KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mengunjungi China pada 14–15 Mei 2026 untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Kunjungan ini sempat tertunda akibat konflik Iran yang masih berlangsung. Rencana ulang perjalanan tersebut menandai upaya Trump untuk tetap menunjukkan kendali di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sekaligus menjaga hubungan dengan China yang tengah memanas. Awalnya, kunjungan dijadwalkan berlangsung lebih awal. Namun, situasi perang Iran memaksa penundaan.
Trump menyatakan persiapan kini sedang dimatangkan dan berharap pertemuan itu menjadi momen penting bagi kedua negara. Ia juga berencana mengundang Xi untuk kunjungan balasan ke Washington pada akhir tahun ini.
Baca Juga: China Desak AS dan Israel Setop Serangan, Peringatkan Risiko Lingkaran Setan Perang Pihak China belum memberikan konfirmasi rinci terkait agenda tersebut. Seperti biasa, Beijing cenderung tidak mengumumkan jadwal pemimpin mereka jauh hari sebelumnya. Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Trump ke China sejak 2017, sekaligus pertemuan tatap muka pertama kedua pemimpin sejak Oktober lalu di Korea Selatan, ketika keduanya menyepakati gencatan senjata dalam konflik dagang. Meski dibalut agenda diplomatik, pertemuan ini diperkirakan tidak lepas dari sejumlah isu sensitif. Selain kerja sama perdagangan, termasuk sektor pertanian dan suku cadang pesawat, kedua negara juga akan membahas ketegangan lama seperti Taiwan. AS di bawah Trump diketahui meningkatkan penjualan senjata ke Taiwan, langkah yang memicu protes keras dari Beijing yang mengklaim wilayah tersebut. Di sisi lain, perang Iran juga menjadi faktor penting dalam pembicaraan. Konflik tersebut telah mengguncang ekonomi global, terutama pasar energi.
Baca Juga: Trump Tunda Kunjungan ke Beijing, Konflik Iran Hambat Normalisasi AS–China Trump bahkan meminta dukungan negara-negara konsumen minyak besar, termasuk China, untuk menekan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz. Namun hingga kini, China, sebagai importir minyak terbesar dunia, belum merespons langsung permintaan tersebut. Juru bicara Gedung Putih menyebut Xi memahami alasan penundaan kunjungan. "Presiden Xi memahami bahwa sangat penting bagi presiden untuk berada di sini selama operasi tempur ini," ujarnya. Meski jadwal sudah ditetapkan, perkembangan perang Iran masih berpotensi memengaruhi dinamika pertemuan dua pemimpin ekonomi terbesar dunia tersebut.