Trump Peringatkan Inggris soal China, Starmer Tetap Dorong Kerja Sama Ekonomi



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/BEIJING. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Inggris agar berhati-hati dalam mempererat hubungan bisnis dengan China. 

Peringatan itu muncul di tengah kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke Beijing, yang justru memuji manfaat ekonomi dari upaya “reset” hubungan Inggris–China.

Menanggapi pertanyaan wartawan di Washington terkait langkah Inggris mendekat ke Beijing, Trump menyebut langkah tersebut berisiko. “Itu sangat berbahaya bagi mereka,” kata Trump singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut, saat menghadiri pemutaran perdana film Melania di Kennedy Center.


Pernyataan Trump kontras dengan sikap Starmer yang tengah melakukan kunjungan resmi ke China. Dalam pertemuan selama tiga jam dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis (29/1/2026), Starmer menyerukan hubungan yang “lebih canggih” antara kedua negara. 

Baca Juga: Lawatan Prabowo ke Inggris Diharapkan Tingkatkan Kerja Sama Dagang Kedua Negara

Ia mendorong peningkatan akses pasar, penurunan tarif, serta kesepakatan investasi, di samping membahas topik ringan seperti sepak bola dan karya sastra Shakespeare.

Di hadapan UK-China Business Forum di Beijing, Starmer menyebut pertemuannya dengan Xi berlangsung sangat hangat dan menghasilkan kemajuan nyata. 

“Inggris punya banyak hal untuk ditawarkan,” ujarnya. 

Ia juga menyoroti kesepakatan bebas visa dan penurunan tarif wiski sebagai capaian penting. “Ini simbol bagaimana kami membangun kepercayaan dan saling menghormati,” tegas Starmer.

Kunjungan Starmer ke China terjadi di tengah kegelisahan sejumlah negara Barat menghadapi kebijakan Trump yang kerap berubah-ubah, terutama terkait perdagangan. 

Baca Juga: China dan Korea Selatan Tandatangani Perjanjian Ekonomi dan Swap Valuta Asing

Sebelumnya, Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap Kanada setelah Perdana Menteri Mark Carney menandatangani kesepakatan ekonomi dengan China.

Meski demikian, Starmer menegaskan Inggris tidak harus memilih antara Amerika Serikat atau China. Ia menekankan hubungan Inggris–AS tetap sangat kuat, mencakup bidang pertahanan, keamanan, intelijen, dan perdagangan. 

“Hubungan kami dengan Amerika Serikat adalah salah satu yang paling dekat,” kata Starmer kepada wartawan dalam penerbangan menuju China.

Starmer juga mengingatkan bahwa pada September lalu, kunjungan Trump ke Inggris menghasilkan komitmen investasi AS senilai 150 miliar pound sterling. Menurutnya, hal itu membuktikan hubungan dengan Washington tetap terjaga meski Inggris membuka peluang kerja sama dengan Beijing.

Namun, sikap Starmer terhadap Trump belakangan terlihat lebih tegas. Ia sempat mendesak Trump meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap menghina pasukan NATO, serta menolak tuntutan Trump terkait upaya aneksasi Greenland.

Baca Juga: PM China Tawarkan Kerja Sama Lebih Dekat dengan Jerman di Industri Strategis

Sementara itu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick meragukan upaya Inggris memperluas ekspor ke China akan membuahkan hasil. “China adalah eksportir terbesar dan sangat sulit ditembus sebagai pasar ekspor,” ujarnya. 

Meski begitu, Lutnick menilai kecil kemungkinan Trump akan mengancam Inggris dengan tarif, selama London tidak secara terbuka menantang Amerika Serikat.

Selain Inggris, sejumlah pemimpin Eropa juga aktif mendekati Beijing. Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berkunjung ke China pada Desember lalu, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz dijadwalkan menyusul dalam waktu dekat.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Inggris dan Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump tersebut.

Selanjutnya: Cek Proyeksi IHSG Pasca Pengunduran Diri Dirut BEI Iman Rachman

Menarik Dibaca: Film Surat untuk Masa Mudaku Tayang di Netflix, Ini Cerita Para Pemainnya