Trump Klaim Negosiasi AS-Iran Berjalan Baik, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harapan berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama lima bulan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan kedua negara menunjukkan perkembangan positif.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump usai negosiasi yang berlangsung sepanjang hari pada Selasa (4/8). Optimisme terhadap tercapainya kesepakatan juga mendorong penguatan pasar saham Asia pada perdagangan Rabu (5/8/2026), sementara harga minyak dunia melemah karena pelaku pasar memperkirakan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz segera kembali normal.

Trump mengatakan pemerintahannya telah menggelar pembicaraan intensif dengan Iran dan optimistis jalur pelayaran strategis tersebut akan segera dibuka kembali.


"Mereka melakukan negosiasi sepanjang hari," kata Trump dalam acara "@ Night" di Fox News.

Baca Juga: Bank Sentral India (RBI) Tahan Suku Bunga di 5,25%, Tunggu Kejelasan Arah Inflasi

Ia menambahkan, "Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Jika mereka kembali menarik diri, mereka akan menghadapi serangan yang sangat keras."

Selama beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Iran apabila tidak tercapai kesepakatan. Namun, setiap kali pembicaraan menunjukkan kemajuan, harapan penyelesaian konflik kembali meningkat meski hingga kini belum menghasilkan penghentian permusuhan secara permanen.

AS dan Iran Dikabarkan Hampir Capai Kesepakatan Sementara

Media Axios, mengutip dua sumber regional dan seorang pejabat AS, melaporkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan persetujuan Oman, negara yang menguasai sebagian jalur perairan tersebut.

Laporan itu menyebutkan pemerintah AS menargetkan pengumuman resmi dapat dilakukan pada Rabu (5/8/2026).

Namun, media pemerintah Iran yang mengutip sumber terpercaya menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai Selat Hormuz akan tertunda "selama Amerika Serikat masih terus mengancam Iran."

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga: Minat Risiko Meningkat, Bursa Asia Menguat dan Rupiah Terapresiasi

Qatar Sebut Upaya Mediasi Terus Mengalami Kemajuan

Meski Trump menyampaikan optimisme, sejumlah target utama pemerintah AS masih belum tercapai, termasuk membongkar program nuklir Iran, membatasi kemampuan militernya menyerang negara-negara kawasan, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan perubahan politik di Iran.

Saat ini Iran masih menghentikan sebagian besar lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara Washington tetap memberlakukan blokade terhadap kapal dan pelabuhan yang terkait dengan Iran.

Sebelumnya, Qatar menyatakan para mediator terus mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik, meskipun Teheran sempat membantah adanya perundingan.

Kantor Emir Qatar menyebutkan bahwa Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melakukan pembicaraan melalui telepon pada Selasa untuk membahas upaya memperkecil perbedaan antara Washington dan Teheran serta meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian damai yang berkelanjutan.

Iran dan Oman Lanjutkan Pembahasan Jalur Pelayaran Aman

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai lalu lintas di Selat Hormuz berlangsung positif dan masih berlanjut.

Menurut media pemerintah Iran, pembahasan tersebut difokuskan pada pembentukan jalur pelayaran yang aman.

Baghaei menambahkan bahwa rute yang sedang dinegosiasikan bertujuan menjamin hak kedaulatan dan keamanan nasional Iran maupun Oman.

Selama ini Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz dengan alasan jalur tersebut seharusnya dikelola bersama Oman yang berada di seberang selat. Namun, pekan lalu Teheran menolak proposal Oman yang mengusulkan pengawasan bersama serta penerapan biaya sukarela bagi kapal yang melintas.

Baca Juga: EPL Jadi Mesin Ekonomi Inggris, Diproyeksikan Sumbang Rp796 Triliun hingga 2028

Ancaman di Jalur Pelayaran Regional Masih Berlanjut

Selain ketegangan di Selat Hormuz, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga masih memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah sehingga semakin membatasi jalur ekspor minyak dari kawasan tersebut.

Sejumlah pejabat India mengatakan sebuah proyektil menghantam kapal berbendera India di dekat Yaman hingga kapal tersebut terbalik dan tenggelam. Seluruh 14 awak kapal berhasil diselamatkan. Pemerintah Yaman menyalahkan kelompok Houthi atas serangan tersebut.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sedikitnya 17 pelaut meninggal dunia dalam 64 insiden yang terjadi di Selat Hormuz sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Korban tersebut belum termasuk data pemerintah Iran yang menyebut 50 orang tewas dan 500 lainnya terluka akibat serangan AS sejak konflik kembali memanas pada akhir Juni. Angka itu disampaikan sebelum Iran melaporkan bahwa serangan AS di Pulau Qeshm pada akhir Juli menewaskan sepasang suami istri beserta anak mereka yang berusia dua tahun.

Secara keseluruhan, Iran melaporkan lebih dari 3.400 orang tewas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari. Sementara itu, pemerintah AS melaporkan 18 personel militernya tewas dalam konflik tersebut.