Trump dan Xi Kompak Tekan Iran, Selat Hormuz Jadi Taruhan Energi Dunia



KONTAN.CO.ID -  BEIJING. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim telah mencapai kesepahaman dengan Presiden China Xi Jinping terkait konflik Iran. 

Dalam pertemuan keduanya di Beijing, Trump mengatakan Washington dan Beijing sama-sama ingin Iran segera membuka kembali Selat Hormuz dan menyelesaikan konflik lewat kesepakatan diplomatik.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi dunia. 


Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga minyak hingga mendekati US$ 109 per barel, karena jalur tersebut menjadi lintasan utama sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

Trump menegaskan kesabarannya terhadap Iran mulai habis. Ia mendesak Teheran segera menyepakati perundingan baru terkait program nuklirnya.

"Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan kami ingin selat itu dibuka," kata Trump saat tampil bersama Xi di Beijing.

Baca Juga: Trump Tolak Proposal Balasan Iran, Selat Hormuz Kembali Panas

Konflik memanas setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. 

Sebagai respons, Iran membatasi hampir seluruh lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Meski serangan langsung AS ke Iran telah dihentikan bulan lalu, Washington masih menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Teheran bersikeras tidak akan membuka kembali jalur pelayaran tersebut sampai blokade dicabut. Trump bahkan mengancam akan kembali menyerang Iran bila negosiasi gagal tercapai.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran menerima sinyal dari Washington bahwa komunikasi diplomatik masih terbuka. Namun, ia menegaskan Teheran belum mempercayai AS sepenuhnya.

Iran juga menolak menghentikan program nuklirnya maupun menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya. Pemerintah Iran terus membantah tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan senjata nuklir.

Baca Juga: Ultimatum Keras Trump: Buka Selat Hormuz atau Pembangkit Energi Iran Hancur!

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan Iran harus segera membuat kesepakatan sebelum situasi semakin memburuk. "Saya tidak akan terlalu sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," ujar Trump.

Selain isu nuklir, pembicaraan Trump dan Xi juga menyinggung peran China dalam konflik tersebut. Gedung Putih menyebut Xi menolak rencana Iran mengenakan tarif atau pungutan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Trump juga mengklaim Xi berjanji tidak akan memasok peralatan militer kepada Iran. Menurutnya, komitmen itu menjadi sinyal penting di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan.

Meski demikian, China tetap mengambil posisi hati-hati. Kementerian Luar Negeri China menyebut perang Iran seharusnya tidak pernah terjadi dan tidak ada alasan konflik itu terus berlanjut. Beijing juga membantah tuduhan akan mengirim senjata ke Iran.

Analis menilai China kemungkinan enggan menekan Iran terlalu keras karena Teheran masih dianggap sebagai mitra strategis untuk menyeimbangkan pengaruh AS di Timur Tengah.

Baca Juga: Trump Kembali Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz atau Infrastruktur Energi Diserang

Trump juga mengisyaratkan tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak Iran. Keputusan itu disebut akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan.

Perang Iran kini mulai menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Konflik berkepanjangan memicu tekanan ekonomi global, terutama dari lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok internasional.

Sementara itu, upaya diplomasi untuk menghentikan perang masih berjalan alot. Pembicaraan yang dimediasi Pakistan sempat terhenti setelah Iran dan AS saling menolak proposal terbaru masing-masing pihak.

Iran menyatakan siap kembali ke meja diplomasi, tetapi juga siap melanjutkan perlawanan militer bila diperlukan.

Di tengah situasi itu, ketegangan juga meluas ke Lebanon. Pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran kembali meningkat menjelang berakhirnya gencatan senjata akhir pekan ini. 

Baca Juga: Ultimatum Baru Trump ke Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka, Atau Hancur!

Israel terus mendesak pelucutan senjata Hizbullah dalam pembicaraan yang berlangsung dengan pejabat Lebanon.

Bagi pasar global, arah konflik Iran kini tidak hanya menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga masa depan harga energi dunia dan keamanan jalur perdagangan internasional.