KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengerahkan sekitar 4.500 anggota National Guard untuk berpatroli di Washington, D.C., sebagai bagian dari upaya pemerintah menekan kriminalitas. Namun, penelusuran
Reuters menunjukkan peran mereka dalam menangani kejahatan relatif kecil.
Reuters meninjau dokumen perkara pidana yang tersedia di pengadilan Washington dan menemukan anggota National Guard hanya disebut dalam sekitar 1,3% kasus pidana sejak pengerahan dimulai pada Agustus 2025.
Padahal, jumlah tentara yang dikerahkan kini lebih banyak daripada polisi kota. Washington memiliki sekitar 3.200 polisi, dibandingkan 4.500 anggota National Guard.
Baca Juga: Lalu Lintas Pelayaran di Selat Hormuz Masih Sepi di Tengah Kebuntuan AS-Iran Kebanyakan Menangani Kasus Ringan
Dari 217 perkara yang mencantumkan keterlibatan National Guard, sebanyak 62 kasus menunjukkan tentara menghentikan sendiri orang yang diduga melakukan pelanggaran. Namun, sebagian besar bukan kejahatan serius. Mereka antara lain menangani kasus pencurian kecil, penumpang yang melewati gerbang stasiun tanpa membayar, serta pelanggaran ringan lainnya. Dalam 43 kasus, tentara membantu polisi melakukan penangkapan. Sebaliknya,
Reuters tidak menemukan catatan pengadilan yang menunjukkan keterlibatan National Guard dalam penegakan hukum di kawasan tempat sekitar 82% dari 859 kasus pembunuhan Washington selama lima tahun terakhir terjadi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan tentara lebih banyak terkonsentrasi di kawasan yang relatif aman dan makmur, termasuk pusat kota, stasiun kereta, serta lokasi wisata.
Baca Juga: Donald Trump Siapkan Perang Ekonomi, Negara Pendukung Iran Jadi Target Tugas Utamanya Bukan Menjadi Polisi
Anggota National Guard memang telah diberi status sebagai U.S. Marshals, tetapi kewenangan penegakan hukum mereka terbatas. Departemen Pertahanan AS menyebut tugas tersebut sebagai "
presence patrols", yakni patroli untuk menunjukkan kehadiran aparat dan mencegah kejahatan. Mereka dapat menahan seseorang yang dicurigai melakukan pelanggaran, tetapi polisi tetap diperlukan untuk melakukan penangkapan secara resmi. Dalam 35 kasus yang ditinjau
Reuters, anggota National Guard justru tercatat sebagai saksi kejahatan, termasuk ketika mereka hanya menunggu polisi tiba.
Baca Juga: AS Gandakan Buyback Treasury, Yield Obligasi 30 Tahun Mulai Turun Dampaknya terhadap Kriminalitas Dipertanyakan
Jumlah pembunuhan di Washington memang turun untuk tahun ketiga berturut-turut. Tetapi penurunan serupa juga terjadi di kota-kota yang tidak mendapat pengerahan tentara. Sementara itu, laporan polisi menunjukkan total kejahatan dengan kekerasan di Washington hingga pertengahan Agustus justru sekitar 4% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Studi Niskanen Center pada Mei juga menemukan pengerahan tentara berkaitan dengan penurunan pencurian kendaraan, tetapi tidak berdampak terhadap kejahatan dengan kekerasan.
Reuters juga menemukan pengerahan tersebut membutuhkan biaya sekitar US$1,65 juta atau Rp29,37 miliar per hari, sebelum jumlah pasukan digandakan pada musim panas ini. Pemerintah Trump berencana mempertahankan pengerahan tersebut hingga akhir masa kepresidenannya pada 2029 dengan perkiraan biaya US$1,4 miliar atau sekitar Rp24,92 triliun.
Baca Juga: Utang AS Naik Dua Kali Lipat Pada Pemerintahan Trump dan Biden, Lewati US$ 40 Triliun