KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak negara-negara sekutu ikut membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia. Namun, dua sekutu utama di kawasan Indo-Pasifik, Jepang dan Australia, menyatakan belum berencana mengirim kapal perang untuk mengawal pelayaran di kawasan tersebut. Permintaan itu muncul ketika perang antara AS dan Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga dan memicu gejolak di Timur Tengah serta pasar energi global. Sekitar 20% pasokan energi dunia melewati Selat Hormuz.
Trump menilai negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari Teluk Persia seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga jalur tersebut.
Baca Juga: Tolak Permintaan AS, Jepang Belum Berencana Kirim Misi Pengawalan ke Selat Hormuz “Saya menuntut negara-negara ini untuk datang dan melindungi daerah terirotial mereka karena itu termasuk wilayah mereka,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One. Trump menyebut pemerintahannya telah menghubungi tujuh negara untuk membentuk koalisi pengamanan, meski tidak merinci negara yang dimaksud. Dalam unggahan media sosial sebelumnya, ia berharap China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris ikut terlibat.
Jepang dan Australia menolak
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya belum memutuskan untuk mengirim kapal pengawal ke Timur Tengah. Jepang memperoleh sekitar 95% kebutuhan minyaknya dari kawasan tersebut. “Kami belum membuat keputusan apa pun mengenai pengiriman kapal pengawal,” ujar Takaichi di parlemen. Sementara itu, Australia juga menyatakan tidak akan mengirim kapal angkatan laut untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Menteri kabinet Australia Catherine King mengatakan pemerintahnya memahami pentingnya jalur tersebut, namun negaranya tidak diminta berkontribusi dalam operasi pengamanan.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Senin (16/3) Pagi, Trump Desak Negara Lain Amankan Selat Hormuz Trump juga menekan China agar membantu membuka kembali jalur pelayaran tersebut sebelum pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping di Beijing akhir bulan ini. “Saya pikir China juga harus membantu karena 90% minyaknya melewati selat itu,” kata Trump, seraya mengisyaratkan kunjungannya ke Beijing bisa ditunda jika tidak ada dukungan. Selain itu, Trump memperingatkan masa depan NATO akan sangat buruk” jika sekutu Eropa tidak membantu Washington menjaga keamanan Selat Hormuz. Para menteri luar negeri Uni Eropa dijadwalkan membahas kemungkinan memperkuat misi angkatan laut kecil di Timur Tengah, meski belum ada keputusan untuk memperluas operasi hingga Selat Hormuz. Ketegangan di kawasan membuat pasar energi global tetap waspada. Harga minyak mentah Brent crude oil naik lebih dari 1% menjadi di atas US$ 104 per barel di perdagangan Asia. Konflik juga mengganggu penerbangan internasional setelah sejumlah hub utama Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi membatasi operasional bandara. Ribuan penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang terlantar.
Baca Juga: Trump Ancam Bakal Serang pulau Kharg Jika Iran Tetap Tutup Selat Hormuz Di Dubai, serangan drone memicu kebakaran pada tangki bahan bakar dan sempat menghentikan operasi bandara. Sementara Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat 34 drone di wilayah timurnya dalam satu jam. Meski pejabat AS memperkirakan konflik dapat berakhir dalam beberapa pekan dan harga energi akan turun setelahnya, Iran menegaskan siap bertahan selama diperlukan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membantah klaim Washington bahwa Teheran ingin berunding. "Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan tidak pernah meminta negosiasi. Kami siap membela diri selama diperlukan," ujarnya.