KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berharap perang dengan Iran segera berakhir. Namun, di tengah harapan tersebut, konflik justru meluas setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Yaman dan kelompok Houthi meluncurkan drone serta rudal ke sejumlah wilayah di Arab Saudi. Konflik yang memasuki bulan ketujuh tersebut kini membuka front baru di Yaman. Perkembangan ini meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global, terutama setelah serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi dan terganggunya jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan bergerak cepat di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Serangan terhadap Arab Saudi juga terjadi bersamaan dengan kerusakan pada jaringan pipa minyak East-West Saudi Arabia. Kondisi tersebut memperluas dampak konflik Iran ke kawasan Teluk dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
Seiring meluasnya konflik ke Yaman, AS memperketat peringatan perjalanan bagi Arab Saudi. Pemerintah AS melarang pegawainya melakukan perjalanan dalam radius 20 mil atau sekitar 30 kilometer dari perbatasan Arab Saudi dengan Yaman.
Baca Juga: Stok Minyak Singapura Capai 42,64 Juta Barel, Indonesia Serap Ekspor Bensin Terbesar Meski situasi keamanan memburuk, Trump pada Rabu (16/9/2026) malam waktu setempat mengatakan dirinya berharap perang segera berakhir. "Yah, mudah-mudahan kita sudah mendekati akhir perang," ujar Trump kepada wartawan.
Trump Sebut Iran Ingin Kesepakatan
Trump juga kembali menyatakan bahwa Iran menginginkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. "Mereka ingin membuat kesepakatan. Kita lihat bagaimana hasilnya," kata Trump merujuk pada Iran. Trump juga mengatakan dirinya telah menerima komunikasi langsung dari Iran, meski tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai bentuk maupun isi komunikasi tersebut. Perang yang melibatkan AS, Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari. Sejak saat itu, Trump telah menyampaikan sejumlah tujuan dan batas waktu yang berubah-ubah terkait konflik tersebut. Perluasan perang ke Yaman berpotensi semakin memperburuk gangguan pasokan energi global. Konflik telah mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang membawa sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Selain Selat Hormuz, jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi juga menghadapi tekanan. Trader memperkirakan penutupan berkepanjangan pipa minyak East-West Arab Saudi dapat mengurangi pasokan minyak global hingga sekitar 4%. Arab Saudi sendiri belum memberikan kepastian mengenai kapan operasi pipa tersebut akan kembali normal. Pipa tersebut sebelumnya menjadi jalur penting untuk mengalirkan minyak dari wilayah produksi di bagian timur menuju pelabuhan di kawasan Laut Merah, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Baca Juga: Bank Sentral Taiwan Tahan Suku Bunga, Proyeksi Ekonomi 2026 Naik Jadi 11,48% Harga Minyak Masih Tinggi
Ketegangan di Timur Tengah turut menjaga harga minyak pada level tinggi. Harga minyak mentah Brent sempat berada di sekitar US$108 per barel pada Rabu, mendekati level tertinggi sejak Mei. Sementara itu, rata-rata harga eceran diesel di AS menembus US$6,30 per galon untuk pertama kalinya dan mencatat rekor tertinggi. Namun, harga minyak kemudian bergerak turun pada perdagangan awal Kamis setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman. Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Kontrak berjangka Brent turun US$1,24 atau 1,2% menjadi US$104,59 per barel pada pukul 00.49 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,14 atau 1,1% menjadi US$101,29 per barel. Kenaikan harga minyak dan gas akibat perang AS-Israel dengan Iran juga menjadi persoalan ekonomi dan politik penting bagi Partai Republik menjelang pemilihan sela AS pada November mendatang.
Trump Dijadwalkan Bertemu Pemimpin Negara Teluk
Di tengah meluasnya konflik, Trump diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin negara-negara Teluk di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa mendatang. Menurut laporan Axios yang dikutip Reuters, pertemuan tersebut akan membahas langkah selanjutnya terkait konflik di kawasan. Trump disebut akan bertemu dengan para pemimpin atau menteri luar negeri negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait dan Oman. Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait laporan tersebut.
Baca Juga: Paus Leo: Konflik Timur Tengah Menguji Hubungan Yahudi dan Kristen Houthi Serang Target di Arab Saudi
Sementara itu, kelompok Houthi merilis video yang diklaim memperlihatkan pasukannya merebut kendaraan lapis baja milik pasukan yang didukung Arab Saudi. Video tersebut juga memperlihatkan pesawat tempur yang terbang di atas wilayah pertempuran serta ledakan besar yang membubung dari kawasan gurun. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya telah melancarkan serangan drone dan rudal terbaru terhadap pelabuhan minyak Yanbu di Laut Merah serta pangkalan udara Arab Saudi di Khamis Mushait. Saree tidak menjelaskan kapan serangan tersebut dilakukan.
Ia juga mengeklaim Arab Saudi telah melancarkan hingga 450 serangan udara ke Yaman sepanjang pekan ini. Pejabat pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengakui bahwa pasukan mereka bersama militer Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap posisi Houthi. Namun, Riyadh belum mengonfirmasi klaim tersebut. Arab Saudi telah memimpin koalisi yang memerangi Houthi sejak 2015. Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir setelah tercapainya gencatan senjata. Namun, situasi kembali memanas setelah Houthi pada Juli menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi dan melancarkan serangan ke wilayah selatan kerajaan. Perkembangan terbaru tersebut membuat konflik Iran semakin berpengaruh terhadap keamanan kawasan serta meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi global.