KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesabarannya terhadap Iran mulai menipis di tengah berlanjutnya konflik yang memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global dan keamanan jalur pelayaran internasional. Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis di Beijing. Dalam pembicaraan tersebut, kedua pemimpin disebut sepakat mengenai pentingnya menjaga keterbukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Gedung Putih menyatakan bahwa Trump dan Xi sepakat jalur strategis tersebut harus tetap terbuka di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Sebelumnya, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, sehingga memicu gangguan besar terhadap distribusi energi global. China diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran dan menjadi pembeli utama minyak Iran. Oleh karena itu, keterlibatan Beijing dipandang penting dalam upaya meredakan konflik dan menjaga stabilitas perdagangan energi dunia.
Baca Juga: Laba Emiten Blue-Chip Eropa Diproyeksi Catat Pertumbuhan Tertinggi Sejak 2022 Dalam wawancara dengan program “Hannity” di Fox News, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan bersabar lebih lama terhadap Iran. “Saya tidak akan jauh lebih sabar lagi,” kata Trump. “Mereka harus membuat kesepakatan.” Trump juga menyinggung soal stok uranium yang diperkaya milik Iran. Menurutnya, penguasaan stok uranium oleh Amerika Serikat lebih penting dari sisi pencitraan publik dibanding kebutuhan strategis. “Saya rasa itu tidak diperlukan kecuali dari sudut pandang hubungan masyarakat,” ujar Trump. “Sebenarnya saya hanya akan merasa lebih baik jika saya mendapatkannya. Tetapi saya pikir itu lebih untuk kepentingan pencitraan publik daripada hal lainnya,” lanjutnya.
Ketegangan di Jalur Pelayaran Meningkat
Situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz kembali memanas setelah sejumlah insiden maritim terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sebuah kapal kargo India yang mengangkut ternak dari Afrika menuju Uni Emirat Arab dilaporkan tenggelam di perairan Oman pada Rabu. Pemerintah India mengecam serangan tersebut dan menyatakan seluruh 14 awak kapal berhasil diselamatkan oleh penjaga pantai Oman. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard, menyebut kapal itu diduga terkena serangan rudal atau drone yang memicu ledakan. Di insiden terpisah, badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan adanya “personel tak berwenang” yang menaiki kapal berlabuh di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, lalu mengarahkannya menuju Iran. Vanguard menyebut petugas keamanan perusahaan kapal melaporkan bahwa kapal tersebut “diambil alih oleh personel Iran saat sedang berlabuh.”
Baca Juga: Produsen Jack Daniel's Tolak Tawaran Akuisisi US$ 15 Miliar dari Rivalnya Sazerac China Tolak Militerisasi Selat Hormuz
Usai pembicaraan Trump dan Xi, Gedung Putih menyatakan Xi menegaskan penolakan China terhadap militerisasi Selat Hormuz maupun upaya mengenakan tarif atas penggunaan jalur pelayaran tersebut. Trump juga mengklaim Xi berjanji tidak akan mengirimkan peralatan militer kepada Iran. “Dia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer, itu pernyataan yang besar,” kata Trump. Selain itu, Xi disebut tertarik meningkatkan pembelian minyak Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan China terhadap jalur Selat Hormuz di masa depan. Gedung Putih juga menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Namun, Teheran selama ini membantah tengah mengembangkan senjata tersebut.
Diplomasi Masih Buntu
Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik hingga kini masih mengalami kebuntuan. Pekan lalu, Iran dan Amerika Serikat saling menolak proposal terbaru masing-masing terkait penyelesaian perang dan program nuklir Teheran. Washington meminta Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya dan menghentikan pengayaan lebih lanjut. Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi, kompensasi atas kerusakan perang, serta pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz. Sementara itu, Iran dilaporkan mulai membuat kesepakatan terbatas dengan sejumlah negara agar kapal tertentu dapat melintas di Selat Hormuz sesuai syarat dari Teheran. Sebuah tanker Jepang berhasil melintas pada Rabu setelah Perdana Menteri Jepang meminta bantuan Presiden Iran. Kapal tanker besar asal China juga dilaporkan berhasil melewati jalur tersebut.
Baca Juga: Stellantis dan Dongfeng Teken Kerja Sama Produksi Mobil Peugeot dan Jeep di China Media Iran, Fars News Agency, menyebut telah tercapai kesepakatan untuk mengizinkan sebagian kapal China melintas. Korps Garda Revolusi Iran mengklaim sebanyak 30 kapal telah melewati Selat Hormuz sejak Rabu malam. Meski masih jauh di bawah rata-rata 140 kapal per hari sebelum perang, angka tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas pelayaran.
Menurut perusahaan analitik pelayaran Kpler, sekitar 10 kapal melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, dibandingkan hanya lima hingga tujuh kapal per hari dalam beberapa pekan sebelumnya.
AS Klaim Ancaman Iran Mulai Melemah
Di tengah konflik yang berkepanjangan, seorang laksamana senior Amerika Serikat mengatakan kemampuan Iran mengancam negara-negara tetangga dan kepentingan AS di kawasan telah “menurun secara signifikan.” “Mereka tidak lagi mengancam mitra regional atau Amerika Serikat seperti yang sebelumnya mampu mereka lakukan, di seluruh bidang,” kata Laksamana Brad Cooper di hadapan komite Senat AS. Meski demikian, Cooper tidak secara langsung menanggapi laporan sejumlah media internasional yang menyebut Iran masih memiliki kemampuan rudal dan drone dalam jumlah signifikan.