Trump Klaim “Zaman Keemasan Amerika” di Pidato Kenegaraan, Ekonomi Jadi Sorotan



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan telah membawa Amerika Serikat memasuki “zaman keemasan” dalam pidato kenegaraan (State of the Union) di hadapan Kongres, Selasa (24/2/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah merosotnya tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya serta meningkatnya ketidakpuasan pemilih menjelang pemilu sela (midterm) November mendatang.

Dalam satu jam pertama pidatonya yang disiarkan secara nasional, Trump memusatkan perhatian pada isu ekonomi. Ia mengklaim telah menekan inflasi, mendorong pasar saham ke rekor tertinggi, menandatangani pemangkasan pajak besar-besaran, serta menurunkan harga obat-obatan.


Namun, belum jelas apakah optimisme tersebut mampu meredakan kekhawatiran publik terhadap tingginya biaya hidup. Trump menyalahkan pendahulunya dari Partai Demokrat, Joe Biden, atas lonjakan harga.

Baca Juga: Pidato Kenegaraan Trump Diwarnai Ketegangan dengan Mahkamah Agung AS

Meski demikian, sejumlah jajak pendapat menunjukkan pemilih menilai Trump belum cukup efektif dalam mengatasi krisis keterjangkauan yang menjadi janji utama kampanyenya.

“Negara kita kembali — lebih besar, lebih baik, lebih kaya, dan lebih kuat dari sebelumnya,” ujar Trump, disambut sorakan “USA, USA” dari anggota Partai Republik di Kongres. Sementara itu, sejumlah kursi di sisi Demokrat terlihat kosong karena beberapa legislator memilih menghadiri aksi protes di luar gedung.

Tantangan Politik dan Tekanan Jelang Pemilu Sela

Pidato tahunan di Kongres tersebut berlangsung di tengah situasi politik yang menantang. Sejumlah survei menunjukkan mayoritas warga Amerika mulai meragukan kinerja Trump.

Kecemasan juga meningkat terkait kebijakan luar negeri, termasuk ketegangan dengan Iran serta kebijakan tarif impor andalannya yang sebagian besar dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Didorong Optimisme AI Rabu (25/2), Pasar Nantikan Pidato Trump

Trump menyebut putusan tersebut sebagai “tidak menguntungkan”, namun menegaskan dampaknya terhadap kebijakan perdagangannya akan terbatas. Ia juga terlihat berjabat tangan dengan empat hakim agung yang hadir dalam sidang tersebut.

Data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi melambat lebih tajam dari perkiraan pada kuartal terakhir, sementara inflasi justru kembali meningkat. Jajak pendapat Reuters/Ipsos mencatat hanya 36% warga Amerika yang menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump.

Pada pemilu sela November nanti, seluruh 435 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat dan sekitar sepertiga dari 100 kursi di Senat Amerika Serikat akan diperebutkan. Partai Demokrat berupaya merebut kembali mayoritas dari Partai Republik.

Gubernur Virginia dari Partai Demokrat, Abigail Spanberger, yang memberikan tanggapan resmi partainya, mengkritik Trump karena dinilai tidak membantu warga yang tengah berjuang secara ekonomi.

“Apakah presiden bekerja untuk membuat hidup Anda dan keluarga lebih terjangkau? Kita semua tahu jawabannya tidak,” tegas Spanberger.

Minim Bahasan Iran, Ukraina, dan China

Meski mengklaim inflasi “menurun tajam”, harga kebutuhan pokok seperti pangan, perumahan, asuransi, dan utilitas masih jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu.

Trump juga tidak membahas kecerdasan buatan (AI), meski teknologi tersebut tengah mendorong pasar saham sekaligus menimbulkan kekhawatiran soal keamanan kerja.

Baca Juga: Tarif Trump Mengancam, Sektor Ini Siap Hadapi Pungutan Baru AS!

Dalam isu luar negeri, Trump relatif singkat. Ia kembali mengklaim telah “mengakhiri” delapan perang — klaim yang dinilai berlebihan oleh sejumlah pengamat. Pidato tersebut juga nyaris tidak menyinggung Ukraina, meskipun bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi Rusia.

Trump tidak membahas China sebagai rival ekonomi utama Amerika, maupun Greenland, wilayah semi-otonom Denmark yang sebelumnya sempat ia nyatakan ingin dikuasai.

Terkait Iran, Trump tidak memberikan kejelasan mengenai langkah selanjutnya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran.

“Preferensi saya adalah menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi. Tetapi satu hal pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu dunia memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Adu Argumen soal Imigrasi dan Isu Sosial

Isu imigrasi kembali menjadi bagian paling konfrontatif dalam pidato tersebut. Trump menegaskan kebijakan pengetatan imigrasi yang menjadi andalannya sejak kampanye 2024. Ia menuding migran tanpa dokumen sebagai penyebab meningkatnya kejahatan, meski sejumlah studi membantah klaim tersebut.

Ketegangan memuncak ketika anggota DPR dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, meneriakkan protes dari tempat duduknya. Sementara itu, anggota DPR Al Green kembali dikeluarkan dari ruang sidang setelah mengangkat poster protes, untuk kedua kalinya dalam dua tahun terakhir.

Trump juga menyerang Demokrat terkait penolakan mereka terhadap persyaratan identifikasi pemilih. Partai Demokrat menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan partisipasi pemilih.

Baca Juga: Trump Incar Program AI Pentagon untuk Penetapan Harga Mineral Pada Blok Perdagangan

Sejumlah legislator Demokrat menyampaikan pesan protes secara simbolis. Anggota DPR dari Hawaii, Jill Tokuda, mengenakan jaket putih bertuliskan “affordability” dan “healthcare”.

Beberapa legislator perempuan Demokrat juga mengenakan tanda bertuliskan “release the files”, merujuk pada skandal terpidana pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.

Rekor Pidato Terpanjang

Pidato Trump berdurasi sekitar 1 jam 47 menit, memecahkan rekornya sendiri sebagai pidato presiden terpanjang di hadapan Kongres.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan anggota tim hoki es putra Amerika Serikat peraih medali emas Olimpiade Musim Dingin dan menganugerahkan Presidential Medal of Freedom kepada penjaga gawang Connor Hellebuyck.

Selanjutnya: DPR Minta Tunda Pengadaan 105.000 Pikap Asal India, Begini Respon Agrinas Pangan

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur 16-28 Februari 2026, Bumbu-Kornet Diskon hingga 50%