Trump Lebih Lunak Hadapi China Jelang Bertemu Xi, Ada Pengaruh Rare Earth



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil pendekatan yang relatif lebih lunak terhadap China menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pada pekan ini.

Para pakar China menilai, perubahan sikap tersebut tidak terlepas dari semakin kuatnya posisi Beijing dalam rantai pasok mineral kritis, khususnya rare earth atau mineral tanah jarang.

Berbeda dengan sejumlah pertemuan sebelumnya yang kerap diawali dengan ancaman tarif tinggi atau pembatasan ekspor teknologi AS ke China, pemerintahan Trump sejauh ini belum melontarkan ancaman serupa menjelang pertemuan dengan Xi.


Para pakar menilai, salah satu faktor utama yang membatasi ruang gerak Washington adalah dominasi China terhadap industri rare earth global. Mineral tersebut menjadi bahan penting dalam produksi berbagai produk teknologi dan kendaraan.

China sebelumnya telah menunjukkan bahwa kontrol terhadap rare earth dapat digunakan sebagai instrumen dalam persaingan dagang dan teknologi dengan AS. Tahun lalu, sebagai respons terhadap kebijakan tarif Trump, Beijing membatasi ekspor rare earth yang kemudian mengguncang pasar global.

Langkah tersebut secara efektif membatasi seberapa jauh Washington dapat memberikan tekanan terhadap Beijing. Kondisi itu sekaligus memperkuat posisi China dalam persaingan teknologi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dengan AS.

Baca Juga: Partai Berkuasa Memenangkan Pemilu Parlemen Rusia

"AS dan pemerintahan Trump pada dasarnya berada dalam posisi yang sangat berbeda terhadap China, di mana mereka tidak dapat menggunakan pendekatan yang terlalu memaksa dan berlebihan, karena mereka tahu bahwa pada akhirnya mereka akan menarik kembali beberapa kebijakan tersebut, mengingat semua yang terjadi musim panas lalu dan karena pengendalian ekspor rare earth," kata Emily Kilcrease, mantan pejabat perdagangan AS yang kini berada di lembaga kajian Center for a New American Security.

Gedung Putih, Departemen Perdagangan AS, United States Trade Representative, dan Kedutaan Besar China di Washington belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

China Kuasai Rantai Pasok Rare Earth

Menurut konsultan AlixPartners, China menguasai hingga 70% aktivitas pertambangan rare earth dunia, sekitar 85% kapasitas pemurnian, serta sekitar 90% produksi logam paduan dan magnet berbasis rare earth.

Mineral seperti yttrium dan dysprosium menjadi komponen penting bagi sejumlah industri strategis, mulai dari produsen kendaraan, perusahaan semikonduktor hingga kontraktor pertahanan.

Dominasi tersebut menjadikan rare earth sebagai salah satu titik kritis dalam rantai pasok global. Ketergantungan terhadap China berpotensi membatasi kemampuan negara lain untuk memberikan tekanan ekonomi tanpa mempertimbangkan risiko terhadap pasokan industrinya sendiri.

Trump dan Xi dijadwalkan bertemu di Gedung Putih pada Kamis. Pertemuan tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan jamuan makan malam kenegaraan yang dihadiri sejumlah pejabat penting serta para CEO perusahaan besar.

AS Tetap Ambil Tindakan terhadap China

Meski mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati, pemerintahan Trump tetap melakukan sejumlah tindakan terhadap China dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, para pakar menilai langkah-langkah tersebut tidak seagresif ancaman yang pernah disampaikan Washington sebelumnya. Sebagian kebijakan juga diumumkan beberapa bulan sebelum pertemuan Trump dan Xi sehingga tidak terlalu berisiko memicu ketegangan menjelang pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Pada Juni, Pentagon menuduh Alibaba, BYD, dan sejumlah perusahaan China lainnya membantu militer China. Kemudian pada Juli, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) China yang meniru model AI buatan AS.

Baca Juga: Harga Minyak Turun ke Level Terendah 11 Hari, Pasar Pantau Pertemuan PBB

Pada bulan yang sama, AS juga melarang impor dari 43 perusahaan China terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Washington turut melarang impor robot asing baru dan inverter listrik, yang sebagian kebijakannya menyasar China.

"Mereka menjaga agar situasinya tetap cukup tenang sehingga China tidak mengambil tindakan pembalasan yang benar-benar parah," kata Peter Harrell, mantan pejabat Gedung Putih pada era Presiden Joe Biden.

Menurut Harrell, setelah "gejolak rare earth", pemerintahan Trump "merasa rentan terhadap tekanan China" dan kini berupaya mendapatkan "stabilitas serta akses yang aman terhadap mineral kritis".

Perang Dagang dan Teknologi AS-China

AS dan China telah terlibat dalam persaingan perdagangan dan teknologi sejak periode pertama Trump menjabat sebagai presiden. Ketegangan kedua negara kerap meningkat menjelang pertemuan tingkat tinggi, kemudian mereda setelah pertemuan berlangsung.

Salah satu contoh terjadi dalam pertemuan Trump dan Xi pada 2019 di Osaka, Jepang. Saat itu, Trump menarik kembali ancaman untuk mengenakan tarif terhadap barang-barang China senilai US$300 miliar serta melonggarkan pembatasan ekspor terhadap raksasa telekomunikasi China, Huawei.

Keputusan tersebut diambil setelah China menyetujui pembelian produk pertanian AS dalam jumlah yang tidak disebutkan secara spesifik.

Sekitar setahun lalu, dalam pertemuan pada Oktober 2025 di Busan, Trump memangkas tarif sebesar 10% dan menunda pembatasan ekspor terhadap ribuan perusahaan China. Sebagai gantinya, Xi menyetujui penangguhan pengendalian rare earth serta melanjutkan pembelian kedelai dari AS.

Kedua negara kemudian menyatakan pertemuan tersebut sebagai sebuah keberhasilan.

Baca Juga: Yuan China Menguat ke Level Tertinggi 3,5 Tahun Jelang Pertemuan Trump-Xi

Namun, Trump kembali mengeluarkan ancaman perdagangan besar menjelang pertemuannya dengan Xi di Beijing pada Mei lalu. Saat itu, Trump mengatakan akan memberlakukan tarif baru sebesar 50% terhadap China setelah muncul laporan bahwa Beijing berencana memasok sistem pertahanan udara baru kepada Iran.

AS Perlu Diversifikasi Pasokan Mineral

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Republik, termasuk John Moolenaar yang memimpin House of Representatives China Select Committee, menyambut langkah-langkah terbaru Washington menjelang pertemuan Trump dan Xi.

"Presiden Trump menuju pertemuan puncak dari posisi yang kuat," ujar Moolenaar dalam pernyataan kepada Reuters.

Namun, Dmitri Alperovitch, salah satu pendiri CrowdStrike dan Silverado Policy Accelerator, lembaga kajian geopolitik yang berbasis di Washington, memperkirakan Washington akan mengambil langkah yang lebih hati-hati sampai AS mampu membangun sumber pasokan mineral kritis alternatif.

"Sejak Busan tahun lalu, ada gencatan senjata yang tidak nyaman dan saya pikir kondisi tersebut akan dipertahankan," kata Alperovitch dalam sebuah acara mengenai persaingan AS-China pada pekan lalu.