Trump Membuka Kemungkinan Operasi Militer Lain di Iran



KONTAN.CO.ID - FLORIDA. Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS kemungkinan akan melancarkan operasi militer lain terhadap Iran, di saat perang dengan Iran mendekati bulan kedelapan dan kenaikan harga bahan bakar mulai memengaruhi pemilihan umum paruh waktu di AS.

"Kita mungkin akan melakukan satu lagi 'Epic Fury' (operasi militer berskala besar)," ujar Trump dalam sebuah kampanye di Florida, seperti dilansir Reuters, Sabtu (24/10/2026).

Ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.


Baca Juga: Topan Champi Melintasi Taiwan, Satu Orang Tewas dan 500 Terluka

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyatakan bahwa AS sebenarnya bisa mengakhiri perang dengan cepat, namun ia mempertanyakan apakah Washington sebaiknya mengupayakan penyelesaian yang singkat atau membiarkan konflik tersebut mereda secara bertahap.

Trump, yang kerap mengubah tujuan dan jadwal terkait perang ini, dalam beberapa pernyataan kampanye baru-baru ini mengatakan bahwa perang akan segera berakhir, "bagaimanapun caranya."

Ia mengatakan bulan ini bahwa AS tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum tanggal 3 November, yang akan menentukan kendali atas Kongres—di mana Partai Republik yang diusung Trump memegang mayoritas tipis di kedua majelis.

Baca Juga: AS Meminta Musk untuk Mengubah Layanan Starlink di Ukraina dan Timur Tengah?

AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, dan Iran membalas dengan serangan terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS. Serangan AS-Israel ke Iran, ditambah serangan Israel ke Lebanon, telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi.

Perang ini telah memicu kenaikan harga minyak dan gas di seluruh dunia.

Para pejabat Iran menyatakan bahwa Teheran berencana melakukan pembalasan yang lebih luas jika perang kembali berkecamuk.

Menurut dua pejabat tinggi keamanan Iran, Teheran telah menyusun rencana terperinci untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk jika AS dan Israel kembali menyerang Iran.