KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Senin (16/3) pagi, mengikis kenaikan tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya. Koreksi ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan kerja sama internasional untuk melindungi Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas global. Melansir data Reuters, harga minyak mentah Brent kontrak pengiriman Mei turun 24 sen atau 0,23% ke level US$ 102,90 per barel.
Fokus Pengamanan Jalur Energi
Presiden Donald Trump pada hari Minggu (15/3) menegaskan tuntutannya agar negara-negara lain ikut membantu melindungi pintu gerbang energi yang kritis tersebut. Washington dilaporkan sedang dalam pembicaraan dengan beberapa negara untuk melakukan patroli di kawasan tersebut. Meskipun Trump menyatakan AS tetap menjalin kontak dengan Iran, ia meragukan kesiapan Teheran untuk melakukan negosiasi serius guna mengakhiri konflik. Di sisi lain, ketegangan militer terus meningkat. Trump mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, setelah sebelumnya menghantam sasaran militer di sana pada akhir pekan. Sebagai informasi, Pulau Kharg menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran. Menanggapi hal tersebut, pihak Teheran bersikap menantang dan mengancam akan melakukan pembalasan lebih lanjut. Ketegangan ini sempat merembet ke Uni Emirat Arab (UEA). Drone Iran dilaporkan menghantam terminal minyak utama di Fujairah tak lama setelah serangan di Kharg. Baca Juga: CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI, Saham Turun 7% Meski operasional pemuatan minyak di Fujairah telah dilanjutkan, namun belum dapat dipastikan apakah aktivitas tersebut sudah kembali normal sepenuhnya. Fujairah merupakan lokasi penting yang berada di luar Selat Hormuz dan menjadi jalur keluar bagi sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Murban milik UEA, atau setara dengan 1% permintaan dunia.Strategi Cadangan Minyak Global
Untuk meredam gejolak harga akibat perang di Timur Tengah, International Energy Agency (IEA) mengumumkan langkah darurat. Mengutip pernyataan resmi IEA pada hari Minggu (15/3), lembaga tersebut akan segera mengalirkan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak ke pasar. Berikut adalah rincian rencana pelepasan cadangan minyak tersebut:- Wilayah Asia dan Oseania: Pasokan akan dilepaskan segera untuk menstabilkan pasar regional.
- Wilayah Eropa dan Amerika: Cadangan minyak akan tersedia dan mulai didistribusikan pada akhir Maret 2026.
- Tujuan Utama: Mengatasi lonjakan harga ekstrem yang disebabkan oleh gangguan distribusi di Selat Hormuz.