KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital energi dunia yang kini terganggu akibat konflik Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat kembali ke Washington menggunakan Air Force One usai melakukan pertemuan bilateral selama dua hari dengan Xi di Beijing, Jumat (16/5/2026).
Baca Juga: Pendukung Trump Tetap Loyal Meski Harga BBM Melonjak Akibat Perang Iran Trump mengatakan dirinya juga tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak Iran. China sendiri merupakan pembeli terbesar minyak Iran. “Saya tidak meminta bantuan apa pun karena kalau meminta bantuan, harus ada imbalannya,” ujar Trump ketika ditanya apakah Xi benar-benar berkomitmen menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, pemerintah China tidak secara eksplisit menyatakan akan ikut menekan Teheran. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri China hanya menegaskan perang tersebut “tidak seharusnya terjadi dan tidak ada alasan untuk terus berlanjut”.
Baca Juga: Taiwan Dorong Kepastian Senjata AS di Tengah Pernyataan Trump Usai Bertemu Xi Jinping Krisis Selat Hormuz Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sejak serangan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari lalu. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintas melalui jalur tersebut. Gangguan pelayaran di kawasan itu memicu lonjakan harga minyak global dan disebut menjadi salah satu krisis pasokan energi terbesar dalam sejarah. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi mengatakan Teheran telah menyiapkan mekanisme baru pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Menurut dia, hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat akses, sementara Iran juga akan mengenakan biaya layanan tertentu. “Detail mekanisme tersebut akan segera diumumkan,” katanya.
Baca Juga: SpaceX Restui Stock Split 5:1, IPO Makin Dekat ke Bursa Nasdaq AS dan Iran Masih Bersitegang Trump kembali menegaskan tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir serta membuka kembali Selat Hormuz. “Kami tidak ingin mereka punya senjata nuklir, kami ingin selat itu terbuka,” ujar Trump di Beijing. Iran selama ini membantah memiliki ambisi membangun senjata nuklir. Namun Teheran juga menolak menghentikan riset nuklir maupun menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan negaranya menerima sinyal dari Washington bahwa AS masih bersedia melanjutkan perundingan. “Kami berharap negosiasi dapat menghasilkan kesimpulan yang baik sehingga keamanan Selat Hormuz bisa dipulihkan sepenuhnya dan lalu lintas kapal kembali normal,” ujarnya di New Delhi. Namun, hubungan kedua negara masih dipenuhi ketidakpercayaan. Iran menilai AS kerap merusak proses diplomasi melalui aksi militer dan blokade pelabuhan.
Baca Juga: Siapakah Raul Castro, Pemimpin Kuba yang Berpotensi Hadapi Dakwaan dari AS? Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Naik Kebuntuan konflik membuat harga minyak dunia terus meningkat. Pada Jumat (16/5), harga minyak melonjak sekitar 3% ke level US$ 109 per barel. Di saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga naik ke level tertinggi dalam sekitar satu tahun karena pasar mulai memperkirakan Federal Reserve berpotensi kembali menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan inflasi akibat lonjakan energi. Perundingan damai sendiri masih tertunda sejak pekan lalu setelah Iran dan AS saling menolak proposal terbaru masing-masing pihak terkait penyelesaian konflik.