Trump Mundur! Perpanjang Gencatan Senjata Iran, Ada Apa di Balik Keputusan Ini?



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa ia akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, beberapa jam sebelum gencatan senjata itu dijadwalkan berakhir, agar kedua negara dapat melanjutkan pembicaraan damai untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang perekonomian global.

Mundur dari ancaman kekerasan baru yang ia lontarkan sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia menyetujui permintaan Pakistan, yang menjadi mediator pembicaraan damai dalam perang yang telah berlangsung tujuh pekan itu, “untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat menyusun sebuah proposal yang terpadu.”

Mengutip Reuters, pengumuman Trump tampak dilakukan secara sepihak, dan belum jelas apakah Iran, maupun sekutu AS Israel, akan menyetujui perpanjangan gencatan senjata yang dimulai dua pekan lalu itu. Trump juga mengatakan ia akan tetap melanjutkan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang.


Belum ada komentar langsung dari para pemimpin tertinggi Iran. Namun, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan kembali mengulang ancaman untuk mematahkan blokade AS dengan kekuatan.

Seorang penasihat negosiator utama Iran, yakni Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan pengumuman Trump tidak memiliki bobot besar.

“Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump jelas merupakan tipu muslihat untuk membeli waktu demi serangan mendadak,” kata Mahdi Mohammadi, penasihat ketua parlemen, dalam sebuah pernyataan di media sosial, sambil menyebut blokade AS sebagai agresi militer yang masih berlangsung. “Saatnya Iran mengambil inisiatif telah tiba.”

Baca Juga: Siapa 10 Orang Terkaya ASEAN Akhir April 2026? Cek Taipan yang Duduk di Puncak

Trump mengatakan ia akan memperpanjang gencatan senjata sampai “proposal Iran diserahkan, dan pembicaraan diselesaikan, dengan satu cara atau cara lainnya.”

Ini menjadi contoh terbaru Trump mundur pada detik-detik terakhir dari ancaman berulangnya untuk mengebom setiap pembangkit listrik di Iran. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan pihak lain mengecam ancaman tersebut, dengan menegaskan bahwa hukum humaniter internasional melarang serangan yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil.

Trump, yang bersama Israel meluncurkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, mengatakan ia memutuskan memperpanjang gencatan senjata karena “pemerintah Iran sedang terpecah secara serius, dan itu tidak mengejutkan,” merujuk pada pembunuhan sejumlah pemimpin negara itu oleh AS dan Israel, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang telah wafat dan kini digantikan oleh putranya.

Blokade AS menjadi titik sengketa ketika kedua negara dalam pekan ini bimbang apakah akan mengirim negosiator ke putaran kedua pembicaraan damai di Islamabad, ibu kota Pakistan.

Perpanjangan gencatan senjata ini diumumkan hanya beberapa jam setelah Trump mengatakan ia tidak berniat melanjutkan gencatan senjata sementara dan bahwa militer AS “siap tempur.” Ia mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara bahwa AS berada dalam posisi negosiasi yang kuat dan akan memperoleh apa yang ia sebut sebagai “kesepakatan besar.”

Tonton: RI Bidik Impor Plastik Dari Malaysia Dampak Krisis Global?

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengucapkan terima kasih kepada Trump melalui pernyataan di media sosial karena “dengan murah hati menerima permintaan kami untuk memperpanjang gencatan senjata agar upaya diplomatik yang sedang berjalan dapat terus berlangsung.”

“Saya sungguh berharap kedua pihak akan terus mematuhi gencatan senjata dan mampu menyelesaikan ‘Kesepakatan Damai’ yang komprehensif dalam putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad demi mengakhiri konflik secara permanen,” tulis Sharif.

Namun, belum jelas kapan, atau apakah, putaran kedua pembicaraan itu akan dijadwalkan.