Trump Mulai Kehilangan Kesabaran terhadap Iran, Tekan Teheran Segera Berdamai



​KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku mulai kehilangan kesabaran terhadap Iran di tengah mandeknya upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump usai bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing, Kamis (14/5/2026).

Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin sepakat pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas pelayaran internasional.


Baca Juga: Kadin Soroti Surat Pengusaha China, Investor Kini Makin Sensitif pada Kepastian Usaha

“Kesabaran saya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Mereka seharusnya membuat kesepakatan,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News dilansir Reuters.

Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah sebuah kapal dilaporkan disita personel Iran di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).

Sebelumnya, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari lalu.

Penutupan jalur strategis tersebut memicu gangguan besar terhadap distribusi energi global. Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi Selat Hormuz.

Gedung Putih menyebut, Trump dan Xi sepakat bahwa jalur pelayaran itu harus tetap dibuka. Xi juga disebut menegaskan penolakannya terhadap militerisasi Selat Hormuz maupun upaya mengenakan tarif bagi kapal yang melintas.

Baca Juga: Yield Obligasi AS Tembus Level Tertinggi 11 Bulan, Antisipasi Suku Bunga The Fed

Trump mengatakan, Xi turut berjanji tidak akan memasok peralatan militer ke Iran.

“Dia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer. Itu pernyataan besar,” kata Trump.

Selain itu, Xi disebut tertarik meningkatkan pembelian minyak asal AS guna mengurangi ketergantungan China terhadap pasokan energi Timur Tengah.

Kedua pemimpin juga sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, meskipun Teheran membantah sedang mengembangkan senjata tersebut.

Sementara itu, negosiasi antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu. Iran menolak menghentikan program nuklirnya maupun menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya.

Baca Juga: AS Sebut China Belum Sepenuhnya Longgarkan Ekspor Rare Earth

Di sisi lain, AS disebut masih menekan Iran melalui blokade pelabuhan meski serangan langsung telah dihentikan sejak bulan lalu.

Ketegangan di kawasan turut berdampak pada keamanan pelayaran internasional. Sebuah kapal kargo India yang membawa ternak dari Afrika menuju UEA dilaporkan tenggelam di perairan Oman pada Rabu (13/5). India menyebut seluruh awak berhasil diselamatkan oleh penjaga pantai Oman.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard menduga kapal tersebut terkena serangan rudal atau drone yang memicu ledakan.

Selain itu, badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan adanya personel tak dikenal yang menaiki sebuah kapal di dekat pelabuhan Fujairah, UEA, dan mengarahkannya menuju wilayah Iran.

Meski demikian, Iran mulai memberi akses terbatas bagi sejumlah kapal asing untuk melintas di Selat Hormuz dengan syarat tertentu.

Baca Juga: Bursa Asia Tergelincir saat Imbal Hasil AS Tembus Level Tertinggi dalam Setahun

Kapal tanker Jepang dan China dilaporkan berhasil melintas dalam beberapa hari terakhir setelah adanya komunikasi diplomatik dengan Teheran.

Pengawal Revolusi Iran mengklaim sebanyak 30 kapal telah melewati Selat Hormuz sejak Rabu malam, meski angka itu masih jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum perang berlangsung.