Trump Kembali Tuntut The Fed Segera Pangkas Suku Bunga!



KONTAN.CO.ID - WASHNGTON. Saat harga minyak melonjak tajam akibat intensifikasi perang Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menuntut Ketua Federal Reserve Jerome Powell menurunkan suku bunga.

"Dia harus menurunkan suku bunga, SEGERA," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Kamis (12/3/2026).

Namun sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, investor justru berbalik arah, bertaruh bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan memperburuk inflasi dan mencegah The Fed memangkas suku bunga hingga akhir tahun, atau bahkan lebih lama lagi.


Kontrak berjangka suku bunga yang sebelumnya diperkirakan akan mengalami dua kali pemangkasan seperempat poin hingga akhir tahun sebelum konflik dimulai, kini hampir tidak memperhitungkan satu kali pemangkasan pun. 

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 9%, Terkerek Rencana Iran untuk Tetap Tutup Selat Hormuz

Hal ini terjadi meskipun ada ekspektasi bahwa mantan Gubernur Fed Kevin Warsh, yang dipilih Trump untuk menggantikan Powell sebagai Ketua The Fed yang lebih pro-pemangkasan suku bunga, akan memimpin bank sentral AS pada pertengahan Mei ketika masa kepemimpinan Powell berakhir. 

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, pada hari Kamis bersumpah untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup. Hal tersebut mengganggu transportasi seperlima pasokan minyak dunia. 

Alhasil, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 melonjak dan menetap di US$ 95,7 per barel.

Harga minyak yang lebih tinggi berarti harga bensin yang lebih tinggi, yang juga dapat menaikkan harga makanan dan barang lainnya melalui biaya transportasi yang lebih tinggi.

Harga makanan juga akan naik karena Hormuz adalah jalur utama global untuk pengiriman pupuk, menurut perkiraan para analis.

Analis Goldman Sachs mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka sekarang memperkirakan inflasi PCE, yang ditargetkan The Fed sebesar 2%, akan naik menjadi 2,9% pada bulan Desember, dan menggeser perkiraan mereka sendiri untuk "pemotongan suku bunga The Fed berikutnya" ke bulan September, dari sebelumnya Juni.