KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. Trump juga memperingatkan Iran agar tidak kembali memasang ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut. Mengutip
Reuters, Selasa (25/8/2026), Trump mengatakan AS telah memberi tahu Iran bahwa setiap kapal atau perahu yang memasang ranjau baru di Selat Hormuz akan dihancurkan.
Baca Juga: Kepercayaan Konsumen AS Anjlok, Terendah dalam 7 Bulan Dalam unggahan di platform
Truth Social, Trump menyebut AS melalui Space Force memantau setiap bagian dari Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting dalam rantai pasok energi global. "Amerika Serikat memberlakukan kebijakan zero tolerance terhadap pemasangan ranjau," kata Trump. Trump tidak memberikan rincian mengenai kapan seluruh ranjau tersebut berhasil diledakkan atau disingkirkan maupun pihak yang melakukan operasi pembersihan. Serangan Kapal Masih Berlanjut AS dan Iran diketahui belum melakukan serangan udara terhadap fasilitas militer masing-masing selama beberapa pekan terakhir. Namun, serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz masih berlangsung ketika kedua negara bersaing untuk mengendalikan jalur maritim sempit tersebut. Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Data sementara dari perusahaan pelacak kapal Vortexa menunjukkan volume minyak yang melintasi Selat Hormuz pada Senin mencapai sekitar 5 juta barel per hari.
Baca Juga: Yield US Treasury Turun, Harga Minyak Anjlok dan Investor Cermati Buyback Angka tersebut jauh di bawah lebih dari 20 juta barel per hari sebelum perang berlangsung. Volume tersebut sebelumnya setara dengan sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik dan gangguan keamanan di Selat Hormuz masih memberikan dampak signifikan terhadap arus perdagangan energi global. Jika situasi keamanan memburuk atau Iran kembali melakukan pemasangan ranjau, aktivitas pelayaran dan pengiriman minyak melalui salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut berpotensi kembali terganggu.