Trump Klaim Perang Timur Tengah Segera Usai, Tapi Iran Menunjukkan Hal Sebaliknya



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (9/3) memprediksi perang di Timur Tengah bisa segera berakhir. Namun di saat yang sama, kelompok garis keras di Iran justru menunjukkan dukungan kuat kepada pemimpin tertinggi baru Mojtaba Khamenei, menandakan Teheran belum siap mundur dari konflik.

Mengutip Reuters, sinyal yang saling bertentangan ini membuat pasar global bergejolak. Harga minyak melonjak, sementara pasar saham sempat anjlok sebelum kembali pulih setelah komentar Trump dan laporan kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap energi Rusia.

Mojtaba Khamenei, ulama Syiah berusia 56 tahun yang memiliki basis kekuatan di kalangan aparat keamanan dan jaringan bisnis mereka, telah dinyatakan tidak dapat diterima oleh Trump. Presiden AS itu bahkan menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran.


Dalam wawancara dengan NBC News, Trump menyebut Iran membuat “kesalahan besar” dengan mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Meski begitu, ia memperkirakan perang dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, yaitu empat hingga lima minggu.

“Saya pikir perang ini pada dasarnya sudah hampir selesai,” kata Trump dalam wawancara dengan CBS News.

Tak lama setelah itu, Trump juga menyebut konflik tersebut sebagai “operasi jangka pendek” saat berbicara kepada anggota Partai Republik. Ia menegaskan perang akan terus berlangsung hingga Iran “benar-benar dan secara tegas dikalahkan.”

Baca Juga: Minyak Melejit, Asia Waspadai Krisis Energi

“Kami sudah menang dalam banyak hal, tetapi belum cukup,” ujarnya.

Dukungan politik menguat untuk pemimpin baru Iran

Media pemerintah Iran menayangkan aksi massa besar di berbagai kota yang menyatakan dukungan kepada pemimpin baru tersebut. Para peserta membawa bendera Iran serta potret ayah Mojtaba, Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan Israel pada hari pertama perang.

Di kota Isfahan, televisi pemerintah melaporkan terdengar ledakan dari serangan udara di sekitar lokasi demonstrasi di Imam Square, sementara para pendukung meneriakkan slogan “Allahu Akbar”.

Militer Iran juga menyatakan akan meningkatkan serangan rudal sebagai bentuk perlawanan terhadap serangan AS dan Israel.

Sejumlah politisi dan lembaga negara Iran langsung menyatakan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi baru, yang menurut media pemerintah juga kehilangan istri, anak, dan ibunya pada awal serangan udara AS–Israel.

“Kami akan mematuhi panglima tertinggi hingga tetes darah terakhir,” bunyi pernyataan dewan pertahanan Iran.

Pendapat masyarakat Iran sendiri terbelah. Pendukung pemerintah melihat pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai simbol perlawanan terhadap musuh, sementara kelompok oposisi khawatir hal ini akan menghapus harapan perubahan politik.

Baca Juga: Inflasi China Naik Setelah Lonjakan Minyak

“Saya sangat senang dia menjadi pemimpin baru. Ini tamparan bagi musuh yang mengira sistem akan runtuh setelah ayahnya terbunuh,” kata Zahra Mirbagheri, mahasiswa berusia 21 tahun di Teheran.

Namun sebagian warga lain menilai rezim masih sangat kuat.

“Pasukan Garda Revolusi dan sistem masih sangat kuat. Mereka punya puluhan ribu pasukan untuk mempertahankan rezim ini,” kata Babak, seorang pengusaha di kota Arak.

Tujuan perang berbeda

Israel menyatakan tujuan perang adalah menggulingkan sistem pemerintahan ulama di Iran.

Sementara pejabat AS menyebut tujuan utamanya adalah menghancurkan kemampuan rudal dan program nuklir Iran.

Namun Trump mengatakan konflik hanya akan berakhir jika Iran memiliki pemerintahan yang patuh.

Tonton: Putra Khamenei Naik Tahta! Inilah Fakta Menarik Mojtaba, Pemimpin Baru Iran

Israel juga sebelumnya menyatakan akan menargetkan siapa pun penerus Ali Khamenei, kecuali Iran menghentikan kebijakan permusuhannya.