Trump Longgarkan Sanksi Diesel Rusia, Harga Kontrak Berjangka AS Turun 5%



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Rusia akan memasok diesel ke pasar global, termasuk AS, untuk membantu menekan harga bahan bakar.

Kesepakatan tersebut diumumkan ketika harga diesel di AS melonjak dan menjadi salah satu risiko politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan kongres pada 3 November 2026.

Pemerintahan Trump juga untuk sementara melonggarkan sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya dirancang untuk membatasi pendapatan Moskow dalam perang melawan Ukraina.


Baca Juga: Israel Kembali Serang Gaza, Lima Warga Palestina Dilaporkan Tewas

Trump mengatakan, dalam pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kedua negara menyepakati pasokan lebih dari 300.000 metrik ton diesel ke pasar AS dan global. Volume tersebut setara dengan sekitar 2,25 juta barel bahan bakar.

Melalui media sosial, Trump menyebut pembicaraan itu berlangsung sangat sukses. Ia juga mengatakan Rusia akan memasok tambahan 500.000 ton pada November dan 1 juta ton lagi setelahnya.

Pasokan berikutnya akan bergantung pada kondisi kilang diesel Rusia yang mengalami kerusakan akibat serangan Ukraina.

Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi yang memungkinkan impor diesel Rusia hingga 7 April 2027.

Baca Juga: Putin dan Trump Telepon 90 Menit, Kremlin Sebut Pembicaraan Berlangsung Akrab

Sebelumnya, pada Oktober 2025, AS menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia terkait perang yang dimulai Moskow pada 2022.

Kesepakatan ini berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi Rusia di tengah berlanjutnya perang di Ukraina.

Namun, sejumlah analis menilai volume pasokan yang dijanjikan belum tentu cukup untuk menekan harga diesel secara berkelanjutan.

Utusan Putin, Kirill Dmitriev, menyambut positif kerja sama Rusia dan AS melalui unggahan di platform X.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Dmitriev juga meminta pejabat AS dalam kunjungannya ke Washington bulan lalu agar izin ekspor diesel ke pasar AS diberikan kepada seluruh perusahaan minyak utama Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengkritik kesepakatan tersebut. Ia menyebut keputusan itu sebagai langkah lemah dari mitra yang kuat, terlebih ketika delegasi Ukraina tengah berada di AS untuk membahas upaya penyelesaian perang.

"Hadiah untuk Putin tidak akan membawa perdamaian atau manfaat bagi dunia yang beradab. Rusia akan membalasnya dengan lebih banyak teror dan pengkhianatan," tulis Zelenskiy di X.

Baca Juga: Arsenal Bangkit Usai Tertinggal, Tekuk Leeds United 2-1 di Liga Inggris

Kritik juga datang dari anggota parlemen AS, termasuk anggota Partai Republik Don Bacon. Ia menilai Washington seharusnya menerapkan sanksi tambahan yang baru disahkan Kongres, bukan melonggarkan pembatasan terhadap Rusia.

"Sekarang saatnya menggunakan sanksi tersebut untuk menekan mesin perang Putin, bukan memberi hadiah kepada seorang diktator dengan menyerahkan lebih banyak uang kepadanya ketika ia terus menargetkan dan membunuh warga sipil Ukraina," kata Bacon melalui X.

Pasokan diesel belum tentu tekan harga

Para analis menilai kesepakatan pasokan diesel Rusia belum tentu mampu menghasilkan penurunan harga yang bertahan lama.

Rory Johnston, peneliti pasar minyak sekaligus pendiri CommodityContext.com, menilai volume yang dijanjikan relatif kecil dibandingkan ekspor diesel Rusia dalam kondisi kilang beroperasi normal.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Diskors Sementara Usai Tinggalkan Pemusatan Timnas Portugal

Sementara itu, analis Wood Mackenzie Jim Mitchell mengatakan pasokan tersebut bukan solusi menyeluruh, melainkan tambahan pasokan di tengah ketatnya pasar diesel.

Harga diesel menjadi perhatian pemerintah AS karena bahan bakar ini digunakan dalam sektor pertanian, pemanas rumah, dan transportasi barang. Kenaikannya juga berpotensi mendorong inflasi melalui peningkatan biaya produksi dan logistik.

Menurut kelompok otomotif AAA, harga rata-rata diesel di AS mencapai US$ 6,28 per galon pada Kamis (8/10/2026).

Angka tersebut meningkat sekitar 70% sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Setelah pengumuman kesepakatan Rusia-AS, kontrak berjangka diesel AS turun hampir 5% dan diperdagangkan pada US$ 4,64 per galon.

Sebelumnya, pemerintahan Trump telah mengambil sejumlah langkah untuk menambah pasokan, termasuk mendorong negara-negara sekutu melepas cadangan darurat dan memperluas akses terhadap diesel merah bebas pajak yang umumnya digunakan untuk peralatan pertanian.

Trump menegaskan, penurunan harga bahan bakar bagi warga AS, terutama petani, peternak, dan pengemudi truk, merupakan salah satu prioritas utamanya.

Baca Juga: Abbas Tunda Pemilu Palestina, Pilpres dan Pileg Digelar September 2027

AS pertimbangkan peningkatan produksi domestik

Di tengah tekanan harga, Trump juga dikabarkan akan mengarahkan sejumlah pejabat pemerintah untuk mencari cara mengendalikan harga diesel.

Tiga sumber industri mengatakan arahan tersebut berpotensi diterbitkan dalam beberapa hari ke depan, kemungkinan dalam bentuk memorandum presiden.

Arahan itu disebut akan mendorong pemerintah mencari cara untuk mengatasi regulasi di tingkat lokal dan negara bagian yang menghambat produksi energi.

Pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan Defense Production Act (DPA), undang-undang era Perang Dingin yang memberi presiden kewenangan untuk mendukung peningkatan produksi barang-barang penting.

Melalui DPA, pemerintah dapat memberikan pinjaman atau jaminan pinjaman untuk memperluas manufaktur domestik, serta meminta perusahaan memprioritaskan kontrak pemerintah untuk barang-barang yang dinilai penting.

Baca Juga: Verstappen Juara Sprint GP Singapura, Hujan Deras Picu Sembilan Mobil Gagal Finis

Gedung Putih sebelumnya telah mempertimbangkan penggunaan aturan tersebut untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak. Konflik dengan Iran kembali menyoroti kerentanan pasokan energi AS terhadap gangguan distribusi dan lonjakan harga.

Namun, para eksekutif industri pengolahan minyak menyampaikan kepada pejabat pemerintah bahwa dana federal akan lebih efektif digunakan untuk meningkatkan efisiensi atau memperluas kilang yang sudah ada.

Pembangunan kilang baru dinilai membutuhkan biaya lebih besar dan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan.