan AS sangat saling terkait. Menurut dia, persaingan kedua negara seharusnya berlangsung secara sehat.

"Perusahaan-perusahaan AS dipersilakan datang ke China," kata Xi, seraya berharap perusahaan China diperlakukan secara adil di AS.

Perdagangan dan teknologi jadi sorotan

Salah satu isu utama yang menjadi perhatian pasar adalah persaingan teknologi antara AS dan China, terutama dalam pengembangan AI.

Pertemuan berlangsung ketika kedua negara berlomba mengembangkan teknologi AI, sementara pemerintah AS mempertahankan pembatasan ekspor sejumlah teknologi canggih ke China.

Xi mengatakan kedua negara perlu memastikan pengembangan AI tetap berada di bawah kendali manusia.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Jumat (25/9), Pasar Timbang Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Namun, analis menilai persaingan teknologi antara Washington dan Beijing berpotensi membatasi ruang bagi kesepakatan yang lebih substantif.

Daftar tamu jamuan kenegaraan juga mencerminkan besarnya kepentingan sektor teknologi dalam hubungan kedua negara.

Sejumlah pimpinan perusahaan teknologi AS hadir, antara lain CEO Apple Tim Cook, Amazon Jeff Bezos, Alphabet Sundar Pichai, OpenAI Sam Altman, Tesla Elon Musk dan Nvidia Jensen Huang.

Meski demikian, orang-orang yang mengetahui rencana pemerintah AS mengatakan Trump kemungkinan tetap mempertahankan kontrol ekspor teknologi AS yang selama ini menjadi salah satu tuntutan Beijing untuk dilonggarkan.

Isu Taiwan dan Iran

Selain perdagangan dan teknologi, Taiwan menjadi salah satu isu sensitif dalam pertemuan Trump dan Xi.

Xi mendesak AS menentang kemerdekaan Taiwan, menurut laporan kantor berita resmi China Xinhua. Gedung Putih belum menerbitkan ringkasan resmi mengenai pembicaraan tersebut.

Sebelumnya, Trump mengatakan paket penjualan senjata ke Taiwan senilai sekitar US$14 miliar masih ditahan. Trump menyebut paket tersebut sebagai alat negosiasi.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 2% Sepekan, Dolar AS dan Suku Bunga The Fed Jadi Beban

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara pemerintah Taiwan menolak klaim tersebut. Persoalan Taiwan selama ini menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Washington dan Beijing.

Pertemuan Trump dan Xi juga berlangsung ketika perang AS-Iran masih menekan pasar energi global. Xi menyatakan dukungan agar AS dan Iran kembali pada gencatan senjata dan kemudian melakukan perundingan perdamaian.

Namun, belum terlihat indikasi bahwa Beijing akan memberikan tekanan terhadap Teheran untuk memenuhi tuntutan Washington.

Hubungan personal dan kepentingan nasional

Mantan pejabat senior Gedung Putih untuk Asia Timur, Edgard Kagan, menilai terdapat perbedaan pendekatan dalam retorika kedua pemimpin.

"Presiden Trump membingkainya sebagai hubungan personal dengan Xi," kata Kagan, yang kini bekerja di Center for Strategic and International Studies.

Menurut Kagan, Xi justru menggunakan pendekatan yang lebih berhati-hati dan menekankan hubungan antarnegara dibandingkan hubungan personal kedua pemimpin.

Baca Juga: China Dorong Industri Film AI, Biaya Produksi Anjlok hingga Cuma Ratusan Yuan

Trump dan Xi sebelumnya terlibat dalam perang dagang yang mendorong kenaikan tarif dan meningkatkan ketidakpastian bagi perusahaan global. Setelah sejumlah negosiasi, AS kemudian melonggarkan sebagian kebijakan tarifnya.

Pertemuan terbaru di Washington menjadi penting bagi pasar karena arah hubungan kedua negara berpotensi mempengaruhi perdagangan global, rantai pasok teknologi, investasi perusahaan AS di China, serta akses Beijing terhadap teknologi canggih AS.

Namun, hingga pertemuan berakhir, isu-isu utama tersebut masih menunjukkan lebih banyak kesamaan pandangan secara umum dibandingkan kesepakatan konkret.