KONTAN.CO.ID - JOINT BASE ANDREWS, MARYLAND — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan langkah agresif yang akan mengubah peta energi global. Setibanya di Joint Base Andrews, Maryland, pada Minggu (12/4) sore waktu setempat, Trump menegaskan bahwa blokade total terhadap Iran akan resmi berlaku pada Senin, 13 April 2026, pukul 10:00 pagi waktu AS atau Senin Malam pukul 21:00 WIB. "Blokade akan efektif mulai besok pukul 10 pagi. Kami memastikan Iran tidak akan bisa menjual minyak mereka. Ini adalah langkah yang sangat efektif untuk menghentikan pendanaan aktivitas berbahaya mereka," tegas Trump di hadapan media sesaat setelah menuruni tangga pesawat, dan disiarkan melalui kanal Youtube @whitehouse.
AS Siap Blokade Selat Hormuz! Kapal Tanker Mulai Kabur, Ketegangan Memuncak
© 2026 Konten oleh Kontan
Klaim Kehancuran Militer Iran
Dalam keterangannya, Trump menyebut kekuatan militer Iran kini tengah terjerembap. Ia mengklaim sebanyak 158 kapal angkatan laut Iran telah karam dan manufaktur rudal serta drone mereka telah lumpuh total. Hanya saja klaim jumlah kapal yang hancur merupakan pernyataan sepihak dari Donald Trump dan belum hingga kini belum ada media massa mainstream maupun pemantau militer global yang bisa melakukan verifikasi secara independen. Baca Juga: Militer AS Berlakukan Blokade di Teluk Oman, Semua Kapal Wajib PatuhiKlaim Hiperbola vs Realitas Pasar
Guna meredam kekhawatiran pasar atas blokade di Selat Hormuz, Trump memamerkan kesuksesan kebijakan mendorong pengeboran minyak yang sering disebut "Drill Baby Drill". Ia bahkan melontarkan klaim berani bahwa produksi minyak Amerika Serikat saat ini sudah melampaui gabungan dua raksasa OPEC+, Rusia dan Arab Saudi. "Kita punya jauh lebih banyak minyak daripada Rusia dan Arab Saudi jika digabungkan," ujar Trump. Berdasarkan data EIA Short-Term Energy Outlook April 2026, produksi minyak mentah AS diperkirakan rata-rata 13,6 juta bpd sepanjang 2026 — masih di bawah gabungan Rusia dan Arab Saudi sebesar 19 juta bpd untuk minyak mentah. Meskipun demikian, produksi energi AS masih bisa unggul jika menghitung dari total cairan energi termasuk Natural Gas Liquids atau NGL (berupa Etana, propana, butana, kondensat) dan kondensat. Terdapat selisih signifikan yang membuat klaim Trump tersebut masuk dalam kategori hiperbola politik. Hanya saja, fenomena di lapangan menunjukkan pergeseran logistik. Kapal-kapal tanker dunia kini dilaporkan mengguyur pelabuhan AS dalam kondisi kosong untuk memuat minyak, menghindari ketegangan di Selat Hormuz. Baca Juga: Sekutu NATO Menolak Bergabung dengan Trump untuk Memblokade Selat HormuzKritik Keras untuk NATO dan Vatikan
Diplomasi Trump juga menyasar sekutu lamanya. Ia menyatakan kekecewaan mendalam pada NATO yang dianggap tidak hadir saat AS membutuhkan, meski Washington telah menyetor triliunan dolar. Trump memberikan sinyal kuat akan memangkas atau mengevaluasi ulang pendanaan untuk aliansi tersebut. Tak luput, Trump melontarkan serangan verbal kepada Paus Leo. Ia menyebut sang Paus terlalu liberal dan gagal mendukung upaya penghentian kriminalitas serta penanganan negara-negara yang berambisi memiliki senjata nuklir. "Saya bukan penggemar Paus Leo," tandas Trump sebelum meninggalkan pangkalan udara.Heboh Wilayah Udara Indonesia Terbuka Bebas Bagi Pesawat Militer Amerika? Kemhan Angkat Bicara
© 2026 Konten oleh Kontan