Trump Perpanjang Jeda Serangan ke Iran, Klaim Negosiasi Berjalan Baik



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan memperpanjang jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga April 2026, di tengah klaim bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik berjalan positif.

Melansir Reuters Jumat (27/3/2026), Trump menyebut proses negosiasi dengan Iran berlangsung “sangat baik”, meskipun pihak Teheran menilai proposal damai dari Amerika Serikat bersifat sepihak dan tidak adil.

Perang yang telah berlangsung hampir empat pekan ini telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, menewaskan ribuan orang dan mengguncang perekonomian global.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Jumat (27/3) Pagi: Brent US$ 107,11 & WTI ke US$ 93,65

Lonjakan harga energi akibat konflik tersebut juga memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara.

Sebelumnya, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, setelah perundingan terkait program nuklir Teheran gagal mencapai kesepakatan.

Dalam pernyataannya, Trump sempat mengancam akan meningkatkan tekanan jika Iran tidak menyetujui kesepakatan.

Namun, ia kemudian mengumumkan penangguhan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April 2026.

“Pembicaraan masih berlangsung dan berjalan sangat baik, meskipun ada pernyataan yang menyesatkan,” ujar Trump melalui akun media sosialnya.

Meski demikian, Iran menegaskan tidak sedang melakukan negosiasi langsung dengan Washington.

Baca Juga: Tanda Tangan Trump Akan Muncul di Uang Dolar AS, Akhiri Tradisi 165 Tahun

Seorang pejabat Iran menyebut proposal 15 poin dari AS hanya mengakomodasi kepentingan Amerika Serikat dan Israel.

Di tengah klaim kemajuan diplomasi, situasi di lapangan masih memanas. Iran terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara Teluk.

Konflik ini juga berdampak besar terhadap jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Gangguan tersebut telah mendorong harga minyak naik sekitar 40%, sementara harga gas alam cair (LNG) dan pupuk berbasis nitrogen juga melonjak tajam.

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan ke Timur Tengah guna memperkuat opsi militer.

Pentagon juga mengonfirmasi penggunaan kapal cepat tanpa awak (drone speedboats) dalam operasi di kawasan tersebut.

Baca Juga: Kapal Thailand Kandas di Iran Usai Diserang di Selat Hormuz, 3 Awak Hilang

Trump kembali menegaskan bahwa AS akan meningkatkan tekanan jika Iran tidak memenuhi tuntutan, termasuk membuka kembali jalur Selat Hormuz dan menghentikan program nuklirnya.

Sementara itu, Iran tetap pada posisinya dengan menuntut jaminan tidak ada serangan lanjutan, kompensasi atas kerugian, serta keterlibatan pihak lain dalam kesepakatan gencatan senjata.

Di tengah ketegangan tersebut, serangan rudal dan drone masih terus terjadi di berbagai titik, termasuk di Tel Aviv dan sejumlah wilayah di Iran, menandakan bahwa jalan menuju perdamaian masih penuh ketidakpastian.