KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia diam-diam berganti pesawat di Turki bulan lalu atas arahan Secret Service AS, namun pesawat yang akhirnya dia tumpangi justru lebih rentan dibandingkan Air Force One. Mengutip
Reuters, Rabu (12/8/2026), media AS melaporkan, setelah pertemuan puncak NATO di Ankara, Trump dipindahkan dari Air Force One ke pesawat militer melalui truk katering dalam rangka pengelabuan luar biasa yang dipicu oleh ancaman pembunuhan dari Iran. Gedung Putih tidak mengungkapkan perubahan tersebut dan hal itu tetap menjadi rahasia hingga Washington Post pertama kali melaporkannya pada hari Senin.
Beberapa komentator media mempertanyakan apakah operasi tersebut membahayakan para ajudan Trump dan wartawan yang bepergian bersamanya di dalam pesawat yang dikira membawa presiden.
Baca Juga: Trump Ungkap Dua Opsi Hadapi Iran: Biarkan Ekonomi Terpuruk atau Serang Keras "Menurut saya, pesawat yang saya tumpangi justru menghadapi risiko lebih besar," kata Trump kepada wartawan pada hari Selasa. "Menurut saya risikonya lebih besar karena pesawat itulah yang kemungkinan besar akan mereka incar." Trump didampingi oleh beberapa ajudan dekat saat dia diam-diam berpindah dari Air Force One ke pesawat militer yang lebih kecil di Turki bulan lalu, lapor The Washington Post pada hari Rabu. Wakil kepala staf Gedung Putih Dan Scavino, asisten eksekutif Natalie Harp, dan direktur operasi Oval Office Walt Nauta turut serta dalam truk katering bersama Trump, beserta beberapa ajudan yang tidak terlalu menonjol, lapor Post. Tidak ada pejabat Kabinet yang bergabung dengan Trump di dalam truk tersebut, menurut surat kabar itu. Setelah seharian media sosial dipenuhi meme yang menggambarkan Trump sedang bersembunyi di dalam truk katering, sang presiden mengatakan bahwa ia hanya mengikuti arahan Secret Service, badan yang bertugas melindungi presiden. "Yah, itu sepenuhnya keputusan Secret Service. Saya hanya mengikuti apa yang ingin mereka lakukan; jadi, saya mengikuti arahan Secret Service dan militer," ujar Trump. "Sepertinya memang ada ancaman. Saya tidak terlalu banyak bertanya soal itu. Saya sering menerima banyak ancaman," kata Trump.
Saat itu, Gedung Putih menyatakan bahwa presiden sedang terbang menggunakan Air Force One dari Turki menuju Inggris. Namun, tak lama setelah naik ke pesawat tersebut, Trump diam-diam turun melalui truk katering dan beralih ke pesawat lain untuk melanjutkan perjalanan ke Inggris; demikian dilaporkan surat kabar The Post pada hari Senin, mengutip sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya.
Baca Juga: Lakukan Penerbangan Militer, Trump Naik Pesawat Rahasia dari Turki Via Truk Katering Trump sebelumnya terbang ke Ankara untuk menghadiri KTT NATO menggunakan jet sumbangan Qatar yang baru saja direnovasi, namun secara tak terduga ia mengumumkan akan menggunakan pesawat Air Force One yang lebih tua saat meninggalkan negara itu—sebuah langkah yang memicu pertanyaan mengenai aspek keamanan pesawat yang lebih baru tersebut. Perjalanan ke KTT NATO itu merupakan penerbangan internasional perdana bagi pesawat baru tersebut—yang proses peningkatan fasilitasnya yang cepat sempat memicu pertanyaan soal biaya dan keamanannya—dan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, negara yang berbatasan langsung dengan Turki.