Trump menang, asing ramai-ramai tarik dana



JAKARTA. Pasar modal domestik masih terhuyung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin merosot 2,22% ke 5.115,74. Dalam dua hari terakhir, indeks saham sudah anjlok 6,14%. Investor asing juga masih menjauhi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selama empat hari berturut-turut, asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp 4,76 triliun.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra memprediksi, jika masih tertekan, IHSG bisa turun lagi ke 5.043. Ini menjadi support sekaligus level fundamental IHSG sekarang. Sejatinya, tidak ada masalah dengan kondisi dan prospek ekonomi Indonesia.


"Masalah justru datang dari fundamental luar negeri," ujarnya pada KONTAN.

Ada sentimen kenaikan suku bunga The Fed atau Fed funds rate akhir tahun nanti. Lalu yang masih hangat adalah Trump Effect. Selama masa kampanye Pilpres Amerika Serikat, Trump sering melontarkan wacana kebijakan ekonomi yang cenderung membuat AS menarik diri dari lingkungan perdagangan global.

Sentimen ini dimanfaatkan pemodal asing untuk menarik dananya dari bursa lokal, di mana IHSG sudah mencetak return tertinggi ketimbang indeks bursa lainnya. "Dana-dana tersebut kembali ke AS," tambah Aditya.

Ini mengapa Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terus menanjak, sementara IHSG menyusut. Di sisi lain, price earning ratio (PER) IHSG sudah berada pada level 14,2 kali, masuk area overbought. Level ini menjadi indikasi saatnya bagi indeks untuk turun.

Nico Omer, Vice President for Research Valbury Asia Securities, menilai, sentimen positif dari dalam negeri masih minim. Apalagi, rupiah melemah. Meski Bank Indonesia memastikan terus memantau rupiah, tetap saja hal ini akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali menambahkan, indikator IHSG belakangan ini memang sudah masuk ke area overbought. Mendekati akhir tahun fund manager atau investor biasanya profit taking.

"Untuk profit taking ini, kan, harus ada alasan secara fundamental. Demo 4 November yang berakhir kisruh dan terpilihnya Trump menjadi trigger," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie