Trump Kritik ExxonMobil dan Chevron, Minta Raksasa Minyak Turunkan Harga BBM



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras kepada dua raksasa minyak AS, ExxonMobil dan Chevron, dengan menuding keduanya meraup keuntungan terlalu besar di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik Iran.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena dinilai berbeda dengan sikap Trump yang selama ini dikenal dekat dengan industri minyak dan gas (migas).

Berbicara kepada wartawan di Washington, Senin (3/8/2026), Trump menyatakan tidak menyukai besarnya keuntungan yang dibukukan kedua perusahaan tersebut setelah melaporkan kinerja keuangan yang kuat pada kuartal II-2026.


"Saya tidak menyukainya. Chevron, terlalu banyak menghasilkan uang. ExxonMobil juga, terlalu banyak. Terlalu banyak uang," kata Trump.

Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak seharusnya membagikan sebagian keuntungan tersebut kepada masyarakat.

"Mereka seharusnya mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada publik," ujar Trump.

Baca Juga: Lufthansa Pangkas Proyeksi EBIT Tahun Ini Jadi €1,7 miliar hingga €2,2 miliar

Hingga berita ini ditulis, ExxonMobil maupun Chevron belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pernyataan tersebut.

Trump Kembali Tekan Korporasi Besar

Trump dikenal kerap menggunakan tekanan publik untuk memengaruhi kebijakan perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat.

Pada masa jabatan pertamanya, ia beberapa kali mendesak produsen otomotif agar mempertahankan produksi di dalam negeri, mengkritik kontraktor pertahanan terkait tingginya biaya, hingga meminta perusahaan farmasi menurunkan harga obat.

Setelah kembali menjabat sebagai Presiden AS, Trump melanjutkan pendekatan serupa dengan memanfaatkan posisinya untuk memengaruhi keputusan dunia usaha tanpa selalu menggunakan kebijakan pemerintah secara formal.

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga mengkritik penampilan Chief Executive Officer (CEO) Chevron Mike Wirth dalam program Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo di Fox News.

Menurut Trump, Wirth tidak memberikan penghargaan terhadap kebijakan pemerintahannya yang dinilai telah membantu industri minyak.

Melalui platform Truth Social, Trump menulis: "Satu-satunya hal yang dengan sengaja tidak ia sebutkan adalah bahwa tanpa kecerdasan, visi, kekuatan, dan stabilitas dari Pemerintahan TRUMP, industri minyak, bahkan negara kita sendiri, akan mati!"

Baca Juga: Jepang Kenakan Bea Masuk Anti-Dumping pada Baja Galvanis dari Korea Selatan & China

Ia juga menyinggung aktivitas Chevron di Venezuela. "Sebagai contoh, mereka pernah mengusir Mike dan Chevron dari Venezuela. Namun sekarang mereka kembali, jauh lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya, serta berharap memperoleh keuntungan besar!" tulis Trump.

Chevron telah beroperasi di Venezuela selama lebih dari satu abad. Perusahaan itu tetap bertahan ketika Presiden Hugo Chavez menasionalisasi proyek-proyek minyak pada 2007, sementara ExxonMobil dan ConocoPhillips memilih hengkang dari negara tersebut.

Industri Sebut Harga Minyak Dipengaruhi Faktor Global

Menanggapi kritik Trump, American Petroleum Institute (API), organisasi perdagangan yang mewakili perusahaan minyak AS, menegaskan bahwa kenaikan harga energi bukan disebabkan oleh satu perusahaan tertentu.

"Kenaikan harga saat ini didorong oleh kondisi pasokan dan permintaan global serta ketidakpastian yang masih berlanjut di sekitar Selat Hormuz dan jalur-jalur pelayaran penting lainnya, bukan oleh satu perusahaan tertentu," ujar juru bicara API.

Trump Desak Harga BBM Turun

Sejak kembali menjabat, Trump menjadikan peningkatan produksi energi domestik sebagai salah satu agenda utamanya dengan mendorong aktivitas pengeboran minyak dan gas yang lebih besar.

Meski industri migas menyambut positif kebijakan tersebut, Trump juga berulang kali meminta produsen menjaga harga BBM tetap rendah. Kondisi ini menciptakan dilema antara dorongan meningkatkan produksi dan tuntutan agar perusahaan tidak mengambil keuntungan berlebihan ketika harga minyak naik.

"Mereka sebaiknya menurunkan harga eceran, harga untuk konsumen," kata Trump kepada wartawan.

Ia juga optimistis harga minyak akan "jatuh sangat tajam" apabila konflik dengan Iran berakhir.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Ketidakpastian Konflik AS-Iran Kembali Angkat Sentimen Pasar

Harga BBM Jadi Risiko Politik

Lonjakan harga bensin akibat perang Iran dan meningkatnya biaya hidup menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu sela (midterm) pada November mendatang. Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas di Kongres dalam pemilihan tersebut.

Harga bensin eceran di Amerika Serikat saat ini rata-rata mencapai sekitar US$ 4,10 per galon, meningkat lebih dari 30% sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada awal tahun ini.

Meski harga minyak dunia sempat turun setelah Trump membatalkan rencana "serangan besar-besaran" terhadap Iran pada akhir pekan lalu, harga BBM di tingkat konsumen biasanya bergerak lebih lambat sehingga tidak langsung mengikuti penurunan harga minyak mentah.

Laba Raksasa Minyak Melonjak

Laporan keuangan kuartal II-2026 dari ExxonMobil, Chevron, Valero Energy, dan Marathon Petroleum menunjukkan perusahaan-perusahaan energi AS menikmati lonjakan keuntungan berkat kenaikan harga minyak mentah serta membaiknya margin pengolahan sejak perang Iran pecah pada Februari.

Valero membukukan laba kuartalan tertinggi sejak krisis energi tahun 2022 yang dipicu invasi Rusia ke Ukraina. Sementara itu, Chevron mencatat laba kuartalan tertinggi dalam sedikitnya enam tahun terakhir.