Trump Klaim Pembicaraan dengan Iran Berlangsung, Teheran Membantah Ada Negosiasi



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung dan menyebut Teheran memiliki "kesempatan terakhir" untuk menyepakati perjanjian guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima bulan.

Namun, Iran membantah adanya negosiasi maupun rencana pertemuan dengan Washington.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 7% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran


Mengutip Reuters, pernyataan yang saling bertolak belakang tersebut menunjukkan peluang penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat masih sangat kecil.

Saat berbicara kepada wartawan di Oval Office pada Senin (3/8/2026), Trump mengatakan pembicaraan sedang berlangsung atas permintaan Iran serta sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

"Pembicaraan sedang berlangsung saat ini. Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka (Iran) untuk menandatangani perjanjian yang baik," kata Trump.

Pernyataan itu disampaikan setelah akhir pekan lalu Trump membatalkan rencana serangan besar-besaran terhadap Iran yang sebelumnya telah ia otorisasi. Menurut Trump, serangan dibatalkan karena adanya rencana perundingan.

Langkah tersebut melanjutkan pola yang berulang dalam beberapa bulan terakhir, di mana Trump beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Iran, namun kemudian membatalkannya dengan alasan membuka peluang diplomasi.

Baca Juga: Harga Emas Spot Melemah ke US$ 4.030, Investor Menunggu Arah Kebijakan The Fed

Iran bantah ada perundingan

Sebelumnya pada hari yang sama, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan, tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat maupun agenda pertemuan yang dijadwalkan.

Ia mengatakan Iran tidak berencana menerima delegasi asing ataupun mengirim tim negosiator ke luar negeri dalam beberapa hari mendatang.

Menurut Baghaei, seluruh negosiator Iran saat ini berada di dalam negeri, kecuali Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi yang sedang menjalankan ibadah ziarah ke Irak.

Baghaei menambahkan, satu-satunya pembicaraan yang sedang berlangsung adalah dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz.

Seorang sumber senior Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa tidak ada pembicaraan yang direncanakan dengan AS.

Ia menambahkan Araqchi diperkirakan belum dapat terlibat dalam perundingan setidaknya hingga akhir pekan ini.

Baca Juga: Harga Saham Melesat, Amazon Masuk Klub Saham Kapitalisasi Pasar US$ 3 Triliun

Selat Hormuz masih menjadi titik sengketa

Para pejabat dan analis di kawasan Teluk menilai Iran berupaya bertahan lebih lama dibandingkan Washington dengan menjadikan jalur perdagangan, pelayaran, dan infrastruktur energi di Timur Tengah sebagai alat tekanan.

Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan biaya ekonomi dan politik bagi Amerika Serikat serta sekutunya, sehingga mendorong mereka menerima tuntutan Iran terkait Selat Hormuz.

"Iran memiliki keuntungan besar karena mampu memberikan tekanan kepada negara-negara di kawasan maupun perekonomian global," kata Michael Knights dari Washington Institute.

Dalam unggahan di Truth Social pada Senin malam, Trump kembali menuding kepemimpinan Iran bertindak "sangat penuh tipu daya".

Ia mengklaim Iran telah meminta pertemuan dan pembicaraan lanjutan akan segera digelar.

Trump juga kembali menegaskan bahwa Angkatan Laut AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Menurut Trump, tidak ada yang dapat melewati Iran tanpa persetujuan Amerika Serikat hingga tercapai sebuah kesepakatan atau "penyerahan total".

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran

Target AS belum tercapai

Sejak meluncurkan operasi militer bersama Israel lebih dari lima bulan lalu, Trump menargetkan penghentian program nuklir Iran, membatasi kemampuan militernya menyerang negara-negara di kawasan, serta menciptakan kondisi yang dapat melemahkan pemerintahan ulama di Teheran.

Namun hingga kini, tujuan tersebut belum tercapai. Setiap peningkatan tekanan militer dari AS selalu direspons Iran dengan eskalasi terhadap pasukan AS di kawasan, sekutu-sekutu Washington di Teluk, maupun jalur pelayaran internasional, sebelum akhirnya Trump kembali mengurangi intensitas konfrontasi.

Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga masih menjadi isu utama. Washington menyatakan nota kesepahaman yang disusun pada Juni mengharuskan Iran membuka jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca Juga: PMI Sektor Manufaktur AS Stagnan di Juli, Optimisme Pengusaha Juga Merosot

Sebaliknya, Teheran menegaskan dokumen itu tetap mempertahankan kewenangan Iran dalam mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Hingga saat ini, Amerika Serikat belum berhasil memaksa Iran melepaskan kendalinya atas jalur tersebut. Ketidakpastian itu sempat mendorong kenaikan harga minyak dunia dan harga bensin di AS.

Namun, seiring munculnya harapan bahwa ketegangan AS-Iran kembali mereda, harga minyak mentah Brent pada Senin turun sekitar 7% ke kisaran US$ 83,77 per barel, sementara indeks Dow Jones ditutup pada rekor tertinggi baru.