Trump Desak Paus Pahami Ancaman Iran, Kritiknya Picu Polemik di AS



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam kepada Paus Leo, memanaskan tensi politik dan agama di tengah konflik yang terus memburuk di Timur Tengah. 

Trump menegaskan, penting bagi pemimpin Gereja Katolik itu untuk memahami bahwa Iran merupakan ancaman global yang tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Berbicara di Gedung Putih, Trump menyatakan Paus bebas menyampaikan pandangannya, namun ia menilai sikap Paus terhadap konflik dinilai keliru. 


"Paus boleh mengatakan apa yang dia mau, tapi Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dunia akan sangat berbahaya jika itu terjadi," kata Trump.

Baca Juga: Paus Leo XIV: Dunia Dikuasai Segelintir Tiran, Perang & Eksploitasi Harus Dihentikan

Pernyataan ini mempertegas perbedaan tajam antara keduanya. Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo vokal mengkritik perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. 

Ia menyebut konflik tersebut sebagai “kegilaan perang” dan menyerukan perdamaian.

Namun, Trump justru mengambil posisi sebaliknya. Ia berulang kali menilai Iran sebagai ancaman utama global dan bahkan menyebut Paus “lemah” dalam menyikapi isu geopolitik. Trump juga mengklaim memiliki peran dalam penunjukan Paus Leo—klaim yang turut memicu kontroversi.

Ketegangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang semakin luas. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari dibalas dengan serangan balasan Iran ke Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. 

Rangkaian serangan itu juga meluas ke Lebanon, menimbulkan korban jiwa hingga ribuan orang serta memaksa jutaan warga mengungsi.

Baca Juga: Donald Trump Tarik Rem Ekonomi AS di Tengah Gejolak Harga BBM dan Politik Midterm

Di tengah situasi tersebut, Paus Leo menegaskan tidak akan mundur dari kritiknya terhadap perang, meski mendapat tekanan dari Trump. Ia memastikan akan terus menyuarakan perdamaian.

Pernyataan Trump terhadap Paus memicu reaksi luas di dalam negeri AS. Kritik datang dari berbagai kalangan umat Kristen lintas spektrum politik yang menilai serangan terhadap pemimpin agama sebagai langkah yang tidak tepat.

Perdebatan ini mencerminkan benturan dua pendekatan besar: pendekatan keamanan keras ala Trump yang menitikberatkan pencegahan nuklir, dan pendekatan moral Paus yang menyoroti dampak kemanusiaan perang. 

Baca Juga: Kilang Terbesar Terbakar, Australia Pastikan Tak Ada Pembatasan BBM

Di tengah konflik yang belum mereda, perbedaan ini justru mempertegas bahwa isu Iran kini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga menjadi pertarungan narasi antara kekuatan militer dan suara moral global.