KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ingin "mengambil minyak di Iran" dan bisa saja merebut pusat ekspor Pulau Kharg, menurut wawancara yang diterbitkan
Financial Times pada Minggu (29/3/2026). Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang telah mengguncang pasar energi global. Satu bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, pasar minyak mentah, produk olahan, dan gas alam cair (LNG) sudah menghadapi “skenario terburuk kedua”, kata kolumnis
Reuters, Clyde Russell.
Baca Juga: Nikkei Jatuh 5% Senin (30/2), Yields Obligasi Jepang Tembus Level Tertinggi 27 Tahun Selat Hormuz Jadi Titik Penentu Segalanya bergantung pada Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak, produk olahan, dan LNG global. Saat ini, Selat Hormuz masih hampir tertutup bagi sebagian besar kapal, membuat pasar energi sangat rentan. Dalam kondisi ini, klaim AS atau Israel bahwa mereka “memimpin” perang terhadap Iran nyaris tidak berarti. Kampanye udara memang melemahkan kepemimpinan dan kemampuan militer Iran, tetapi sebagian besar tanker masih tidak bisa melewati Selat Hormuz dengan aman. Iran juga menunjukkan kemampuan menyerang infrastruktur energi penting di Teluk, sehingga tetap memegang kendali narasi dan menahan ekonomi global “sebagai sandera”.
Baca Juga: Emas Dunia Turun Lebih dari 1% Senin (30/3) Pagi, Serangan Houthi Dorong Harga Minyak Skenario Terburuk Skenario paling mengkhawatirkan adalah eskalasi tajam, di mana Iran merusak infrastruktur energi di Teluk secara luas menggunakan rudal dan drone, menargetkan pipa, kilang, fasilitas pengolahan, dan terminal ekspor. Pemicu kemungkinan besar adalah jika pasukan darat AS mencoba merebut wilayah yang dikuasai Iran, termasuk terminal minyak Pulau Kharg dan pulau-pulau kecil di Selat Hormuz. Meskipun invasi darat berhasil secara militer, dampak penghancuran infrastruktur energi bisa mengubah krisis pasar yang sudah serius menjadi bencana energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Dolar Menguat Senin (30/3), Risiko Perang Panjang di Timur Tengah Tekan Sentimen Harga Minyak dan Produk Olahan Melonjak Pasar kontrak berjangka minyak mentah Brent masih menilai kemungkinan penurunan ketegangan dan aliran normal melalui Selat Hormuz. Brent futures dibuka menguat 2,7% menjadi sekitar US$115,55 per barel pada perdagangan Asia Senin, naik dari US$112,57 pada 27 Maret. Sejak 27 Februari, sehari sebelum serangan AS dan Israel ke Iran, harga Brent telah naik 59%. Harga fisik produk olahan di Asia menunjukkan kenaikan lebih dramatis. Harga bahan bakar jet di Singapura pada 27 Maret mencapai US$222,77 per barel, hampir menyamai rekor $227,98 pada 23 Maret, dan lebih dari dua kali lipat harga US$93,45 pada 27 Februari. Gasoil, bahan baku diesel, naik menjadi US$182,76 per barel, hampir dua kali lipat dari US$91,42. Bensin naik 65% dari sebelum konflik. Kenaikan harga ini menunjukkan kilang di Asia berjuang mencari pasokan minyak cukup untuk beroperasi, sementara importir bahan bakar seperti Australia dan Indonesia berlomba mengamankan suplai.
Baca Juga: Yen Melemah ke 160 per Dolar, Jepang Siap Ambil Langkah Tegas Dampak Global Dampak perang Iran terasa pertama kali di Asia, karena kawasan ini menjadi tujuan sekitar 80% minyak dan bahan bakar olahan yang melewati Selat Hormuz. Namun tekanan ini diprediksi cepat menyebar ke seluruh dunia, ketika kilang dan importir menarik pasokan terbatas dari wilayah Atlantik, mendorong harga lebih tinggi. Saat ini, dunia kehilangan sekitar 12 juta barel per hari (bpd) dari pasokan minyak dan produk olahan, karena aliran sekitar 19 juta bpd melalui Selat Hormuz kini tersendat. Upaya Arab Saudi meningkatkan ekspor melalui pelabuhan Laut Merah dan Uni Emirat Arab menambah pengiriman dari Fujairah sedikit mengurangi kekurangan, tetapi kehilangan lebih dari 10% pasokan minyak global tetap sulit diatasi, terutama dalam jangka panjang.
Risiko nyata adalah konflik dengan Iran terus berlanjut atau meningkat dalam minggu-minggu mendatang.
Baca Juga: Tanker Rusia Dekati Kuba Saat Trump Longgarkan Blokade Minyak Invasi darat AS dapat memicu serangan Iran ke pipa Saudi di Laut Merah atau fasilitas penting di Fujairah, sementara sekutu Iran, Houthi di Yaman, dapat menutup Selat Bab el-Mandeb, memaksa ekspor Saudi hanya lewat Terusan Suez, meningkatkan biaya dan waktu pengiriman ke Asia. Dengan situasi ini, pasar minyak mentah dan LNG mungkin harus mulai menilai kemungkinan kehilangan pasokan dari Timur Tengah secara berkelanjutan, sesuatu yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini.