KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran untuk segera “bersikap serius” dalam mencapai kesepakatan guna mengakhiri hampir empat pekan konflik. Pernyataan ini muncul setelah Teheran menyatakan masih meninjau proposal AS, namun menegaskan belum ada pembicaraan untuk menghentikan perang. Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung telah menimbulkan dampak ekonomi dan kemanusiaan yang meluas, termasuk kelangkaan bahan bakar secara global yang memaksa negara dan pelaku usaha mengambil langkah darurat untuk menekan dampaknya.
Negosiasi Tidak Langsung dan Peran Mediator
Upaya diplomasi antara AS dan Iran saat ini berlangsung secara tidak langsung melalui perantara, termasuk Pakistan, serta didukung oleh Turki dan Mesir.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa komunikasi tersebut bukanlah negosiasi resmi. “Pesan yang disampaikan melalui negara sahabat dan respons kami bukanlah negosiasi atau dialog,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan Iran saat ini adalah melanjutkan perlawanan dan tidak berniat berunding.
Baca Juga: Rusia Pertimbangkan Kembali Larangan Ekspor Bensin Jika Diperlukan Sebaliknya, Trump mengklaim Iran telah “hancur secara militer” dan mendesak Teheran segera menyepakati kesepakatan sebelum terlambat.
Perbedaan Tajam dan Tuntutan Maksimalis
Perundingan diperkirakan akan sulit karena perbedaan posisi yang tajam. Proposal AS dilaporkan mencakup 15 poin, termasuk pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan rudal, hingga kontrol atas Selat Hormuz. Sementara itu, Iran memperkeras sikap dengan menuntut jaminan keamanan dari serangan di masa depan, kompensasi atas kerugian perang, serta kendali formal atas Selat Hormuz. Iran juga menginginkan Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata. Sejumlah diplomat Barat menilai posisi AS cenderung “maksimalis” dan mempertanyakan apakah Washington benar-benar ingin mengakhiri konflik atau hanya berupaya meredam gejolak pasar sembari mempersiapkan operasi militer lanjutan.
Eskalasi Militer Berlanjut
Di lapangan, konflik masih terus memanas. Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, memicu sirene peringatan di Tel Aviv dan melukai sedikitnya lima orang. Sebaliknya, serangan juga terjadi di wilayah Iran, termasuk di kota Bandar Abbas dan Shiraz yang menewaskan warga sipil. Fasilitas di Isfahan juga dilaporkan terkena dampak serangan. Pihak Israel mengklaim telah menewaskan komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran dan menyatakan masih memiliki banyak target militer lainnya.
Dampak Global: Krisis Energi hingga Ancaman Pangan
Harapan meredanya konflik sempat mendorong penguatan pasar saham global, namun kembali memudar seiring lonjakan harga minyak. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—memicu krisis energi terbesar dalam sejarah modern. Dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari industri plastik, maskapai penerbangan, hingga ritel dan pariwisata. Beberapa pemerintah bahkan mempertimbangkan kebijakan bantuan seperti saat pandemi COVID-19.
Baca Juga: India Amankan Pasokan Minyak 60 Hari di Tengah Gejolak Timur Tengah Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan puluhan juta orang berisiko mengalami kelaparan akut jika konflik berlanjut hingga Juni. Petani di berbagai negara juga menghadapi kesulitan mendapatkan solar untuk operasional. CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, menyebut tindakan Iran sebagai “terorisme ekonomi” yang mengancam stabilitas global.
Risiko Regional Meningkat
Serangan lintas kawasan juga terus terjadi. Di Abu Dhabi, dua orang tewas akibat serpihan rudal balistik yang berhasil dicegat, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka. Dengan eskalasi militer yang berlanjut dan negosiasi yang belum menemukan titik temu, konflik ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian global, khususnya di sektor energi dan keamanan internasional.